Lifestyle

Gina Ruthfefiliana Ginting Terbiasa Beradaptasi dengan Lingkungan Baru

Lahir dari keluarga berkecukupan, tidak lantas membuat Gina Ruthfefiliana Ginting terbiasa hidup manja. Sebagai cucu tertua pengusaha besar di Kota Pematangsiantar, almarhum Kurnia Ginting, Gina justru sejak kecil telah diajarkan untuk hidup mandiri, dan senantiasa siap beradaptasi dengan lingkungan baru.

Lulus dari Sekolah Dasar (SD), Gina yang lebih dekat dengan kakek dan neneknya, dikirim untuk bersekolah di Jakarta. Namun belum lulus SMP, yakni saat di kelas 3, sang kakek justru membawanya kembali ke Pematangsiantar. Gina pun melanjutkan sekolahnya di Madrasah Tsanawiyah (MTsN) Jalan Sipirok Pematangsiantar.

Lulus dari MTsN, Gina kembalikan dikirim keluar kota. Kali ini, sang kakek menyekolahkannya di Muhammadiyah 1 Jogjakarta. Dua tahun kemudian, Gina kembali ke Pematangsiantar karena neneknya meninggal. Sekolahnya pun dilanjutkan ke Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Pematangsiantar.

Gina lulus dari MAN tahun 1998. Setahun kemudian, ia baru mulai kuliah. Pilihannya jurusan Teknik Arsitektur Institut Teknologi Medan (ITM). Di Medan, Gina tinggal di rumah kos dan berjalan kaki menuju kampus.

“Kalau teman-teman di Siantar, pasti banyak yang mengenal saya anak dan cucu siapa. Tapi di Medan, saya sama sekali tidak pernah cerita kepada teman-teman tentang latar belakang keluarga saya,” terang sulung dari tujuh bersaudara ini.

Bahkan, suami dan keluarga suaminya pun baru mengetahui siapa kakek Gina pada saat acara lamaran.

“Saat rombongan mereka sudah sampai di rumah, barulah tahu siapa kakek saya. Ya, karena saya memang tidak pernah cerita latar belakang dan keluarga saya, terutama atok (kakek, red),” sebut wanita berkulit putih ini.

Alasannya, Gina ingin teman ataupun pacar yang tulus dan menerima dirinya apa adanya.

Belum lulus kuliah, di tahun 2003 saat itu tinggal sidang skripsi, Gina memutuskan cuti dan merantau ke Batam. Di Batam, Gina mengikuti suami, dan bekerja di perusahaan properti.

Dua tahun kemudian, karena melahirkan putri pertamanya, Gina berhenti bekerja sekaligus menyelesaikan kuliah. Barulah, di tahun 2007 Gina kembali bekerja.

Karir Gina terbilang bagus. Hingga ia bisa menduduki posisi kepala divisi (kadiv) produksi di perusahaan properti besar dan ternama di Batam. Gina dan timnya mengerjakan banyak proyek besar, bahkan hingga ke Singapura.

Namun karena sesuatu hal, di tahun 2011 Gina mengambil keputusan besar dalam hidupnya, yang membuatnya meninggalkan Batam dan kembali ke kota kelahirannya, Pematangsiantar.

Hanya sekitar dua bulan dia menetap di Kota Pematangsiantar. Selanjutnya Gina bekerja sebagai Spv Area Pay TV Kota Binjai dan Langkat.

Tahun 2012, Gina dan suami, Enndy Arwin memulai bisnis properti. Kebetulan sang suami, berprofesi sebagai konsultan arsitektur serta kontraktor bangunan dan sipil.

Menjelang Pemilu dan Pemilihan Presiden tahun 2019, ada beberapa partai politik (parpol) di Pematangsiantar mengajak Gina bergabung. Namun Gina yang tidak terlalu mengikuti perkembangan politik, tidak berminat. Ia justru tertarik ketika diajak untuk mengikuti seleksi penerimaan anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU).

“Kebetulan almarhum papa, Kusma Erwin Ginting, yang dalam kondisi sakit saat itu, meminta saya tinggal di Siantar saja,” sebut ibu dua anak ini, yaitu Ayla Aurellie Fefiliana (14) dan Allariec Abinaya Arfel (6).

Atas support dari orang-orang terdekat, Gina mengikuti berbagai tahapan seleksi penerimaan anggota KPU. Salah seorang mentornya, mantan anggota KPU Provinsi Sumatera Utara, Nazir Salim Manik.

“Banyak bahan yang diberikan bang Nazir untuk saya pelajari. Tapi tak semua bisa saya baca karena waktunya hanya dua hari,” ujar Gina yang aktif di Serikat Petani Indonesia (SPI).

Hasilnya, dari lima orang yang terpilih menjadi anggota KPU Pematangsiantar, Gina berada di urutan keempat.

Di KPU Pematangsiantar, Gina yang berada di Divisi Teknis Penyelenggara mengerjakan tugas tanpa beban. Apalagi, semua tahapan sudah diatur di dalam Undang-undang (UU) dan Peraturan KPU RI.

“Kami juga harus siap ditempatkan di divisi mana saja. Intinya, jalani tugas tanpa banyak mengeluh,” kata wanita yang menetap di Jalan Padangsidimpuan ini.

Di awal-awal menjadi anggota KPU, Gina tinggal terpisah dengan suami dan anak-anak. Gina di Pematangsiantar, sedangkan keluarganya masih di Medan, karena anak-anaknya masih sekolah di sana.

Setelah tahun ajaran baru sekolah, atau Juni 2019, barulah anak-anak dan suaminya pindah ke Pematangsiantar. Namun, beberapa kali dalam sebulan suami keluar kota karena pekerjaan.

Di tengah kesibukannya usai pelaksanaan Pemilu 2019, Gina harus mengikhlaskan kepergian ayahandanya Kusma Erwin Ginting, tepatnya pertengahan tahun 2019. Masih dalam suasana duka, tujuh hari setelah kepergian ayahnya, tugas negara menanti. Gina harus berangkat ke Jakarta sebagai Kordiv Teknis ke Jakarta untuk mempersiapkan berkas gugatan di Mahkamah Konstitusi (MK). Saat itu ia berangkat bersama Kordiv Hukum dan Pengawasan KPU Pematangsiantar.

“Saya tetap berangkat ke Jakarta, tidak mengutus pengganti saya untuk berangkat walaupun dalam kondisi masih berduka dan drop,” jelas pengagum mantan Presiden BJ Habibie ini.

“Makanya, kalau ada waktu luang, saya sempatkan untuk quality time dengan suami dan anak-anak,” tandas Gina yang hobi membaca, mendengarkan musik, jalan-jalan, menonton National Geographic dan film-film action ini. (awa)

Tags

Berita lainnya

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker
Close