Lifestyle

Fitrini dari Pemalu, Justru Kini Mentor Public Speaking

Tak semua orang mampu berbicara di depan publik atau khalayak ramai (public speaking). Berbagai kendala muncul saat akan mulai bicara, seperti grogi, gemetaran, takut salah bicara, dan lainnya.

Namun semua itu bisa dihadapi dengan terus berlatih dan mengikuti mentoring. Dari yang pemalu, menjadi bisa memiliki kemampuan public speaking yang mumpuni. Bahkan bisa menjadi mentor khusus untuk public speaking.

Seperti yang dialami Fitrini. Gadis yang lahir di Kota Pematangsiantar, 15 April 1991 ini kini merupakan mentor public speaking yang profesional. Awalnya ia bergabung dengan sesi motivator terkenal, Merry Riana, di Jakarta. Bahkan ia menjadi salah seorang trainer Merry Riana selama sekitar setahun.

“Sempat mengajarkan smart learning untuk anak-anak di Merry Riana. Lalu, sekitar delapan bulan kemudian, saya dipercaya sebagai branch leader untuk wilayah Jakarta Barat,” terang alumni SMA Kalam Kudus Pematangsiantar ini.

Mei 2019, Fitri memutuskan resign dari Merry Riana. Sejak itu, dengan kemampuan dan pengalaman yang dimilikinya, Fitri tetap menjadi mentor public speaking yang ‘bebas’.

Buah hati dari pasangan suami istri Tjioe Kasno dan Lina Lie ini mulai mengajar public speaking di berbagai instansi, baik pemerintah maupun swasta.

“Di kantor-kantor dan juga private, saya mengajar public speaking dan communication skill,” tukas cewek yang hobi membaca ini.

Fitri mengaku, sebenarnya dulu ia pemalu, minder, dan tidak percaya diri. Jika ada kegiatan di sekolah atau gereja, ia lebih sering berperan di belakang layar.

Lulus SMA, ia melanjutkan kuliah di Professional Management College Indonesia (PMCI) Medan. Di Medan, ia tak hanya kuliah, namun sambil bekerja di bank swasta sebagai staf marketing.

Lulus kuliah, Fitri malah memilih merantau ke Jakarta. Di ibukota negara Indonesia itu, bungsu dari dua bersaudara itu sempat bekerja sebagai konsultan di salah satu company coaching. Sebelum kemudian ia bergabung bersama Merry Riana.

Diterangkan Fitri, saat mentoring, ia mengajarkan cara berbicara yang benar dan juga bahasa tubuh dengan tujuan tumbuh rasa percaya diri.

“Public speaking bukan hanya dibutuhkan untuk bidang entertainment. Tapi merupakan modal sumber daya manusia atau SDM. Banyak bidang pekerjaan yang membutuhkan kemampuan public speaking. Misalnya marketing. Termasuk juga untuk presentasi,” jelas Fitri yang sudah beberapa kali membuka sesi public speaking di Pematangsiantar.

“Awalnya hanya untuk anak. Tapi kemudian banyak orangtua yang juga minta. Padahal awalnya saya sempat mengira apakah sesi yang saya buka bisa mendapat sambutan dari warga Siantar,” sambung Fitri yang ingin menggelar event besar untuk kelas public speaking di Pematangsiantar.

Sebagai mentor ‘bebas’ Fitri menyusun modul pengajaran sendiri. Ia menyusun berdasarkan pengalaman dirinya sendiri dan berbagai teori.

Masih kata Fitri, di kelas public speaking, juga diajarkan attitude dan pengembangan karakter. Seperti menanamkan agar terbiasa mengucapkan terima kasih, meminta maaf, dan minta tolong.

Pasca membuka kelas public speaking di Pematangsiantar, Fitri mengaku ada orangtua yang merasa takjub dengan perubahan anaknya.

“Anak yang sebelumnya lebih banyak diam, berubah menjadi mampu berkomunikasi. Bahkan ada anak yang sangat bersemangat dan ingin ikut lagi. Melihat reaksi seperti itu, saya pun semakin bersemangat mengembangkan kelas public speaking di Pematangsiantar,” sebut Fitri lagi. (awa)

Unefa

Pascasarjana

Tags

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker
Close