Lifestyle

Fikry ‘Wak Black’ Kopi Membawanya hingga ke Australia

FaseBerita.ID – Dari kopi, Fikry Azda ‘Din bisa menginjakkan kaki di Sydney, Australia. Pria yang lebih akrab disapa Wak Black ini menjadi perwakilan Indonesia di ajang kompetisi barista Aeropress Championship tingkat internasional.

Ya, Fikry memang berprofesi sebagai barista atau pembuat minuman kopi di Mo Coffee Pematangsiantar. Fikry yang menjadi barista dari ketekunannya belajar itu, mengaku banyak mendapat ilmu dari founder Mo Coffee, Ricky Sigalingging.

Fikry menceritakan awalnya dia bisa ‘terjun’ menjadi barista. Semuanya, kata dia, dari ketidaksengajaan. Beberapa tahun lalu, selepas lulus SMK, Fikry ke Medan untuk mengikuti seleksi penerimaan mahasiswa baru di perguruan tinggi negeri (PTN). Suatu hari, dia nongkrong di salah satu kafe di Jalan Setia Budi Medan. Dia pesan kopi yang menurut dia namanya sangat asing.

Ketika kopi tersebut diantar pelayan, Fikry terkejut. Sebab yang ada di dalam pikirannya, kopi itu ya berwarna hitam, diberi gula, dan diseduh air panas.

“Kebetulan ayah penikmat kopi. Tiap hari minum kopi. Kami anak-anaknya sejak kecil sudah diajak minum kopi. Di rumah pun sering disuruh ayah bikin kopi,” terang sulung dari empat bersaudara itu.

Fikry penasaran. Dia pun bertanya kepada pelayan kafe tentang kopi tersebut. Ternyata ada banyak dan macam-macam sajian kopi. Tak puas, Fikry berselancar di dunia maya.

“Ternyata kopi itu ada kelasnya, komersil, premium, dan specialty coffee,” tukas alumni SMK Yayasan Perguruan Teladan Pematangsiantar itu.

Kelas yang terakhir, yaitu specialty coffee, katanya, memang diperlakukan secara spesial, mulai dari pertanian hingga penyajiannya.

Di Medan, Fikry mulai belajar banyak tentang kopi, termasuk cara penyajiannya. Karena sudah jatuh cinta dengan kopi, Fikry tidak peduli lagi dengan hasil seleksi penerimaan mahasiswa di PTN. Padahal dia lulus di salah satu fakultas di Universitas Sumatera Utara (USU).

“Nggak diambil. Udah lebih mau fokus di kopi,” tukas Fikry.

Saat itu, kata Fikry, ayahnya Syafii tidak keberatan. Bagi sang ayah, yang penting pilihan anaknya masih positif. Sedangkan ibunya, Diah Dwi Aryani, agak kecewa dengan keputusan Fikry.

“Ayah lebih demokratis. Dia paham anaknya nggak bisa dipaksa,” sebut Fikry yang karena aktif di kegiatan Pramuka sempat bercita-cita menjadi polisi atau tentara ini.

Kembali ke Pematangsiantar, Fikry sudah mengantongi pengetahuan tentang kopi dan keahlian sebagai barista. Ia sempat bekerja di salah satu kafe di Jalan Brigjend Radjamin Purba.

Tak lama, ia bertemu Ricky yang berniat membuka kafe dengan menu utama specialty coffee. Gayung bersambut. Fikry senang. Apalagi, Ricky yang pernah mengikuti pendidikan barista di Jakarta, bersedia berbagi ilmu dengan Fikry.

Kafe yang dibuka Ricky, bernama Mo Coffee, bertempat di Jalan Toba Pematangsiantar. Bergabung di Mo Coffee, Fikry merasa menemukan dunianya. Dia semakin fokus dengan profesinya sebagai barista. Apalagi, kemudian dia bisa menjuarai kompetisi barista tingkat nasional.

Awalnya, Fikry mengikuti Indonesia Aeropress Championship Regional Barat di Medan. Saat itu, Fikry hanya bisa melaju hingga babak semifinal. Meski begitu, dia tetap berhak mengikuti kompetisi tingkat nasional di Jakarta.

Di Jakarta, Fikry bersaing dengan para peserta yang berasal dari seluruh Indonesian. Tanpa beban, Fikry mengikuti kompetisi tersebut, hingga akhirnya dia dinyatakan sebagai pemenang. Hadiahnya, mengikuti kompetisi tingkat internasional di Sydney, Australia.

“Di Sydney, kompetisi diikuti para barista dari 60-an negara. Sayangnya, saya belum menang. Hanya masuk sembilan besar. Tapi itu pun saya sudah sangat bersyukur, bisa melangkah sampai sejauh itu,” terang Fikry yang sudah memiliki sertifikat barista dari Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf).

“Saat itu acara dari Bekraf digelar di Hotel Serenauli, Laguboti, Tobasa. Pesertanya banyak. Tujuan kegiatan itu agar para barista di daerah bisa tetap update,” tambah Fikry, yang saat di SMK mengambil jurusan Rekayasa Perangkat Lunak.

Selama di Sydney, Fikry mengaku banyak memeroleh pengalaman, khususnya tentang kopi. Di sana, katanya, sangat mudah menemukan orang-orang berjalan sambil menikmati kopi dalam cup.

Bahkan, antrean pembeli di booth kopi bisa sangat panjang.

“Itu di stasiun kereta api. Saya pikir orang-orang antre mau beli tiket, ternyata mau beli kopi,” tukas anak muda yang hobi membaca ini.

Ke depan, Fikry yang sudah mendapat dukungan juga dari sang ibu atas pilihan profesinya, ingin tetap menekuni profesinya. Ia pun berencana mengikuti pendidikan. Ia ingin naik kelas.

“Dari barista, saya ingin naik kelas sebagai roaster. Kalau barista hanya menyajikan kopi, sedangkan roaster memanggang kopi sendiri,” ujar pria yang merasa yakin industri kopi akan terus berkembang.

Profesi barista, bagi Fikry memiliki tantangan tersendiri. Barista, katanya, adalah tangan terakhir dari penyajian kopi. Sebagus apapun pertanian dan proses kopi, bisa rusak jika baristanya tidak profesional.

Pemuda kelahiran 15 Juli 1997 ini sangat ingin bisa mengampanyekan specialty coffee di Pematangsiantar. Juga mengedukasi masyarakat tentang perbedaan kopi komersil atau premium dengan specialty coffee.

“Saya ingin ada seperti Fun Cupping di Siantar ini. Di situ kita sajikan beragam kopi, termasuk kopi lokal dan kopi impor. Biar masyarakat bisa langsung merasakan perbedaannya,” tandas Fikry yang juga ingin mengikuti kompetisi barista yang lebih berat. (awa)



Pascasarjana

Unefa
Back to top button