Lifestyle

Ervina Siregar: Dulu Cari-cari Murid, kini Punya Rumah Belajar

FaseBerita.ID – Rumah Belajar Miss Vina yang berlokasi di Jalan Toba Pematangsiantar selalu ramai siswa-siswi setiap sore hingga malam. Hampir seratusan anak mengikuti bimbingan belajar di tempat itu, mulai Senin hingga Jumat.

Rumah belajar itu sendiri, didirikan Ervina Siregar yang akrab disapa Miss Vina. Ia menceritakan awal berdirinya rumah belajar yang siswa-siswinya mayoritas dari sekolah favorit di Pematangsiantar itu.

Menurut alumni Universitas Sisingamangaraja XII Tapanuli Utara (Unita) ini, berdirinya rumah belajar diawali kepindahan Vina dan keluarganya dari Porsea, Toba Samosir (Tobasa) ke Pematangsiantar. Saat itu tahun 2016, putri sulungnya Nadya Sitanggang diterima di SMP Budi Mulia Pematangsiantar. Kebetulan, orangtua Vina juga baru pindah ke Pematangsiantar, setelah ayahnya pensiun dari PT Toba Pulp Lestari (TPL).

“Karena Nadya diterima di sekolah di Siantar, akhirnya saya memutuskan ikut pindah ke Siantar juga. Jadilah, kelima adik Nadya saya bawa pindah,” Vina, yang berharap dengan kepindahannya dari Porsea ke Pematangsiantar bisa memberikan pendidikan dan sekolah yang terbaik kepada anak-anaknya.

Di tempat baru, Vina dan anak-anaknya tinggal di rumah orangtuanya di Jalan Sipahutar. Tanpa kegiatan atau pekerjaan, ‘memaksa’ Vina berpikir keras bagaimana bisa memeroleh penghasilan, terutama untuk membiayai pendidikan anak-anaknya. Bermodalkan Sarjana Pendidikan (SPd) matematika dan pengalaman mengajar les privat saat masih tinggal di Porsea, Vina mulai menawarkan diri untuk menjadi guru les privat di sekitar rumah orangtuanya.

Awalnya, sambung Vina, sempat ada dua murid les-nya. Saat itu, ia ‘menyulap’ garasi mobil di rumah orangtuanya menjadi tempat belajar. Namun, kedua murid tersebut hanya bertahan sebulan.

Tak ada murid lagi, Vina mencoba memberanikan diri mencari murid les keluar dari Jalan Sipahutar. Karena tidak memiliki kendaraan, Vina rela berjalan kaki ke sana ke mari.

“Kalau ada uang lebih, barulah saya bisa naik angkutan umum,” katanya.

Jika bertemu orang-orang, Vina tidak segan-segan menawarkan diri sebagai guru les privat. Ia pun meninggalkan nomor handphone (Hp)-nya dengan harapan ada yang meneleponnya dan memberinya pekerjaan sebagai guru les privat. Hanya saja, dari hari ke hari tidak ada yang menelepon. Padahal Vina sangat berharap bisa segera mendapatkan murid les privat.

“Orangtua sempat menyarankan agar saya melamar sebagai guru di sekolah-sekolah. Tapi saya enggan. Saya lebih berminat menjadi guru les, terutama untuk matematika dan IPA,” terang anak kedua dari empat bersaudara ini, dari pasangan Antonius Siregar dan Netty Panjaitan ini.

Hingga kemudian, Vina sakit. Ia pun pergi berobat ke salah satu praktek dokter. Di tempat praktek dokter, kebetulan dokter wanita itu sangat ramah. Mereka sempat mengobrol banyak. Kepada dokter tersebut, Vina mengaku bisa mengajar  les privat, khususnya untuk pelajaran matematika dan IPA.

Kebetulan saat itu, anak si dokter sedang bersiap-siap mengikuti seleksi masuk ke salah satu SMA swasta favorit di Pematangsiantar. Jadilah Vina mengajar les privat anak dokter tersebut.

“Saya biasanya memfoto kegiatan kami saat belajar. Lalu fotonya saya posting di media sosial. Puji Tuhan, mulai ada yang menghubungi saya, sehingga murid les privat saya bertambah. Malah, murid yang akan ikut seleksi ke SMA favorit itu menjadi lima orang,” terang Vina, dan menambahkan kelima muridnya itu semuanya lulus dan diterima di SMA favorit.

Sejak itu, murid Vina kian bertambah dan Vina pun makin sering memposting foto-foto kegiatan saat belajar.

“Orangtua murid-murid saya itu tentu senang. Mereka memberikan bonus kepada saya di luar biaya les yang sudah disepakati,” ujar Vina.

Dari bonus tersebut, diakui Vina, dia bisa membeli satu unit sepedamotor baru secara cash. Sepedamotor itulah yang sejak tahun 2017 hingga kini digunakannya ke sana ke mari, termasuk ke rumah-rumah murid lesnya.

Sebelum memiliki sepedamotor, Vina selalu naik turun angkutan umum untuk mengajar les ke rumah-rumah . Bahkan, katanya, suatu ketika saat akan berangkat mengajar les, dia tidak memiliki uang untuk ongkos angkutan. Akhirnya, ia berjalan kaki dari rumahnya saat itu di Jalan Sipahutar menuju rumah muridnya di Jalan Adam Malik Pematangsiantar.

“Saat itu, uang les dari murid-murid saya belum seberapa. Sudah habis untu memenuhi kebutuhan anak-anak. Karena sudah jadwal les, ya saya jalan kaki. Pokoknya penuh perjuangan,” sebutnya.

Seiring waktu, murid les privat Vina makin banyak. Apalagi, saat mengajar anak dokter dan teman-temannya, Vina banyak bertemu teman-teman dan pasien dokter tersebut.

Akhirnya, April 2018 Vina nekat membuka rumah belajar. Dengan label menggunakan namanya sendiri, yaitu Rumah Belajar Miss Vina.

“Saya mengontrak rumah di Jalan Narumonda. Rumah itu punya tiga kamar tidur. Hanya satu kamar yang saya dan anak-anak gunakan untuk tidur. Yang lainnya untuk ruang les,” terang Vina seraya menambahkan, banyak juga murid les privat yang akhirnya bergabung di rumah belajar, meski ada juga orangtua yang bertahan agar anaknya les di rumah saja dengan guru lain.

Di bulan pertama, murid di Rumah Belajar Miss Vina hanya 10 orang. Tapi tiap minggu selalu bertambah. Hingga di bulan keenam, rumah yang dikontrak Vina nyaris tidak bisa menampung murid-muridnya.

Masih dengan penuh rasa nekat, enam bulan kemudian Vina mengontrak rumah toko (ruko) di Jalan Toba 1 No 6 Pematangsiantar. Lantai satu, full untuk ruang belajar, dan di lantai dua lah Vina dan keluarganya tinggal.

Vina menganggap yang diraihnya selama ini tidak terlepas dari kekuatan doa ibunya. Sebab, sejak awal berniat mengajar les hingga membuka rumah belajar, Vina senantiasa memohon doa dari sang ibunda.

Kini, ada 112 murid asuhan Vina, yang mayoritas datang ke rumah belajar.

“Masih tetap ada yang privat. Jadi kami di sini ada tujuh pengajar termasuk saya, ditambah satu orang di bidang kreatif. Kami membantu anak-anak belajar, termasuk jika mereka kesulitan mengerjakan pekerjaan rumah dari sekolah. Menjelang ujian sekolah, biasanya kami lebih intensif,” jelas alumni SMA St Thomas 2 Medan ini.

Enam staf pengajar yang merupakan tim di Rumah Belajar Miss Vina, yaitu Agustina Purba, Pashu Saragih, Dessy Purba, Eva Yanti Situmorang, Elisabet Silalahi, dan Ade Sitanggang.

“Ditambah Bapak Theodesius Pakpahan untuk bidang kreatif,” tambahnya.

Vina tidak memungkiri, banyak murid lesnya yang merupakan anak pejabat dan berasal dari keluarga menengah ke atas. Misalnya, putra Walikota Pematangsiantar Hefriansyah, putri Wakil Walikota Pematangsiantar Togar Sitorus, anak dokter, anak pengusaha, dan lainnya. Sehingga Vina sudah biasa keluar masuk rumah dinas Walikota dan Wakil Walikota Pematangsiantar. Bahkan putra-putri Hefriansyah sudah akrab dengan Vina.

“Ya, selama ini banyak yang bilang murid-murid Miss Vina anak orang kaya. Tapi kan, mereka yang datang ke saya. Padahal, fakta sebenarnya tidak seperti itu,” tukas Vina, yang di awal mengajar les saat masih di Porsea dimulai mengajar membaca, menulis, dan berhitung (calistung) untuk murid Taman Kanak-kanak (TK).

Menurut Vina, ada saja muridnya yang berasal dari keluarga tidak mampu namun memiliki keinginan yang kuat untuk belajar.

“Ada yang saya gratiskan, dan ada yang bayar setengah. Tapi kan anak-anak yang lain tidak perlu tau,” tandas Vina, yang menerima murid les mulai kelas 4 SD hingga kelas 3 SMA.

Vina sendiri sangat ingin jangan ada lagi yang menganggap rumah belajarnya hanya untuk anak-anak pejabat dan kaya. Sebab, sejak awal, ia sama sekali tidak ada membeda-bedakan.

Ke depan, Vina berencana membuka cabang rumah belajarnya. Saat ini, masih dalam proses mencari lokasi yang cocok.

“Kalau untuk pengajar, biasanya kami yang sudah ada saling merekrut,” tukasnya, dan menambahkan di tahun pelajaran baru kemarin, muridnya menjadi yang terbaik dari sekitar 700-an peserta seleksi siswa baru SMP Bintang Timur Pematangsiantar, yakni Philip Lionel Simangunsong.

Dengan para pengajar, Vina menganggap mereka seperti keluarga sendiri. Sehingga mereka nyaman dan betah bekerja sama dengan Vina.

“Kalau ada waktu, kami jalan-jalan, makan-makan, dan lainnya,” ujar Vina yang beberapa waktu lalu mengajak para pengajar dan murid-muridnya berkunjung ke salah satu panti asuhan, yang tujuannya mengajari anak-anak memiliki rasa sosial.

Untuk anak-anak di panti asuhan, Vina juga memiliki rencana mulia. Dia ingin membawa para pengajarnya mengajar anak-anak di panti asuhan secara gratis, yakni di hari Minggu.

“Kami masih berupaya mengatur waktu. Karena saat ini di hari Minggu pun kami masih mengajar privat ke rumah-rumah,” katanya.

Kepada muridnya, Vina tidak hanya mendidik secara akademik. Namun mengajak mereka juga untuk selalu bermohon dan bersyukur kepada Tuhan.

“Kita didik juga rohani mereka. Sebelum dan setelah belajar, kita ajak anak-anak berdoa. Untuk mendidik jiwa kepemimpinan, kita gilir mereka untuk memimpin doa,” jelasnya lagi.

Vina yang juga alumni SMP Bintang Timur Pematangsiantar ini biasanya menyediakan waktu untuk kebersamaan dengan anak-anaknya di saat libur sekolah. Itu pun, yang bisa hanya di liburan semester satu. Sebab di liburan sekolah semester dua, biasanya Vina justru sibuk karena banyak murid yang memersiapkan diri untuk seleksi masuk sekolah ataupun perguruan tinggi.

“Kalau liburan, setelah terima raport semester satu, sampai Natal dan setelah tahun baru. Biasanya nggak jauh-jauh, Samosir atau Medan. Kalau weekend, saya juga ada les privat, jadi anak-anak sering ke rumah oppung-nya aja,” beber Vina, yang awalnya di Pematangsiantar ini tidak memiliki kenalan apalagi relasi, namun ia terus berusaha demi dua putra dan empat putrinya.

Sudah memiliki rumah belajar dengan jumlah siswa yang banyak, namun Vina masih menyimpan impiannya. Apa itu?

“Saya ingin punya sekolah. Sejak menekuni dunia pendidikan, saya tidak pernah ingin mengajar di sekolah, tapi saya ingin punya sekolah sendiri,” sebut Vina yang berencana kuliah Strata Dua (S-2). (awa)

Universitas Simalungun  
Tags

Berita lainnya

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker
Close