Lifestyle

Elly Soraya Sembiring Senang Berkegiatan Sosial

Cantik, ramah, dan memiliki kepedulian sosial yang tinggi. Sifat-sifat tersebut yang membuat Elly Soraya Sembiring memiliki banyak teman dan mudah bergaul dengan siapa saja. Hatinya mudah tersentuh jika melihat ada orang-orang di sekitarnya yang membutuhkan pertolongan.

Elly pun sering melakukan kegiatan sosial, baik atas nama pribadi maupun membawa nama tempatnya bekerja, yakni Politeknik Bisnis Indonesia (PBI) dan Sekolah Tinggi Akuntansi Manajemen Indonesia (STAMI) Murni Sadar Pematangsiantar, serta Rumah Sakit (RS) Murni Teguh Medan. Kebetulan, Elly menjabat marketing di PBI dan STAMI Murni Sadar, serta Koordinator di RS Murni Teguh.

Bahkan saat hari ulang tahunnya, Elly selalu menyempatkan diri berbagi kasih dengan anak-anak di panti asuhan ataupun para orang tua di panti jompo. Tak hanya itu, dalam kesehariannya, Elly sering membantu pasien di RS Murni Teguh yang berasal dari keluarga tidak mampu.

“Kalau ada pasien yang tidak mampu, sebisa mungkin saya menolongnya. Apalagi yang memang tidak memiliki asuransi. Saya belikan obat, dan saya ajak dokter ke rumah si pasien tersebut. Tak lupa, saya memberikan edukasi kepada keluarga pasien bagaimana mengatur pola makan dan pemberian obat untuk si pasien,” terang Elly, tanpa bukan bermaksud memamerkan apa yang sudah diperbuatnya, melainkan untuk memberikan motivasi kepada yang lain agar peduli kepada sesama.

Masih kata Elly, dengan menolong orang lain, telah memberikan kebahagiaan tersendiri bagi dirinya. Jika pasien yang dibantunya sehat, Elly langsung bersyukur dan senang. Sebaliknya, jika si pasien tidak tertolong, ia merasa sedih dan resah.

“Karena itu, saya selaku berusaha mencari solusi agar pasien yang saya bantu itu cepat sembuh. Bahkan, jika ada pasien yang didiagnosa mengidap suatu penyakit tertentu, biasanya saya bantu untuk mencari second opinion,” tukas Elly, yang akhirnya sering dianggap sebagai saudara oleh keluarga pasien yang pernah ditolongnya.

Diakui Elly, jiwa sosialnya menurun dari ayahnya yang juga mudah bergaul serta memiliki banyak teman.

Elly sendiri, sejak kecil selalu saja mengalah dari teman-temannya. Padahal sebagai anak bungsu dan tinggal dengan neneknya yang berkecukupan, sebenarnya Elly dengan mudah memeroleh apa yang diinginkan. Hanya saja ia tidak dididik menjadi anak yang manja.

“Saya tinggal dengan tante ibu saya. Dia tinggal sendiri karena anak-anaknya sudah merantau dan hidup mandiri. Nenek saya itu sangat disiplin. Nenek-lah yang membuat saya tangguh dan tidak cengeng,” kenang Elly.

Karena memiliki jiwa sosial yang tinggi itulah, Elly merasa ia tidak cocok menjadi pengusaha atau pedagang.

Pernah, saat bekerja di salah satu rumah sakit swasta di Pematangsiantar, ia dipercaya mengelola kantin di situ.

Hanya saja, katanya, jangankan laba, modal dari dana pribadi yang sudah dikucurkannya pun tak kembali.

“Sering ada kenalan yang kerabatnya masuk rumah sakit, dan singgah ke kantin. Kadang cerita sambil menangis. Lalu makan dan minum di kantin. Saya pun nggak tega meminta bayaran. Di lain hari, ada rombongan teman-teman saya membesuk pasien, malah saya ajak makan minum di kantin. Akhirnya ya sudahlah, tutup aja,” jelas perempuan yang sempat bercita-cita menjadi sekretaris di perusahaan ini.

Ibu dua anak, yaitu Felly Lovita dan Rivael Banata ini, setiap harinya selalu sibuk, baik mengurus buah hati maupun menyelesaikan pekerjaan di kantor. Belum lagi, setiap Sabtu ia harus mengikuti rapat yang diadakan di RS Murni Teguh di Medan.

Meski sibuk, Elly selalu menyempatkan diri untuk memasak serta mengantar kedua anaknya ke sekolah dan kuliah.

“Anak saya yang besar, Vita, sudah kuliah dan sambil bekerja di salah satu sekolah. Kalau yang bungsu, masih SMA. Di rumah memang ada asisten rumah tangga, tapi khusus untuk memasak, saya yang kerjakan, termasuk belanja,” sebut alumni Sekolah Tinggi Ilmu Komputer (STIKOM) Medan, yang sempat juga kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Simalungun (USI) ini.

Elly mengaku hobi memasak masakan rumahan, seperti tauco, asam manis, dan beberapa jenis cake. Namun untuk kue kering, Elly berusaha menghindar. Katanya, ia tidak sabar mencetak kue-kue tersebut satu per satu.

“Kalau saya bantu ibu bikin kuker, pasti dia bingung karena setelah masak kuenya sedikit. Bukan saya makan, tapi saat mencetak, begitu dia lengah, adonan kue saya buang. He he he…,” cerita Elly tentang keusilannya.

Elly termasuk wanita rumahan. Di luar pekerjaan, dia memilih berada di rumah bersama dua buah hatinya. Karena kerap bersama, tak heran, sepasang putra dan putrinya sangat dekat padanya.

“Kita sudah seperti sahabat. Mereka yang bikin saya kuat dan selalu support saya. Mereka juga mandiri dan tidak mau menyusahkan saya,” jelas Elly yang merasa terharu saat putri sulungnya menyerahkan gaji pertama kepadanya.

“Jangan lihat nilainya, tapi lebih kepada baktinya kepada saya, ibunya,” tukas Elly yang jarang keluar rumah hanya sekadar untuk duduk-duduk di kafe.

Di akhir perbincangan, Elly tak lupa memanjatkan rasa syukurnya kepada Allah SWT. Juga ucapan terima kasih kepada ayahnya Alamrhum Raja Ngapit Sembiring dan ibunya Yulia.

“Perlu rasanya saya sampaikan, bahwa saya Elly Soraya Sembiring merasa bangga telah menjadi anak mereka. Untuk kedua anak saya, juga keluarga besar saya, saya ucapkan terima kasih karena selama ini telah memberikan support kepada saya,” kata Elly. (awa)

Tags

Berita lainnya

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker
Close