Lifestyle

Eko Situmeang dari Jalanan ke Kafe hingga Masuk Studio TV

FaseBerita.ID – Memiliki hobi dan bakat di bidang musik, sudah disadari Eko Situmeang sejak ia masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD). Namun apa daya, Eko kecil terpaksa menyimpan keinginannya yang kuat untuk menyalurkan hobi dan bakatnya.

Penyebabnya, kedua orangtua tidak mendukungnya. Termasuk saat ia ikut tampil di acara-acara gereja di kampungnya, di Afdeling B, Kecamatan Sidamanik, Kabupaten Simalungun.

“Orangtua kurang suka kalau saya tampil menyanyi,” tukas sulung dari enam bersaudara itu.

Malah, saat masih bersekolah, jika ada ajang Pekan Olahraga dan Seni (Porseni), pria kelahiran 28 Mei 1995 itu justru ikut di bidang olahraga, yaitu tenis meja.

Waktu berjalan. Eko pun lulus dari SMK Swasta Darma Budi Sidamanik. Tanpa niat melanjutkan pendidikan ke kuliah, Eko memutuskan pindah ke Pematangsiantar.

Berbekal ijazah SMK, Eko melamar pekerjaan. Akhirnya ia diterima sebagai cleaning service (CS) di salah satu tempat bimbingan belajar di Jalan Ahmad Yani Pematangsiantar.

Sambil bekerja, Eko kerap memerhatikan siswa-siswi yang mengikuti bimbingan belajar, terutama siswa kelas 3 SMA yang memersiapkan diri untuk mengikuti seleksi penerimaan mahasiswa baru di perguruan tinggi negeri (PTN).

“Mereka sangat bersemangat supaya bisa masuk PTN. Dari situ, saya pun berkeinginan kuliah,” ujar Eko.

Namun Eko menyadari, penghasilannya dari pekerjaannya sebagai CS tidak memadai untuk membiayai kuliahnya. Untuk minta dari orangtua, Eko segan mengingat adik-adiknya juga masih bersekolah.

Eko merenung. Apa yang harus dilakukannya untuk memeroleh penghasilan tambahan. Hingga kemudian Eko memutuskan mengamen. Berbekal bakat dan hobinya bernyanyi plus memetik senar gitar, Eko mulai mengamen dari warung ke warung, terutama di pusat Kota Pematangsiantar.

“Oh ya, saya belajar main gitar saat masih SMK. Di dekat rumah ada warung tuak, di situ ada gitar. Kalau siang kan, warung tuak masih sepi, jadi saya ke situ pinjam gitar dan mulai belajar sendiri. Kadang-kadang sambil lihat buku panduan,” terangnya

Awal mengamen, lanjut Eko, di tahun 2014, di salah satu warung makan di Siantar Square, Jalan Vihara. Eko masih mengingat dengan baik, orang pertama yang memberinya uang saat mengamen adalah seorang perempuan.

“Dia kasih Rp1.000. Selanjutnya, banyak orang yang memberi uang, dan hasilnya lumayan,” ujar Eko, yang kemudian memutuskan untuk kuliah di salah satu perguruan tinggi swasta di Pematangsiantar.

Diakui Eko, saat mengamen, berbagai perlakuan orang sudah dihadapinya. Ada yang senang dan merasa terhibur, ada yang kurang suka, dan ada yang memandangnya sebelah mata.

“Banyak yang kasih pujian suara saya bagus. Tapi ada juga perlakuan tidak menyenangkan yang saya terima,” sebut Eko, yang saat mengamen berusaha tampil bersih dan rapi.

Pernah, kata Eko, di tengah ia menyanyi, seorang bapak yang sedang duduk di salah satu tempat makan, langsung menyiramkan air di dalam gelas ke wajah Eko. Tak ayal, emosi Eko tersulut.

“Saya balas juga dengan menyiram dia. Jadi sama lah,” kenang Eko.

Sedangkan pengalaman menyenangkan yang dirasakannya, Eko pernah mengamen di hadapan Kepala Kepolisian Daerah Sumatera Utara (Kapoldasu), saat itu dijabat Paulus Waterpauw. Paulus dan rombongan saat itu singgah di lokasi jajanan Siantar Square. Saat ia hendak masuk ke salah satu warung, kebetulan Eko berdiri di depan depan. Lantas, Paulus menyapanya.

“Mau ngapain?” tanya Paulus.

“Menyanyi,” jawab Eko yang saat itu tidak tahu orang yang menyapanya adalah Kapoldasu.

Lantas, Paulus memintanya menyanyi. Dengan penuh percaya diri, Eko menyanyi. Ternyata, Paulus senang. Ia pun memberikan uang kepada Eko dengan jumlah cukup besar. Setelah beberapa saat, barulah Eko tahu orang itu pejabat tinggi di kepolisian.

“Ada dua kali saya menyanyi di hadapan beliau. Yang kedua kali, juga di Siantar Square, dan dia masih mengenali saya,” cerita Eko, seraya menambahkan kedua orangtuanya tidak tahu dia mengamen di Pematangsiantar. Orangtuanya, Ardiman Situmeang dan Lina Siregar hanya tahu selama di Pematangsiantar Eko bekerja sebagai CS sambil kuliah.

Hingga suatu hari, Eko jatuh sakit. Kondisi tubuhnya drop, hingga ia harus dirawat di rumah sakit. Orangtuanya datang membesuk. Di rumah sakit, salah seorang teman melapor kepada orangtuanya dan menyebutkan Eko kelelahan karena setiap hari bekerja, kuliah, dan mengamen.

Tentu saja, orangtuanya marah. Mereka melarang Eko mengamen. Tapi Eko membandel. Setelah sehat, ia kembali mengamen. Bahkan, tak hanya di jalanan. Eko mulai mencoba masuk dan menyanyi di kafe-kafe yang mulai menjamur di Pematangsiantar, yang menyediakan hiburan live music.

Kali pertama menyanyi di kafe, Eko tampil di kafe yang berada di Jalan Sangnaualuh Damanik Pematangsiantar. Namun bukan sebagai pengamen, melainkan sebagai pengunjung kafe.

“Saya ke kafe, pesan minum, terus bilang ke penyanyinya kalau saya ingin menyanyi,” jelas Eko, yang mengaku saat kali pertama tampil di panggung kafe, ia grogi luar biasa. Menurutnya, sangat beda suasananya saat ia menyanyi dari warung ke warung dengan tampil di panggung kafe.

Eko pun merasa ia harus banyak belajar jika ingin menjadi penyanyi profesional. Selanjutnya ia mulai menyisihkan penghasilannya dari mengamen demi bisa ke kafe untuk pesan minuman, dan bernyanyi.

“Saya ke kafe bukan untuk gengsi, tapi belajar bagaimana menyanyi lebih baik,” sebutnya.

Hingga kemudian, mulai ada pemilik kafe yang mengajaknya mengisi acara, yang tentunya kali ini Eko lah yang dibayar.

“Puji Tuhan, hingga sekarang ada saja pemilik kafe yang memberi job pada saya. Jadi, saya sudah menyanyi hampir di seluruh kafe yang ada live music-nya di Siantar ini,” tambah Eko, yang mengaku dari pihak bapak dan ibunya tidak ada turunan pintar menyanyi.

Eko terus belajar dan belajar. Hingga suatu ketika di tahun 2015, Eko memberanikan diri mengikuti audisi ajang pencarian bakat Rising Star. Eko lolos, dan melaju hingga ke Jakarta. Eko masuk karantina mulai September 2015 hingga Januari 2016. Demi mengikuti ajang ini, Eko memilih resign dari pekerjaannya sebagai CS.

Selama karantina, Eko banyak bertemu penyanyi-penyanyi berbakat dari daerah lain di Indonesia, dan tentu saja berjumpa artis ibukota. Hal ini, dianggap Eko sebagai pengalaman besar.

Sayangnya, Eko gagal sehingga ia harus kembali ke Pematangsiantar. Meski sedih, Eko tidak mau putus asa. Ia tidak down dan tetap tegar.

“Bagaimana pun, saya sudah pernah menyanyi di atas panggung di studio stasiun televisi. Tidak semua penyanyi daerah bisa merasakannya. Ini pengalaman besar,” kata Eko, yang untuk menjaga kebugaran tubuhnya ia menyempatkan diri bermain futsal dan tenis meja.

“Sempat juga dulu saya fitness, makanya tubuh saya cukup kekar. Tapi karena kemudian saya jatuh sakit akibat kelelahan, jadi saya hentikan,” ujar Eko yang sempat adu panco dengan Judika Sihotang saat audisi Rising Star.

Eko berkeyakinan, menyanyi adalah hidupnya. Secara materi, Eko mengaku sudah merasakan nikmatnya menyanyi. Plus, ia bisa menyalurkan bakat dan hobinya yang terpendam sejak kecil.

“Menyanyi sudah jadi passion saya. Sebagai penyanyi, tentunya saya punya impian, yakni rekaman, punya album, dan menjadi pop star. Saya ingin menjadi pengganti Iwan Fals yang juga berawal dari penyanyi jalanan,” jelas Eko yang berusaha menjauhi hal-hal negatif, terutama narkoba.

Eko mengaku, kemandirian hidupnya atas didikan kedua orangtua, terutama sang ayah yang memang mendidik anak-anaknya cukup keras.

“Saat kami masih kecil-kecil, mamak sempat sakit. Jadi bapak mengambil peran mamak di rumah. Padahal bapak juga harus bekerja. Jadi bapak keras kepada kami, anak-anaknya yang semuanya laki-laki. Terbukti, empat anak bapak yang sudah lulus sekolah, bisa mandiri,” terang Eko yang sangat ingin membahagiakan orangtuanya.

Kini, Eko yang masih mau mengamen di jalanan, sesekali ada saja pemilik event yang menawari menjadi Master of Ceremony (MC). Kesempatan seperti itu tidak disia-siakannya.

“Selagi masih muda, saya ingin tetap berkarya. Malah, sekarang saya juga mengajar private musik. Saya juga sudah membuat beberapa cover lagu, dan tayang di YouTube,” ujar Eko, yang pernah satu panggung dengan artis Virzha Idol. (awa)

Unefa

Pascasarjana

Tags

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker
Close