Lifestyle

Eko Kaki Langit Konsisten di Dunia Seni

FaseBerita.ID – Sejak kecil, Eko Kaki Langit sudah mengenal seni, terutama seni rupa. Tak heran, ayahnya Almarhum Suluhono merupakan pelukis dan desainer grafis.

Awalnya, kata pemilik nama lengkap Eko Suzatmiko ini, ia melihat-lihat saat ayahnya bekerja. Lama-lama, mulai tertarik dan ikut melukis. Melihat bakat Eko, sang ayah pun mulai keras melatihnya.

“Sebenarnya bapak saya nggak memaksa anak-anaknya mengikuti jejaknya. Dia membebaskan kami. Tapi ketika melihat ada anaknya yang memiliki minat dan bakat melukis, dia pun mulai keras melatih,” terang Eko, anak kedua dari tiga bersaudara itu.

Pernah, cerita Eko, dia diminta melukis sesuatu oleh ayahnya. Eko pun berusaha mengerjakannya sebagus mungkin. Namun setelah lukisan itu selesai, bukan pujian yang diperolehnya.

“Jelek!” kata sang ayah, seperti ditirukan Eko.

Bukti pelatihan yang keras, sambung Eko, ketika mengikuti lomba melukis dan ia dinyatakan menang, lagi-lagi bukan pujian yang diterimanya.

“Bapak saya malah protes ke juri. Katanya, nggak pantas anaknya menang lomba, sebab masih ada lukisan peserta lainnya yang lebih bagus. Terbalik dengan orangtua kebanyakan,” tukas Eko, yang menganggap sikap ayahnya itu bertujuan agar ia tidak besar kepala dan cepat puas.

Eko melanjutkan, dari tiga bersaudara, ia dan kakaknya yang bergelut di bidang seni. Kakaknya, Utami Suzariani mengajar melukis di salah satu SD swasta di Pematangsiantar. Eko sendiri, saat ini mengajar bidang studi melukis di SMP swasta, dan ekstrakurikuler melukis di SD yang sama.

“Adik saya, dia lebih cenderung di bidang bisnis,” tukas suami dari Dera Ginting ini.

Masih kata Eko, ia dan dua saudaranya saat ini mengelola sanggar mewarnai dan melukis untuk anak-anak. Namanya Qalam Jihad, di Jalan Mujahir No 89 Pematangsiantar. Di tempat itu, ada 70-80 anak berlatih melukis.

“Mereka dari berbagai kalangan. Bukan hanya untuk anak-anak Muslim. Tapi terbuka untuk umum,” sebut pria yang pernah meraih juara 1 melukis di Pekan Olahraga dan Seni (Porseni) Tingkat Provinsi Sumatera Utara, saat masih duduk di bangku SD itu.

Alumni SMA Yayasan Pendidikan Keluarga (YPK) Pematangsiantar ini menambahkan, saat ini seniman di Pematangsiantar belum mendapat tempat di hati masyarakat dan pemerintah. Seniman, katanya, selalu bergerak sendiri.

“Memang, perhatian dari Pemko Pematangsiantar sudah mulai ada meski belum maksimal. Kalau masyarakat, banyak yang belum menghargai karya seni. Alhasil, banyak seniman banting harga untuk karya seninya. Padahal, membuat karya seni itu tidak mudah,” terang laki-laki yang karya seni rupanya menghias beberapa kafe dan sekolah di Pematangsiantar.

Sama dengan wakil rakyat di Pematangsiantar, belum ada yang menunjukkan kepedulian besar terhadap seniman dan karya seni.

“Kalau ada seniman yang menjadi anggota dewan agar nasib seniman lebih diperhatikan, justru dikhawatirkan seniman itu kehilangan idealismenya,” kata Eko.

Padahal, katanya, jika ingin Pematangsiantar menjadi destinasi wisata, karya seni bisa menjadi pilihan.

“Belum ada daya tarik di Pematangsiantar sebagai destinasi wisata. Jadi kenapa tidak kita tawarkan karya seni? Misalnya seperti Jogjakarta. Di sana, seni menjadi primadona. Orang berbicara saja, sudah bagian dari seni,” terang pemilik Digilazt Record Syndicate ini.

Ayah seorang putri, Lavanya Aiza Suzatmiko ini sangat berharap masyarakat bisa lebih menghargai karya seni. Jangan sampai, para seniman banting harga. Sedangkan untuk para seniman, Eko meminta agar tetap berkarya dan konsisten.

“Perbanyaklah karya!” tegasnya.

Selain seni rupa, Eko juga hobi seni musik. Bahkan, dia sempat tergabung dalam salah satu grup band di era 1995-2011, meski saat ini grup band tersebut vakum.

“Saya sebagai drummer. Nama band-nya Kaki Langit. Dari nama band itu lah, muncul nama Eko Kaki Langit. Biasa kan, personel grup band lebih dikenal dengan nama grup band-nya,” kenang Eko.

Eko dan teman-temannya sempat berencana menghidupkan kembali grup band mereka. Hanya saja, jika aktif kembali, ia ingin grup band tersebut membawakan karya mereka sendiri.

Ke depan, Eko memiliki impian besar, yakni membuka sekolah seni. Di sekolah tersebut, katanya, ada berbagai jurusan, seperti seni rupa, seni musik, teknologi rekaman, hingga animasi.

“Untuk sekolah animasi, baru ada di Kudus, Jawa Tengah. Kalau ada sekolah seperti itu, bisa menjadi destinasi untuk Kota Pematangsiantar,” sebut Eko yang saat ini tergabung dalam Gerakan Seniman Masuk Sekolah. Di program pemerintah pusat itu, Eko mengajar seni rupa di SMP Negeri 9 Pematangsiantar. (awa)