Lifestyle

Doris Yolanda Saragih: Mengajar itu Ibadah, Hobi dan Pekerjaan

Mengajar sudah menjadi bagian dari hidup Doris Yolanda Saragih MPd. Mengajar, bukan sekadar profesi, tapi merupakan hobi, dan yang paling utama adalah ibadah.

Alumni Universitas HKBP Nommensen Pematangsiantar jurusan Bahasa Inggris ini, sekarang tercatat sebagai dosen di Politeknik Bisnis Indonesia Murni Sadar, sekaligus founder Rumah Belajar Bright.

“Rumah Belajar Bright mulai dibuka di tahun 2014. Sedangkan saya jadi dosen mulai tahun 2015,” kata anak kedua dari tiga bersaudara pasangan Robin Saragih SPd dan Litna Silitonga SPd ini.

Yola, demikian ia biasa disapa, menuturkan awal berdirinya Rumah Belajar Bright. Rumah belajar, katanya, berawal dari taman bacaan yang ada di rumah orangtua Yola, di Jalan Laguboti Pematangsiantar. Kedua orangtua Yola, yang kebetulan berprofesi sebagai guru, memiliki banyak koleksi buku.

“Jadi, banyak anak tetangga main ke rumah. Lama-lama, mereka saya ajari Bahasa Inggris. Kebetulan kan saya juga harus sering practise,” terangnya.

Kata Yola, awalnya murid-murid les-nya adalah anak-anak tetangga yang tidak mampu. Tentunya, tanpa bayaran.

“Gratis. Cuma, ada saja orangtua murid yang berusaha membayar les. Tapi bukan pakai uang. Misalnya pakai lappet (lepat, red). Hal-hal seperti itu bikin saya terharu,” sebut alumni SMA Negeri 1 Pematangsiantar itu.

Namun, rumah belajar yang mengambil tempat di lantai dua rumah orangtua Yola, terpaksa ditutup untuk sementara. Saat itu, setelah dua tahun rumah belajar beroperasi, orangtua Yola sakit. Karena perlu perhatian dan istirahat yang cukup, rumah belajar ditutup.

“Tahun 2014 rumah belajar dibuka. Tahun 2017 terpaksa ditutup,” kata Yola.

Namun kondisi itu tidak berlangsung lama. Setelah orangtuanya mulai pulih, Yola nekat membuka lagi rumah belajarnya. Hanya saja kali ini, lokasinya berpindah, yakni di Jalan Sidamanik Pematangsiantar. Kala itu, kedua orangtua tidak mengetahui Yola kembali membuka rumah belajar.

“Orangtua malah tau-nya dari kawan-kawannya kalau rumah belajar itu punya saya,” tambahnya.

Hanya dalam jangka waktu enam bulan, Yola kembali membuka lokasi rumah belajar yang lain. Kali ini di Jalan Lobak, Tomuan.

“Tapi yang di Jalan Sidamanik nggak lama. Karena kemudian dipindahkan ke Jalan Narumonda. Murid-murid yang di Jalan Sidamanik dipindahkan semuanya ke Jalan Narumonda,” terang Yola, yang sebelum membuka rumah belajar, sempat mengajar di beberapa bimbingan belajar yang ada di Pematangsiantar.

Nah, saat mengajar di bimbingan belajar, Yola mendapat banyak pelajaran dan pengalaman, hingga kemudian ia bercita-cita ingin memiliki rumah belajar sendiri.

“Yang di Jalan Narumonda, lokasinya lebih luas. Tapi saat itu kondisi bangunannya sangat memprihatinkan. Syukurnya, saya mendapat banyak bantuan dari teman-teman di Komunitas Anak Naburju, di mana saya juga sebagai founder,” jelas Yola, seraya menambahkan, rumah belajar miliknya diberi nama ‘Bright’ yang artinya terang atau bersinar. Harapannya, anak-anak di Rumah Belajar Bright memiliki masa depan yang bersinar.

Yola mengaku sangat mencintai anak-anak. Ia pun tidak ingin anak-anak itu sekadar mendapatkan pendidikan akademik. Namun juga pendidikan karakter.

“Bagi saya, save the earth by saving children. Biarlah yang lain menyelamatkan bumi dengan menanam pohon atau lainnya. Saya mengambil posisi untuk membangun karakter anak-anak. Misalnya, kejujuran, tau minta tolong, berterima kasih, dan lainnya,” jelas Yola.

Salah satu pendidikan kejujuran, sambungnya, di rumah belajar dijual penganan ringan yang diambil dari UMKM. Penganan tersebut digantungkan di rumah belajar, dan diletakkan kotak uang di bawahnya. Anak-anak bisa mengambil sendiri penganan itu dan meletakkan uang di kotak.

Sejauh ini, kata Yola, cukup efektif.

“Anak-anak itu jujur kok. Buktinya, hasil penjualan sesuai dengan penganan yang habis,” sebut Yola.

Kini, dengan staf pengajar sebanyak 14 orang, Rumah Belajar Bright memiliki murid-murid dari berbagai tingkatan, SD, SMP, dan SMA. Mereka, diperlakukan sama di rumah belajar, meskipun datang dari berbagai latar belakang.

“Nggak ada dibeda-bedakan. Belajar di ruangan yang sama, pakai meja dan kursi yang sama, dan dengan guru yang sama,” tukas Yola, seraya menambahkan ada beberapa murid di Rumah Belajar Bright yang mendapat diskon pembayaran, bahkan gratis sama sekali karena memang berasal dari keluarga tidak mampu.

Diakui Yola, mereka yang mengajar di Rumah Belajar Bright, sebenarnya lebih kepada pengabdian. Khususnya bagi Yola.

“Saya dosen di Politeknik Bisnis Indonesia Murni Sadar yang pastinya tidak terlepas dari tugas Tri Dharma Perguruan Tinggi, yakni mengajar, melakukan penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat . Tugas tentunya di kampus, penelitian bisa dilakukan di dalam dan luar kota, termasuk di Kecamatan Ajibata, Kabupaten Toba Samosir,” terang Yola.

Ke depan, Yola memiliki impian di Pematangsiantar ada Kampung Inggris seperti di Kediri, Jawa Tengah. Sebagai langkah menuju ke arah situ, saat ini kami sedang mempersiapkan anak anak Rumah Belajar Bright untuk bisa lebih aktif lagi dalam berkomunikasi Bahasa Inggris,” sebut Yola, yang sering menerima kedatangan pengajar tamu dari luar negeri atas rekomendasi komunitasnya.

Semua pencapaian selama ini, senantiasa disyukuri Yola. Apalagi, di tahun 2019 ini Yola merasa berkat Tuhan kepadanya sangat besar. Semua berkat itu, menurut Yola, pastinya atas doa orangtua dan orang- orang yang mengasihinya.

“Saya menerima dana hibah untuk penelitian bagi dosen pemula. Juga lulus sertifikasi dosen nasional,” kata Yola, yang berharap bisa mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan pendidikan Strata Tiga (S-3). (awa)



Pascasarjana

Unefa
Back to top button