Lifestyle

Dewi Lintang dari Toke Butik, Merambah Juri Modelling

FaseBerita.ID – Jika mau belajar, tidak ada hal yang tidak mungkin. Seperti Dewi Lintang, meski tidak pernah menjadi model, namun pengetahuannya tentang bidang tersebut tidak perlu diragukan. Dewi pun kerap diundang menjadi juri di sejumlah event modelling.

“Nggak pernah jadi model. Dulu saat tinggal di Jakarta, pernah sekali diajak menjadi model iklan salah satu bank swasta. Datang jam lima pagi, tapi syuting baru dimulai jam enam sore. Dua hari pula. Eh, bayarannya tak seberapa,” kenang Dewi yang sejak saat itu kapok jika ada yang mengajaknya syuting sebagai bintang iklan.

Dari Jakarta, Dewi yang asal Medan pindah ke Pematangsiantar, ke kampung halaman suami. Di Pematangsiantar, perempuan hitam manis ini membuka butik, Delutina di Jalan Jawa.

Saat menjadi toke butik, ada dua kali Dewi menggelar Delutina Fashion Festival. Diakui Dewi, saat itu antusias peserta sangat besar. Meski kemudian, butik terpaksa tutup karena Dewi punya anak kecil sehingga tidak ada yang mengelola.

Butik tutup, bukan berarti Dewi berdiam diri. Saat Delutina masih buka, Dewi mengenal beberapa orang penggiat model. Salah satunya, Ican.

Bersama Ican dan beberapa orang lainnya, Dewi membuka agency model. Diberi nama IB Management. Agency model ini sempat top di Pematangsiantar. Banyak anak asuh mereka berhasil menjuarai berbagai event pemilihan model.

Bahkan, kerap diundang untuk mengisi acara fashion di berbagai event, seperti perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) Kota Pematangsiantar, HUT Kabupaten Asahan, bahkan HUT Kota Medan.

Seiring berjalannya waktu, IB Management akhirnya tutup. Ican, yang termasuk ‘aktor utama’ memilih kembali ke kampung halamannya di Parapat, Kabupaten Simalungun. Di kota wisata itu, Ican membuka agency sendiri.

Bidang modelling ternyata sudah masuk ke jiwa Dewi. Bersama Imam yang juga sebelumnya belajar dari Ican, Dewi kembali membuka agency model, yakni TD Management.

“Ada beberapa anak asuh kami di TD Management, tapi bukan hanya model, ada juga grup band,” terang Dewi, yang memiliki postur tubuh bak model itu.

Dewi belajar dan terus belajar tentang modelling. Hingga banyak ilmu yang diserapnya. Hingga kemudian, ia pun memiliki kemampuan mumpuni menjadi juri modelling.

Ketua Persatuan Agency Siantar-Simalungun (PASS) periode pertama ini mengaku, awalnya sama sekali tidak terpikir masuk ke dunia modelling. Namun begitu masuk ke bidang tersebut, Dewi berusaha fokus.

Sama fokusnya dengan keprihatinan dia melihat dunia fashion dan modelling di Pematangsiantar ini yang kurang mendapat perhatian dari pemerintah setempat.

“Padahal di Siantar ini banyak kali talenttalent model. Tapi nggak ada wadah bagi mereka menyalurkan kreasi dan kreativitasnya,” terang ibu dua anak ini, Matias Christian Gamaliel Lubis (13) dan Nabila Astera Lubis (9).

Istri dari Ronal Lubis ini menambahkan, ia sangat berharap pemerintah daerah bersama swasta bergandengan tangan untuk menyediakan wadah bagi penggerak seni, termasuk model, agar bisa tampil. Misalnya, di saat weekend dengan lokasi di pusat-pusat keramaian.

Dewi juga mengimpikan Pematangsiantar memiliki kalender tahunan seperti Jember, yang membuat orang-orang dari luar daerah ramai-ramai datang ke Pematangsiantar.

“Misalnya Siantar Fashion Week atau Siantar Fashion Karnaval. Ya, seperti-seperti itu,” terang bungsu dari lima bersaudara ini.

“Kita punya Ulos, yang pesonanya tidak kalah dengan kain-kain khas daerah lain. Saat di IB Management, kali pertama kami membuat baju modifikasi Ulos. Sekarang, fotonya digunakan di mana-mana,” tandas Dewi seraya menambahkan awalnya dulu karena belum ada di antara mereka yang pintar menjahit, baju tersebut menggunakan lem tembak.

Kini, untuk mengisi waktu luang, Dewi yang merupakan salah satu juri dalam Pemilihan Putra Putri Pariwisata Pematangsiantar tahun 2019, membuka usaha Waroeng Thai Tea. Lokasinya di Jalan Jenderal Soedirman Pematangsiantar.

“Mulai Agustus lalu kita buka. Dan sejak kita buka franchise, sudah ada tiga pengusaha yang bergabung,” tukas alumni SMA Kartika X-1 Jalan S Parman Medan ini.

Usaha Waroeng Thai Tea, sambungnya, dibuka setelah mereka menikmati teh hijau saat liburan ke Banda Aceh beberapa waktu lalu. Harumnya teh hijau, membuat Dewi dan suami sepakat membuka usaha tersebut. (awa)



Pascasarjana

Unefa
Back to top button