Lifestyle

Deni Arifin Mulai Bisnis sejak Belia

Menjadi pengusaha sudah menjadi pilihan Deni Arifin. Di usianya yang ke-30 tahun, anak muda ini semakin mengembangkan usaha kuliner yang mulai dirintisnya sejak beberapa tahun lalu.

Awalnya, Deni bersama beberapa rekannya membuka outlet Kebas Seafood di salah satu kafe di Jalan H Adam Malik Pematangsiantar. Selanjutnya, usaha kuliner itu pindah ke Jalan Padangsidimpuan dengan nama Kebas 306.

Setahun berlalu. Ternyata, lokasi usaha harus pindah. Awalnya, anak kedua dari empat bersaudara itu bingung mencari lokasi baru. Namun kemudian, justru tempat yang diperolehnya dianggap luar biasa.

“Alhamdulillah, ini saya anggap mukjizat. Sebelumnya sama sekali tidak menyangka bisa dapat tempat di sini,” terang suami dari Nurdiana Batubara, yang ditemui di tempat usahanya yang baru, di Jalan Maluku Atas Pematangsiantar.

Usaha kuliner yang kini diberi nama Mister Kebas 886 itu mulai grand opening hari ini, Sabtu (1/2).

“Angka 886 itu adalah frekuensi Radio Citra Anak Siantar (CAS) FM milik Bapak Sulaiman Sinaga. Karena tempat ini memang milik beliau, yang sebelumnya sudah pernah dijadikan lokasi usaha kuliner juga,” sebut ayah dua anak ini, yaitu Revansyah Arifin (9) dan Cut Clara Callista (6).

Deni melanjutkan, menu utama di kafenya tetap sama, yaitu seafood, dengan andalan Kepiting Soka, yaitu masakan kepiting lunak, di mana seluruh bagian kepiting bisa dimakan.

“Kecuali piringnya,” canda Deni seraya menambahkan, Kebas merupakan singkatan dari Keluarga Besar Anak Siantar.

Masih kata pria kelahiran 25 Desember 1989 ini, bakat bisnisnya menurun dari sang ayah, almarhum Arifin. Ia dan tiga saudaranya, semua kini bergerak di bidang bisnis. Bahkan beberapa tahun lalu, mereka sempat membuka bisnis kafe bersama di kediaman orangtua, di Jalan Kompi Pematangsiantar.

“Kafe yang kemarin itu menu utamanya ice cream. Sekarang, kita ‘bawa’ ice cream-nya ke kafe yang baru ini. Kebetulan adik yang sempat kami serahkan untuk mengelola kafe, memilih fokus ke bisnis fashion,” sebut alumni Fakultas Ekonomi Universitas Simalungun (FE USI) ini.

Jadi, sambungnya, sekeluarga mereka kini sibuk dengan bisnis masing-masing. Termasuk sang ibu, Yuniar, yang meskipun tetap menjalankan tugas sebagai guru berstatus Aparatur Sipil Negara (ASN) di salah satu sekolah dasar (SD), tapi mulai menjalankan bisnis katering.

“Lima tahun lagi mama pensiun. Mungkin selanjutnya dia juga fokus bisnis katering,” tambahnya.

Diakui Deni, jiwa bisnisnya sudah mulai dirasakannya sejak ia masih belia. Jika ditanya apa cita-citanya, dengan lugas ia selalu menjawab ingin menjadi pengusaha.

Bukan sekadar jawaban. Sebab sejak duduk di bangku SMP, Deni sudah mulai berbisnis. Jika ada teman yang menjual barang-barang, misalnya jam tangan, biasanya ia beli dan selanjutnya dijual kembali.

Aktivitas bisnis yang dilakukan Deni meningkat ketika ia duduk di bangku SMA. Saat itu, ia sudah berani bisnis jual beli kendaraan, baik sepedamotor maupun mobil.

“Ada yang jual, bahkan kadang sudah butut, saya beli. Lalu saya modifikasi, karena kebetulan saya hobi. Setelah selesai, ya saya jual,” jelas Deni yang sejak SMP sudah tidak mengharapkan uang jajan dari orangtua lagi.

“Saat kuliah pun, saya tidak mengharapkan dari orangtua karena ada beasiswa,” tambah Deni yang sempat bekerja di bidang marketing dan kontraktor ini.

Masih kata Deni, dalam menjalankan bisnis, tak terlepas dari dukungan orang-orang terdekatnya, terutama istri. Juga keluarga dan para sahabat.

Sahabat, lanjutnya, dianggap Deni sebagai rezeki dari Tuhan. Sebab rezeki tidak semata-mata berupa uang dan kekayaan.

“Saya banyak belajar dari pergaulan. Saya enjoy menjalani hidup ini. Bagi saya, dengan banyak teman, akan banyak rezeki dan mengalir. Jangan pernah takut berbagi,” ujar pria yang tinggal di Jalan Jawa ini.

Deni berharap, bisnis kulinernya bisa terus berkembang, dan memiliki cabang di tempat lain.

“Dulu saya dipanggil Abang Kebas, sekarang Mister Kebas, Insyaallah bisa jadi Master Kebas,” tandas Deni yang mengaku dirinya bukan bos, melainkan leader.

Deni juga tidak jumawa. Ia tetap belajar dari para senior. Ia tidak anti saran dan kritik, bahkan mengaku sangat membutuhkannya. Termasuk untuk pelayanan di kafe miliknya.

“Saya tidak akan tau apa saja kekurangan saya. Harus ada pihak lain yang menyampaikan dan memberikan saran. Saya tidak menganggap pengusaha kuliner lain sebagai kompetitor, tapi lebih sebagai mitra.

“Usaha bisa saja ditiru, tapi rezeki tidak akan bisa tertukar,” katanya yakin.

Kepada kaum milenial, alumni SMA Negeri 2 Pematangsiantar ini berpesan agar jangan pernah takut memulai bisnis. Berusaha tetap ikhlas, jangan sombong, dan jangan banyak mengeluh. (awa)



Pascasarjana

Unefa
Back to top button