Lifestyle

Delima Pakpahan Fokus Senam Aerobic

FaseBerita.ID – Berbagai jenis senam diminati Delima Pakpahan yang betprofesi sebagai instruktur. Mulai aerobic, zumba, hingga body language (BL). Namun kini dia memilih lebih fokus ke senam BL.

“Banyak perempuan yang berminat untuk BL. Kalau ada yang mau ikut kelas senam, pasti bertanya ada atau tidak BL-nya. Ya, karena BL sangat bermanfaat bagi para wanita,” kata pemilik Studio Senam 3J di Jalan Cokroaminoto Pematangsiantar ini.

Wanita yang akrab disapa Ima ini mengaku, sejak masih gadis ia sudah aktif ikut aerobic. Kebetulan, Ima memang senang menari saat masih duduk di bangku SMA.

Hingga menikah dan memiliki seorang putri, Ima tetap aktif aerobic dan kemudian memutuskan menjadi instruktur senam.

“Saya ikut pendidikan selama tiga bulan dan mendapatkan sertifikat. Kami ada tujuh orang saat itu,” tukas ibu tiga anak ini, yaitu Joy Simanjuntak (mahasiswi), Juan Simanjuntak (kelas 9 SMP), dan Jonathan Simanjuntak (kelas 8 SMP).

Sebagai instruktur senam, istri dari U Simanjuntak ini tak cepat berpuas diri. Ima rajin meng-upgrade diri dengan mengikuti berbagai seminar. Termasuk salah satunya, tergabung dalam Zumba Instructure Network (ZIN) sejak sekitar dua tahun lalu.

Selain itu, Ima kerap mengikuti kejuaraan senam di Medan. Untuk yang satu ini, ia mengaku tak sekadar berharap menang dan mendapat hadiah. Namun lebih tertuju menambah wawasan dan teman.

Irma mengaku, sebagai instruktur senam ia dikenal cerewet. Sebenarnya, kata Ima, itu demi kebaikan para peserta didiknya. Ima tidak ingin, materi, waktu, dan tenaga yang dikeluarkan peserta didiknya sia-sia hanya karena mereka tidak serius.

“Sebagai instruktur, sebenarnya bisa saja saya cuek mereka mau serius atau tidak. Tapi justru saya terbebani jika mereka tidak serius. Saya merasa bertanggung jawab,” beber perempuan yang juga hobi berenang.

“Di salah satu tempat saya mengajar senam, dilengkapi kolam renang. Setelah selesai senam, saya sering langsung berenang. Rasanya rileks dan segar,” tukas Ima yang juga mengajar senam untuk para orang lanjut usia (lansia).

Menjadi instruktur senam, khususnya ZIN, Ima mengaku memberikan banyak manfaat pada dirinya dalam hal pertemanan. Di mana saja dia berada, cukup menghubungi para ZIN yang ada di tempat tersebut. Meskipun sebelumnya tidak saling kenal, namun sesama ZIN biasanya langsung akrab.

“Seperti saat saya di Jogjakarta untuk mengantar anak saya yang mau kuliah. Daripada bengong di kos, saya hubungi ZIN yang ada di sana. Mereka welcome dan mengundang saya datang ke tempat mereka mengajar. Wah, studio senamnya keren,” jelasnya.

Hal yang sama dirasakan Ima saat mengunjungi adiknya di Jakarta selama beberapa hari.

“Jadi saya mengisi waktu luang dengan senam atau Zumba,” tambah Ima yang mendapat support penuh dari suaminya untuk menjadi instruktur senam. Bagi suaminya, yang penting Ima senang dan nyaman, serta yang dilakukannya masih positif.

Selama delapan tahun menjadi instruktur senam, Ima tidak menampik ada saja yang menggodanya. Namun sejauh ini Ima tetap pada pendiriannya, bahwa ia menjadi instruktur senam bukan untuk berbuat hal-hal negatif.

Ima sendiri sangat menjaga berat tubuhnya. Untuk itu, sudah setahun ini ia berhenti mengonsumsi nasi. Sebagai pengganti, ia mengonsumsi umbi-umbian.

“Sayur dan buah, tahu tempe saya makan. Saya berusaha menerapkan pola hidup sehat,” bilang Ima yang juga tidak mengonsumsi berbaga mie.

Nama Ima sebagai instruktur senam sudah dikenal di kalangan penggemar aerobic di Kota Pematangsiantar. Ia sering menerima job dari instansi pemerintah. Tak hanya sebagai instruktur, namun sekaligus menciptakan koreografi sendiri.

“Penyelenggara biasanya minta musik dan gerakan tertentu. Juga ada pesan-pesan dari atasannya. Saya pun berjibaku memadukan musik dengan gerakan. Syukur dipesan jauh-jauh hari. Kalau mendadak, itu yang bikin saya repot,” beber Ima yang sering berkomunikasi dengan sesama guru senam dari Medan dan Jakarta, termasuk terkait informasi musik dan koreografi yang baru.

Meski banyak kesibukan dan ada beberapa job sebagai instruktur senam, namun Ima tidak melupakan kodratnya sebagai seorang istri dan ibu dari anak-anaknya. Setiap hari, Ima selalu menyempatkan diri untuk memasak bagi keluarga.

Kata Ima, ia, suami, dan anak-anak biasanya meluangkan waktu berkumpul di ruang keluarga di rumah mereka di Jalan Lau Cimba Pematangsiantar. Di depan televisi, mereka masing-masing dengan posisinya. Namun ada satu peraturan yang harus dituruti oleh semua, yakni tidak boleh memegang handphone (Hp).  Kalaupun terpaksa, cukup sebentar.

“Biasanya kami berkumpul setiap malam mulai pukul tujuh sampai pukul setengah sembilan. Kalau hari Minggu, kumpulnya selesai ibadah, yaitu jam 12 sampai jam tiga. Setelah jam tiga, anak-anak suka mengajak ke luar rumah,” jelas Ima seraya menambahkan, di momen berkumpul itu, anak-anak kerap meminta dirinya memasak atau membuat makanan. (awa)



Pascasarjana

Unefa
Back to top button