Lifestyle

Dedi Saputra dari Raya Menembus Cina

Di daerah tempat tinggalnya, yaitu Raya, Kabupaten Simalungun, tidak banyak yang mengetahui Dedi Saputra mampu menghasilkan karya seni dari kayu. Padahal, pelanggannya sudah banyak, namun rata-rata dari luar daerah. Bahkan ada yang dari luar negeri, seperti Malaysia dan Cina.

Hal tersebut, kata Dedi, karena hasil karyanya lebih dominan dipromosikan secara online melalui media sosial Facebook. Sedangkan pengerjaan karya seninya dilakukan di Gembuel Galery, Jalan Radjamin Purba Nomor 06A, Pematang Raya, Simalungun.

Anak ketiga dari enam bersaudara ini mengaku, biasanya ia memosting hasil karyanya di akun Facebook miliknya, yakni Dedi Saputra, sekitar pukul 22.00 WIB. Selanjutnya, ia membalas chatting dari calon pelanggan hingga pukul 01.00 WIB.

“Kadang-kadang saya live juga di FB. Tapi tetap lebih sering hanya posting foto hasil karya saya,” terang alumni SMK Negeri 1 Raya jurusan teknik las ini.

Menurut Dedi, sejak kecil ia memang hobi melukis di atas kanvas, khususnya sketsa wajah. Bahkan ia sempat berpetualang ke luar daerah sebagai pelukis. Namun karena hasil yang diperoleh tidak sesuai harapan, Dedi memilih pekerjaan lain.

“Saya sempat kerja bangunan, termasuk sebagai tukang las,” sebut pria yang juga hobi olahraga bulutangkis dan touring sepedamotor itu.

Hingga kemudian, ia kembali menekuni dunia seni. Pilihannya jatuh pada ukiran kayu. Meski tidak memiliki ilmu khusus mengukir, Dedi nekat dan belajar secara otodidak, termasuk melalui media sosial YouTube.

Awalnya, Dedi mengerjakan ukiran kayu menggunakan alat manual. Seiring waktu dan dengan bertambahnya orderan, Dedi beralih menggunakan alat ukir listrik.

“Kalau galeri saya itu, dibuka Februari 2018. Kebetulan ada tempat di rumah orangtua, ya saya buka di situ,” terang Dedi yang didampingi istrinya, Erlyn Gulo, yang baru dinikahinya sekitar dua bulan lalu.

Setelah menikah, lanjut Dedi, sang istri yang tadinya bekerja sebagai penjahit pakaian, menjadi asistennya untuk mengerjakan pesanan ukiran kayu.

“Dia cepat belajar. Malah lebih teliti karena terbiasa menjahit pakaian yang memang butuh ketelitian,” jelas Dedi yang kini lebih fokus mengerjakan pesanan perabot, seperti meja dan kursi untuk kafe atau resto.

Masih menurut Dedi, orderan yang biasa diterimanya antara lain logo instansi atau kafe/resto, jam, plakat wisuda, ukiran nama di meja, nomor kamar hotel, nomor meja kafe/resto, nama hotel, dan lainnya.

“Sekarang kan lagi tren tulisan untuk di dinding rumah atau dapur. Itu banyak dipesan,” tukas Dedi yang memiliki reseller di Tebingtinggi, Indrapura, dan Sipirok.

“Reseller yang dari Indrapura baru saja order tulisan untuk di dinding dapur sebanyak 25 unit. Ya, karena memang banyak peminatnya,” tambah Dedi.

Selain itu, Dedi menerima pesanan lukisan kayu. Bahkan, ada pemesan dari Suria yang meminta dibuatkan lukisan kayu untuk kekasihnya di Cina. Setelah selesai, lukisan tersebut dikirim ke Cina.

“Saat chatting, lumayan bingung soal bahasa. Untung ada mesin penerjemah di situs internet. Jadi bisa membantu,” tandas Dedi yang hasil karyanya bisa dilihat di beberapa kafe di Pematangsiantar. Misalnya di kafe yang berada di Jalan Maluku dan Jalan Gereja.

Sedangkan di kawasan tempat tinggalnya di Raya, Dedi mengaku tidak banyak yang mengetahui hasil karyanya. Bahkan, ada warga Raya yang justru dikenalnya dari media sosial.

“Saya pernah posting hasil karya saya di salah satu grup Facebook. Terus ada yang nanya di mana lokasi saya. Ya saya bilang di Raya. Eh, yang nanya itu rupanya orang Raya juga,” ujar Dedi, seraya menambahkan khusus di Raya hasil karyanya bisa dilihat di SMA Negeri 1 Raya dan SMK Seni Budaya Raya, yaitu dalam bentuk penamaan untuk kelas.

Laki-laki yang lahir 9 Oktober 1991 ini lebih lanjut mengatakan, untuk bahan baku pekerjaannya, terutama kayu, biasanya dipesan dari supplier. Ia tinggal menyampaikan ukuran kayu yang dibutuhkan, dan kemudian akan dikirim sesuai pesanan. Sedangkan bahan lainnya, bisa diperoleh dari Raya ataupun Pematangsiantar.

Ke depan, Dedi ingin lebih mengembangkan usahanya, termasuk mencari lokasi yang baru. Bisa saja, katanya, ia pindah ke kampung halaman sang istri di Nias dan membuka galeri di sana.

“Kan pemasarannya online. Jadi bisa dari mana saja,” sebut pria yang kemudian menerangkan, nama galerinya diambil dari panggilan sayang almarhumah ibunya untuk dirinya, yaitu Gembul.

Masih kata Dedi, awalnya sang ayah sempat keberatan ketika Dedi memutuskan membuka galeri ukiran kayu. Sang ayah lebih suka putra satu-satunya itu menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN) seperti dirinya. Namun ternyata Dedi lebih berminat ke bidang seni.

“Dan hasilnya cukup memuaskan. Kini ayah sudah mendukung,” ujar Dedi yang berencana mengajak sang istri touring sepedamotor berdua saja ke Sabang. (awa)

Tags

Berita lainnya

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker
Close