Lifestyle

Daniel Simanjuntak Siantar-Mandoge Demi Pengabdian

Lahir di Pematangsiantar dan besar di beberapa tempat karena ayahnya selalu berpindah tugas. Di usia dewasa menetap di Kecamatan Bandar Pasir Mandoge, Kabupaten Asahan hingga menikah dan punya anak.

Di saat anak-anak mulai besar dan membutuhkan pendidikan terbaik, akhirnya Daniel Simanjuntak dan keluarga memilih kembali ke kota kelahirannya, Pematangsiantar.

Hanya saja ia tetap mengabdi di Bandar Pasir Mandoge, yakni sebagai Kepala Desa (Kades) Tomuan Holbung. Tak masalah baginya menempuh perjalanan Siantar-Mandoge dan sebaliknya demi membagi waktu antara keluarga dengan warga Desa Tomuan Holbung.

Desa Tomuan Holbung sempat viral di media sosial beberapa waktu lalu. Desa itu menjadi perhatian publik saat murid-murid Sekolah Dasar (SD) memegang selembar kertas kardus bertuliskan permohonan kepada Presiden Joko Widodo agar desa mereka dialiri listrik dari PT PLN.

Menurut Daniel, desa yang dipimpinnya memang termasuk tertinggal. Padahal mayoritas lahan di desa itu milik salah satu perusahaan perkebunan swasta nasional. Sehingga lebih banyak warga yang terdata sebagai karyawan perusahaan perkebunan dibandingkan profesi lainnya.

Upaya warga ‘berteriak’ melalui media sosial akhirnya membuahkan hasil. Tahun 2017 lalu PT PLN telah memasang jaringan listrik ke 10 dusun yang ada di desa itu.

Sehingga, sehari sebelum peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-72 Kemerdekaan Indonesia, atau tanggal 16 Agustus 2017, Desa Tomuan Holbung telah merdeka dari kegelapan. Warga senang. Apalagi, anak-anak bisa belajar dengan baik di malam hari.

Daniel merupakan satu dari 17 kepala desa petahana yang terpilih kembali dalam Pilkades Serentak Kabupaten Asahan, Desember 2019 lalu. Pria kelahiran Pematangsiantar, 20 April 1970 itu mengaku kali pertama datang ke Desa Tomuan Holbung tahun 1998.

Di tahun 1998, anak kedua dari lima bersaudara itu memutuskan drop out dari perguruan tinggi. Sebelumnya, ia sempat kuliah di Universitas HKBP Nommensen dan Universitas Panca Budi Medan.

Orangtuanya, terutama sang ayah yang bertugas di salah satu perusahaan perkebunan BUMN memaksa putranya itu meninggalkan Kota Medan dan menetap di Bandar Pasir Mandoge. Daniel diminta membuka perkebunan kelapa sawit di lahan yang telah disediakan orangtuanya.

Daniel tak membangkang. Sesuai arahan orangtua, Daniel pindah ke Tomuan Holbung dan beradaptasi di daerah yang sebenarnya asing baginya.

Mau tak mau, suka tidak suka, Daniel bekerja keras. Ia berkebun dan berbaur dengan warga setempat. Daniel berhasil. Ia menjadi bagian dari warga Tomuan Holbung. Namun secara administrasi, Daniel baru resmi menjadi warga Tomuan Holbung sekitar lima tahun kemudian, atau di tahun 2003.

Di tahun 2004, Daniel menemukan jodohnya, Murni Sitorus. Perempuan asal Rantauprapat Kabupaten Labuhanbatu itu kebetulan bekerja sebagai karyawan di perusahaan penampungan tandan buah segar (TBS) kelapa sawit milik temannya.

Setelah berkeluarga, Daniel makin betah di desa itu. Atas dukunga warga, Daniel mengikuti Pilkades di tahun 2013 dan terpilih.

Setelah menjabat kepala desa, Daniel berusaha agar desa yang dipimpinnya semakin baik. Ia bertekad, Desa Tomuan Holbung harus berkembang dan keluar dari ketertinggalan.

Masih menurut Daniel, ke depan ia berharap pembangunan infrastruktur jalan desa untuk menunjang roda perputaran ekonomi dan kemudahan trasportasi bisa terealisasi.

“Saat ini ada dana Rp1,18 miliar dari APBD telah digelontorkan untuk pembangunan jalan dan sedang dikerjakan,” katanya.

Dikatakan Daniel, di Desa Tomuan Holbung ada Air Terjun Turunan Bolon atau yang sering disebut Air Terjun Turbo. Air terjun tersebut bisa dimanfaatkan untuk pembangkit listrik tenaga mikro.

“Juga berpotensi untuk objek wisata. Namun akses dan sarana transportasi harus dibenahi,” tukasnya. (awa)



Pascasarjana

Unefa
Back to top button