Lifestyle

Christina Oktavia Hasibuan Mencintai Anak-anak Berkebutuhan Khusus

Anak-anak Berkebutuhan Khusus (ABK) merupakan anak-anak istimewa. Meski memiliki perbedaan dari anak-anak normal, mereka tetap memiliki hak yang sama, termasuk untuk pendidikan dan pengembangan bakat serta minat. Jadi tidak ada alasan untuk mengucilkan mereka.

Pemikiran tersebut disampaikan psikolog Christina Oktavia Hasibuan. Sebagai psikolog, Tina-sapaan akrabnya-memang sangat peduli dengan para ABK. Baginya, dunia ABK ibarat hutan yang masih asli, belum terjamah, namun memiliki keindahan luar biasa.

“Masuk ke dunia ABK itu sebenarnya indah, menyenangkan, dan menantang. Anak-anak istimewa itu juga memiliki potensi masing-masing, dan bila diberikan kesempatan untuk pengembangan diri, mereka bisa mandiri,” terang bungsu dari lima bersaudara ini.

Pemilik Biro Psikologi Betshalam di Jalan Laguboti, Kelurahan Kristen, Pematangsiantar ini, juga aktif di Yayasan Kita Serupa. Bahkan ia menjabat sebagai ketua. Yayasan tersebut, fokus dan peduli dengan para ABK yang ada di Pematangsiantar.

Melalui Yayasan Kita Serupa, kata Tina, ia dan rekan-rekannya berusaha mengedukasi masyarakat seperti apa sebenarnya ABK.

“Selama ini masih banyak masyarakat yang menganggap ABK itu buruk dan sepele dengan mereka. Padahal ABK itu tidak seseram anggapan banyak orang. Kita harus memberikan kesempatan kepada mereka untuk bisa hidup mandiri,” jelas Tina, dan menambahkan Yayasan Kita Serupa sudah beberapa kali menggelar kegiatan, dan dalam setiap kegiatan menggandeng komunitas ABK.

Istri dari Anwar Situmorang ini mengaku sangat mencintai dunia ABK. Kebetulan, ia memiliki beberapa pasien (klien) ABK yang rutin mengikuti terapi dengannya. Para ABK itu, termasuk yang selalu mengikuti kegiatan Yayasan Kita Serupa, selalu disebut sebagai anak-anaknya.

“Anak saya banyak. Mereka anak-anak yang rutin terapi di Betshalam dan yang sering mengikuti kegiatan di Yayasan Kita Serupa. Mereka semua anak-anak saya,” tukas alumni Fakultas (sarjana) Psikologi Universitas HKBP Nomensen Medan ini.

Tina sangat mendukung para ABK bersekolah di sekolah umum. Asalkan, sebelumnya  sudah dibekali (dengan kemampuan dan keteterampilan terlebih dahulu) supaya bisa beradaptasi dengan anak lain. Contohnya, mereka punya kemampuan beradaptasi, bermain, menunggu giliran, duduk tenang di kelas, bahkan meregulasi emosi.

Diakui Tina, sebenarnya tanpa sengaja ia kuliah di bidang psikologi. Soalnya, saat SMA, ia justru lebih minat dengan bidang teknik. Sehingga ketika ada kesempatan masuk perguruan tinggi negeri (PTN) dari jalur prestasi, ia memilih jurusan Teknik Perkapalan Universitas Diponegoro (Undip) Semarang.

Meski dinyatakan lulus, namun Tina gagal kuliah di Semarang. Penyebabnya, sebagai anak bungsu ia dilarang kedua orangtua untuk kuliah jauh dari daerah asalnya, Kota Tebingtinggi.

“Saya kan sudah minum obat kalau sakit. Dan itu dijadikan senjata orangtua untuk melarang saya kuliah di Jawa. Akhirnya saya bingung sendiri mau kuliah di mana. Apalagi setelah saya tidak lulus seleksi penerimaan mahasiswa baru di PTN,” sebut perempuan, yang sempat bercita-cita menjadi pilot dan teknisi ini.

Di tengah kebingungan, seorang teman menyarankan Tina supaya kuliah di Fakultas Psikologi Universitas HKBP Nommensen. Jadilah Tina kuliah di sana.

“Padahal saya minatnya ke teknik. Tapi entah mengapa saya ikuti saran kawan untuk kuliah di psikologi. Setelah dijalani, ternyata menyenangkan,” tandas Tina yang kemudian melanjutkan pendidikan strata dua (S-2) di Universitas Padjajaran (Unpad) Bandung.

Setelah menikah, Tina menetap di Pematangsiantar. Kebetulan, suaminya yang berasal dari Medan, bekerja di Pematangsiantar. Meski kini, sang suami malah sudah pindah bekerja di Belawan, Medan, Tina tetap di Pematangsiantar.

“Jumat suami sudah di Siantar. Kalau komunikasi by phone, setiap hari,” ujar Tina yang sejak remaja ingin menghilangkan stigma anak bungsu itu manja.

Sebagai bukti, lanjutnya, selepas lulus SMP, Tina berangkat seorang diri ke Pandan, Tapanuli Tengah (Tapteng) untuk mengikuti ujian masuk SMA Matauli. Meski tidak lulus, paling tidak Tina merasa sudah bisa menunjukkan dirinya mampu mandiri.

“Waktu mendaftar di SMA Negeri di Tebingtinggi pun, saya sama sekali tidak diantar. Saya pergi sendiri. Yang pasti orangtua tau saya ke mana, termasuk saat saya ke Tapteng,” papar Tina, yang sempat bekerja sebagai terapis ABK di Medan sebelum melanjutkan kuliah S-2.

Kini, selain fokus dengan Biro Psikologi Betshalam, Tina juga kerap diminta melakukan psikotes oleh beberapa gereja dan sekolah.

“Para calon pendeta kan perlu menjalani psikotes. Sedangkan di sekolah, saya biasanya diminta melakukan tes kematangan sekolah, penjurusan, minat dan bakat,” tandas Tina yang juga sering diminta menjadi narasumber dalam seminar psikologi, termasuk hingga ke Kabupaten Karo.

Tes kematangan sekolah, sambungnya, menggunakan alat untuk mengetahui apakah seorang anak yang usianya belum tujuh tahun sudah bisa masuk sekolah dasar (SD) atau belum. Selain itu, melalui tes, bisa diketahui apakah seorang anak mampu mengikuti proses belajar mengajar di sekolah tertentu.

“Tes itu penting. Agar orangtua juga tau kemampuan anaknya. Jangan memaksakan anak-anaknya untuk bersekolah di sekolah tertentu, padahal anaknya tidak mampu,” tukas perempuan yang hobi menonton film dan jogging ini.

Ke depan, Tina memiliki sejumlah impian dan harapan. Antara lain, ingin memiliki sekolah sesuai perkembangan anak. Sekolah tersebut, lanjutnya, memberikan kebebasan kepada anak untuk belajar sesuai minat dan bakatnya. Selain itu, Tina ingin membuka Pusat Tumbuh Kembang Anak.

Impian lainnya, berharap ABK di Pematangsiantar mendapatkan hak-haknya, termasuk hak pendidikan dan hak hidup). Ia juga ingin ABK bisa diterima di sekolah umum,yang sesuai dengan program sekolah inklusi dari pemerintah. Lalu, ABK punya tempat bermain di tempat umum, bahkan bisa mengikuti berbagai kegiatan pendidikan, olahraga, dan kesenian hingga ajang nasional, bahkan internasional.

“Padahal ada ajang untuk penyandang disabilitas, seperti Asian Paragames,” terang cewek kelahiran Tebingtinggi tanggal 18 Oktober ini. (awa)

Unefa

Pascasarjana

Tags

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker
Close