Lifestyle

Camelia Utami Rahasia Resep Bawang Goreng dari Mertua

FaseBerita.ID – Bakat dan hobi di bidang marketing membuat Camelia Utami selalu bersemangat memasarkan berbagai produk, termasuk milik teman dan juga mertua. Kebetulan sang mertua memproduksi bawang goreng home industry (rumahan) sejak lama.

Tak sia-sia, Tami-panggilan akrabnya, memiliki banyak pelanggan bawang goreng. Tentu saja mertua makin bersemangat. Melihat penjualan Tami makin lancar, akhirnya mertua meminta Tami memproduksi sendiri bawang goreng.

“Istilahnya, pisah usaha dari mertua. Tapi pelanggan yang sudah saya rintis tetap menjadi milik saya. Kami jalan masing-masing. Tapi kalau salah satu dari kami tiba-tiba butuh bawang goreng dalam jumlah besar, biasanya saling membantu. Mungkin itu juga tujuan mertua meminta saya berusaha sendiri,” terang istri dari Agus Syahputra Ritonga ini.

Tami pun belajar membuat bawang goreng dari mertua. Tentu saja sekaligus resep rahasia yang membuat bawang gorengnya berbeda dari yang lain.

“Ya, saya mewarisi resep rahasia bawang goreng dari mertua. Yang pasti, bawang goreng kami benar-benar asli dari bawang goreng pilihan,” tukas ibu dua anak ini, yaitu Azka Ramadhan Syahputra Ritonga (5,5) dan Alzhafran Syahputra Ritonga (3,5).

Setiap minggu, sedikitnya Tami memproduksi 300 kilogram bawang goreng. Bawang yang dipasok dari supplier langganan, dikupas dan diiris. Biasanya yang mengerjakan beberapa pegawai. Sedangkan untuk menggoreng, langsung dikerjakan sendiri oleh Tami yang usaha bawang gorengnya berlamat di Jalan Nagur No 87 Pematangsiantar.

Selanjutnya, bawang goreng yang diberi merek Bawang Goreng Bunda Azka tersebut dikemas dalam berbagai ukuran. Ada ukuran 1, 2, 5, 10, 15, dan 20 kilogram.

“Pelanggan saya pedagang bawang goreng di pasar-pasar tradisional, termasuk di Pekan Tigaraja, Parapat. Termasuk rumah makan yang berada di kawasan Panatapan, Parapat. Juga ada pelanggan di Tebingtinggi dan Medan. Selebihnya, pedagang bakso dan miesop di Siantar,” tukas alumni Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Simalungun (FKIP USI) Pematangsiantar tersebut.

Masih menurut Tami, kini ia kerap berkutat dengan kuali besar dan bawang goreng. Padahal di masa remaja, meskipun keluarganya memiliki rumah makan di kawasan wisata Parapat, namun ia nyaris tidak pernah bersentuhan dengan dapur.

“Saya ambil peranan di depan. Karena memang saya hobi marketing atau berjualan,” sebut sulung dari dua bersaudara, buah hati Syamsudin Sitorus dan Masdalina Piliang ini.

Meski begitu, Tami tetap berkeinginan membuka rumah makan sendiri. Ia ingin meneruskan usaha keluarganya.

“Sekarang kan rumah makan kami yang di Parapat sudah tutup. Orangtua saya pun sudah pindah ke Tanjungbalai,” ujar perempuan berhijab, yang sempat menjadi guru di salah satu Madrasah Tsanawiyah (MTs) di Parapat di masa kuliah.

“Justru setelah wisuda sampai sekarang, saya nggak pernah mengajar. Padahal guru adalah cita-cita saya. Tapi memang saya lebih berbakat di bidang marketing. Saya suka berdagang, promosi, dan bertransaksi,” tambah Tami yang mengaku dengan berbisnis bisa mengatur waktu sendiri, dan tidak bekerja di bawah tekanan. (awa)

Unefa

Pascasarjana


Tags
Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker