Lifestyle

Brigadir Stephanie Teranita Simamora Sempat Diminta Orangtua jadi Bidan

Sejak kecil, Brigadir Stephanie Teranita Simamora bercita-cita menjadi Polisi Wanita (Polwan). Cita-cita itu tidak pernah berubah hingga Vani (panggilan akrab) lulus SMA.

Tak heran bila menjadi Polwan telah merasuk dalam pikirannya. Sebab ayahnya, PS Simamora memang berprofesi sebagai polisi dan saat ini masih bertugas di Polres Simalungun.

“Sejak kecil memang nggak pernah berubah. Pengennya, ya jadi Polwan. Apalagi tinggalnya di lingkungan polisi,” kata sulung dari tiga bersaudara ini yang kini bertugas di Satuan Lalu-lintas (Satlantas) Polres Pematangsiantar.

Tekadnya, lulus SMA, harus ikut ujian penerimaan Polwan. Alhasil, di saat teman-teman sekolahnya ikut les dan bimbingan belajar untuk persiapan masuk Perguruan Tinggi Negeri (PTN), ia tenang-tenang saja. Padahal saat itu, ada saja temannya yang mengajaknya sama-sama ikut bimbingan belajar.

“Kubilang sama kawan, aku ga minat kuliah. Aku mau jadi Polwan,” tukas perempuan berkulit putih ini.

“Jadi pas saat lulusan SMA dan coret-coret seragam, kawan-kawan banyak yang menulis pesan semoga aku sukses jadi Polwan,” kenang Vani.

Namun saat baru lulus SMA di tahun 2008, ia harus mengubur dulu cita-citanya. Sebab saat itu, usianya masih 16 tahun. Padahal, untuk bisa ikut ujian penerimaan Polwan, minimal harus berusia 17 tahun 6 bulan.

Tahun depannya, atau medio 2009 barulah Vani mengikuti ujian penerimaan Polwan di Poldasu. Dari 300-an peserta seleksi saat itu, yang dinyatakan lulus dan dilantik hanya 16 orang. Dan Vani salah satunya.

“Setelah dinyatakan lulus seleksi, mengikuti pendidikan selama lima bulan di Sekolah Polisi Wanita, di Ciputat, Jakarta Selatan (Jaksel). Desember 2009, barulah dilantik,” terang alumni SMA Negeri 4 Pematangsiantar ini.

Diakui Vani, awalnya kedua orangtuanya tidak mengizinkan ia menjadi Polwan. Apalagi sang ayah. Mereka, kata Vani, justru berharap anak perempuan satu-satunya itu menjadi seorang bidan. Alasannya sederhana, agar Vani bisa mengurus keduanya di masa tua dan saat sakit.

“Tapi aku nggak minat sama sekali jadi bidan. Aku tetap ingin jadi Polwan,” katanya.

Sebagai persiapan, saat duduk di kelas 3 SMA, Vani memotong pendek rambutnya yang panjang. Alasannya, agar saat ia menjadi Polwan, orangtuanya tidak kaget melihat rambutnya yang selama ini panjang terurai, tiba-tiba menjadi sangat pendek.

Tak ayal, ayahnya marah. Bahkan ia sempat tidak ditegur sapa. Bagi ayahnya, perempuan itu harus berambut panjang, dan jangan bekerja di lapangan.

Untuk menyenangkan hati orangtua, setelah lulus SMA ia menurut saja ketika diminta mengikuti ujian masuk Akademi Kebidanan (Akbid) di salah satu perguruan tinggi.

“Tapi pas ujian, ga ada kujawab soal-soalnya. Aku udah yakin pasti ga lulus. Selesai ujian, aku ke Medan, ke rumah saudara,” sebut Vani.

Pengumuman dari Akbid keluar saat ia masih berada di Medan. Sang ibu, Yanti Saragih menelepon dan dengan sedih mengatakan putrinya tidak lulus.

“Kubilang, kalau aku udah tau bakal nggak lulus. Karena saat ujian soal-soalnya nggak ada aku jawab,” sebutnya lagi.

Akhirnya orangtua ‘mengalah’. Mereka pun mendukung cita-cita Vani. Bahkan, sang ibu yang mengantar Vani saat hendak mengikuti ujian penerimaan Polwan di Medan, dan menghadiri pelantikan Vani di Jakarta, Desember 2009.

“Bapak nggak datang saat aku dilantik. Katanya, aku harus dibawa pulang ke Medan naik pesawat Garuda. Jadi dia mengalah nggak datang biar uang tiketnya bisa beli tiket Garuda. Saat itu aku menangis. Kubilang, pulang ke Medan naik kapal laut atau bus pun nggak apa-apa, yang penting bapak datang. Tapi rupanya udah tekad dia membeli tiket Garuda untuk aku,” kenang Vani yang berulang tahun setiap 18 Agustus ini.

Awal bertugas, Vani ditempatkan di Polres Nias. Namun tiga bulan kemudian, ia dimutasi ke Poldasu. Sempat bertugas di Padangsidimpuan, dan kemudian di akhir tahun 2013 ia ‘pulang kampung’ ditempatkan di Polres Pematangsiantar.

Di Polres Pematangsiantar, sebelum di Satlantas, Vani sempat bertugas di Sat Reskrim Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) dan Sat Narkoba.

Menjadi Polwan, kata Vani, tentunya ada suka dan dukanya. Sukanya, bahagia jika telah selesai membantu orang lain.

“Misalnya, saya membantu seorang ibu menyeberang jalan. Setelah selesai, dia ucapkan terima kasih. Saat itu rasanya bahagia kali,” ujar Vani yang masih berstatus single ini.

Dukanya, ada saja warga yang mencela saat ia bertugas. Bahkan menganggap polisi dan Polwan tidak adil dan memihak. Padahal saat bertugas, mereka selalu berusaha persuasif dan mengayomi.

Lantas, apa yang paling berkesan selama bertugas sebagai Polwan?

Vani menceritakan, pernah saat bertugas di Unit PPA ia menangani kasus pertengkaran ibu rumah tangga yang bertetangga. Ketika itu, ia bisa menyelesaikan kasus tersebut dengan mediasi.

“Jadi ibu itu, usianya 50-an merasa senang. Dia datang mencari aku ke kantor. Dia bawa pisang untuk aku. Katanya dari kebunnya sendiri. Duh, saat itu aku terharu kali,” beber Vani, yang selalu menjaga kebugaran dengan mengikuti Zumba. (awa)