Lifestyle

Binsar Sihite Tak Sembarangan Menerjemah

Menjadi penerjemah dari Bahasa Inggris ke Bahasa Indonesia atau sebaliknya bukan hal mudah. Seorang penerjemah tidak hanya harus menguasai perbendaharaan kata, namun wajib memahami berbagai istilah dalam berbagai disiplin ilmu.

Seperti pengalaman Binsar Jhon Hery Sihite. Sebagai penerjemah, ia juga dituntut untuk mempelajari ilmu pengetahuan lainnya. Jangan sampai terjemahannya melenceng dari maksud dan tujuan penulis bahasa sumber. Misalnya untuk terjemahan dalam bidang hukum.

“Dalam hukum, sangat banyak istilah. Seorang penerjemah harus  sangat hati-hati dalam menerjemahkannya. Jangan sampai menimbulkan makna ambigu. Pesan dosen saat saya kuliah S-2 di Universitas HKBP Nommensen Pematangsiantar, dalam translasi harus jujur dan tidak memiliki tendensi terhadap salah satu paham maupun ideologi tertentu. Jangan sampai menimbulkan gejolak. Sebab ada potensi kejahatan dalam translasi,” terang pria kelahiran Parapat, Kabupaten Simalungun, 11 Juni 1985 lalu.

Binsar menghabiskan masa kecil hingga SMA di kota turis Parapat bersama saudara-saudaranya dan kedua orangtua, Mangara Sihite dan Rosdiana Simamora. Lulus dari SMA Negeri 1 Parapat, ia memilih kuliah di Jakarta, jurusan Bahasa Jepang.

Setelah meraih gelar sarjana, Binsar bekerja di salah satu perusahaan pembiayaan di bagian Pengembangan operasional.

Hanya saja, meski telah bekerja, ia merasa masih ada yang kurang. Setelah berdiskusi dengan orangtua, Binsar memutuskan kuliah lagi, di Universitas Indraprasta PGRI Jakarta, jurusan Pendidikan Bahasa Inggris.

Sambil kuliah, Binsar menjadi guru bantu di salah satu sekolah swasta berstandar internasional. Tugasnya, lebih banyak di bidang administrasi siswa-siswa di kelas, termasuk menyiapkan laporan masing-masing siswa yang akan dikirimkan kepada orangtua.

“Siswa-siswanya banyak ekspatriat. Warga negara Amerika, Cina, Korea, India, Iran, dan lainnya. Bahasa pengantarnya Bahasa Inggris. Jadi di sekolah itu kemampuan Bahasa Inggris saya benar-benar ditempa. Itulah tempat kuliah sebenarnya. Di kampus saya belajar teori, di sekolah saya langsung praktek,” terang Binsar yang mengaku sering dikoreksi siswanya dalam penggunaan Bahasa Inggris.

Selanjutnya, Binsar mulai mengajar kursus Bahasa Inggris di salah satu lembaga pendidikan. Kemudian, ia menerima murid private. Terakhir, siswanya seorang manajer di salah satu perusahaan besar di Jakarta.

Kebetulan, siswanya itu sedang dipromosikan menjadi area manager, sehingga ingin meningkatkan kemampuannya berbahasa Inggris.

Dalam mengajar, tak jarang waktu yang dipergunakan melewati yang sudah disepakati. Namun itu tidak menjadi masalah baginya. Keberhasilan siswanya menjadi prioritas utamanya. Keikhlasan dan profesionalisme menjadi kuncinya.

Sekitar tiga bulan kemudian, Puji Tuhan, siswa tersebut diangkat sebagai area manager. Dan honor saya diberikannya dua kali lipat. Sebenarnya bukan semata materi, tapi saya puas pengajaran saya membuahkan hasil yang baik,” tukas anak kedua dari empat bersaudara itu.

Sekitar enam bulan sebelum wisuda, Binsar memutuskan menikah dengan kekasih hatinya yang menetap di Pematangsiantar, Sonya Zorya Sitompul, bidan di salah satu rumah sakit swasta. Mereka mengikat janji pra nikah (martuppol) di Pematangsiantar, sedangkan pembaptisan, acara adat, dan resepsi di Pematangsiantar.

Setelah menikah, Binsar kembali ke Jakarta, dan istrinya tetap di Pematangsiantar. Barulah setelah Binsar wisuda, diputuskan keduanya sama-sama tinggal di Pematangsiantar.

“Ada berbagai pertimbangan mengapa saya yang ikut ke Siantar daripada istri yang ke Jakarta,” kata ayah seorang putri ini, Richelle Achiera Sihite (3).

Di Pematangsiantar, Binsar diterima sebagai guru di sekolah yang berada di kawasan Jalan Sangnaualuh Damanik. Sambil ia melanjutkan kuliah Strata Dua (S-2) di Universitas HKBP Nommensen Pematangsiantar. Di saat itulah, dia menerima orderan terjemahan. Kebetulan, saat masih di Jakarta, ia sudah mendaftar sebagai penerjemah di salah satu akun online

Lulus S-2, Binsar pindah tempat mengajar. Kali ini di sekolah di salah satu komplek pusat bisnis di Jalan Sutomo. Namun tak lama ia di situ. Selanjutnya ia hijrah ke Medan, setelah diterima di salah satu sekolah berstandar internasional di Jalan Jamin Ginting.

Di sekolah yang berpusat di Amerika Serikat itu, Binsar juga menjadi instruktur bagi guru-guru bidang studi lainnya agar lebih menguasai bahasa Inggris. Binsar juga berkesempatan mengikuti training di Jakarta guna memahami sistem dan operasional sekolah.

Selain mengajar, Binsar kerap diminta untuk memeriksa kesesuaian Bahasa Inggris yang digunakan guru dalam berbagai keperluan yang terkait dengan penulisan dalam bahasa Inggris.

Saat ini Binsar tergabung menjadi anggota muda di Himpunan Penerjemah Indonesia (HPI). Binsar mengaku terus berupaya mengembangkan diri, terutama dalam bidang translasi. Kini, ia banyak menerima orderan terjemahan untuk abstrak dalam skripsi. Juga artikel, opini, dan tulisan ilmiah lainnya yang akan dikirim ke jurnal internasional

“Ada juga permintaan terjemahan dari salah satu stasiun televisi,” tandas pria yang berada di Medan Senin-Jumat, dan Jumat malam sudah di Pematangsiantar, lalu Minggu malam sudah di Medan kembali. (awa)



Unefa

Pascasarjana
Tags

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker
Close