Lifestyle

Ayu Yustika Sari: Bisnis Pakai Hati

FaseBerita.ID – Tidak mudah menjalankan bisnis. Kemungkinan dicurangi, dikhianati, bahkan ditipu pasti ada. Namun Ayu Yustika Sari tidak gentar. Dia nekat memulai bisnisnya, dan memegang teguh pesan almarhum ayahnya.

“Saat awak bilang mau mulai bisnis, papa berpesan agar menjalankan bisnis pakai hati. Itu yang saya pegang, sampai papa meninggal dunia,” kata Ayu, pemilik Goodies Ice Cream Café dan Goodies Fashion Store di Jalan Kompi No 5 Pematangsiantar itu.

Perempuan yang juga berprofesi sebagai guru Bahasa Inggris di SMK Kesehatan Mutiara Pematangsiantar itu kali pertama memulai bisnis fashion. Ia bersama adiknya, Novi Yustika Aryanti di tahun 2015 nekat berangkat ke Bangkok, Thailand untuk berbelanja pakaian. Padahal, kata anak ketiga dari empat bersaudara ini, mereka sama sekali belum pernah menginjakkan kaki di negeri  Gajah Putih itu.

“Kami nggak ada minta modal dari orangtua. Saat itu kami menjual barang-barang berharga yang kami punya, seperti perhiasan dan handphone. Tapi, Alhamdulillah kami nggak ada kesasar, meski kadang-kadang harus berputar-putar. Ya, kami semacam backpacker gitu lah di sana. Kebetulan adik kan memang senang travelling,” terang istri dari Muhammad Zein Sikumbang ini.

Dari Bangkok, mereka membawa pulang sekitar 100 pieces pakaian. Hanya dalam dua hari, pakaian-pakaian tersebut sold out (habis terjual). Ayu dan adiknya pun tambah semangat. Mereka kembali lagi ke Bangkok, dan belanja lagi. Begitu seterusnya, hingga kemudian mereka minta izin kepada sang ayah untuk menggunakan salah satu ruangan di rumah sebagai store.

“Kita memang sengaja belanja ke Bangkok. Kadang-kadang juga ke Kuala Lumpur. Itu semua demi kualitas. Konsumen kita senang baju branded (bermerek),” tukas Ayu, yang pelanggannya banyak dari online dan berasal dari luar Kota Pematangsiantar, bahkan hingga Papua dan Penang, Malaysia.

Sekitar sebulan kemudian, Ayu membuka Goodies Ice Cream Pot, tepatnya 31 Maret 2015. Kata Ayu, awalnya ia berjalan-jalan, sampai di Hatyai, yaitu di perbatasan Malaysia dengan Thailand. Nah, di situ ada yang menjual ice cream pot. Ukurannya besar dan buah-buahannya segar. Sehingga Ayu bertekad usaha yang sama.

Selain itu, tambahnya, ia memang berniat membuka kafe karena pelanggan toko pakaiannya mulai ramai. Tak jarang, mereka harus menunggu dilayani selama hingga satu jam.

“Kalau ada tempat minum dan makan, kan enak. Mereka nggak perlu suntuk menunggu,” sebut Ayu, yang lagi-lagi meminta izin kepada ayahnya untuk menggunakan teras rumah sebagai tampat usaha kafe.

Karena kafe berkembang. Ayu pun ingin memperluas tempat usahanya. Kembali, ia mohon agar taman milik ayahnya yang berada di depan rumah, ‘dirusak’.

“Kalau uang, Insha Allah nggak ada minta dari orangtua. Tapi ya itu, taman papa dihancurkan demi usaha anaknya,” ujar Ayu, yang juga tidak ada meminjam uang dari bank atau dari mana saja untuk modal usaha.

Seiring waktu, usahanya berkembang. Namun ternyata Tuhan punya rahasia dan rencana. Sang ayah, yang selalu memberikan motivasi bisnis, meninggal dunia. Ayu terpuruk.

“Di saat bersamaan, saya juga diterpa masalah pribadi. Saat itu, saya malas berbuat dan nggak fokus,” sebut wanita yang berulang tahun setiap tanggal 21 September ini.

Namun kemudian, Ayu sadar. Bisnis itu dibangunnya dari nol. Banyak tenaga, waktu, dan uang yang sudah dicurahkan.

“Saya mulai bangkit. Bahkan adik saya menambah bisnisnya, yakni Event Organizer dan Wedding Organizer,” terang alumni Universitas Simalungun (USI) ini lagi.

Ayu, yang sesekali menerima permintaan menjadi Master of Ceremony (MC) di berbagai acara ini, memiliki mimpi besar.

“Saya ingin punya sekolah bisnis. Ada TK hingga perguruan tinggi. Sejak di TK, murid-murid sudah menggunakan Bahasa Inggris, tapi dengan biaya yang relatif terjangkau. Kebetulan saya suka anak-anak,” kata Ayu yang bersama suaminya tinggal di Jalan Merpati Gang Masjid.

Selain itu, Ayu ingin selalu bisa berbuat baik kepada orang lain.

“Intinya, berguna bagi orang lain,” tukas Ayu lagi. (awa)

USI