Lifestyle

Asima Rohani Bakkara: Lockdown di Swedia, jadi Lebih Dekat dengan Keluarga

FaseBerita.ID – Mewabahnya Virus Corona Disease (Covid-19) di seluruh dunia, membuat banyak negara mengeluarkan kebijakan lockdown. Salah satunya Swedia.

Salah seorang warga negara Swedia yang berasal dari Kabupaten Simalungun, Asima Rohani Bakkara menceritakan bagaimana ia dan warga di sana menjalani hari-hari selama lockdown.

Menurut Asima, selama lockdown warga diminta tetap berada di dalam rumah. Meski masih ada juga perusahaan yang tetap beroperasi. Pemerintah, katanya, setiap saat meng-up date informasi tentang Covid-19. Termasuk terus meminta warga tetap berada di rumah, mencuci tangan menggunakan sabun, dan menjaga jarak (social distancing).

Perempuan asal Parapat, Kecamatan Girsang Sipangan Bolon, Kabupaten Simalungun ini menceritakan, sejak lockdown diberlakukan, ia yang bekerja di salah satu rumah sakit di sana, tetap berada di rumah.

“Kebetulan saya mengalami flu. Jadi, kena flu sedikit saja, sudah harus berada di rumah. Setelah sembuh pun, tetap harus berada di rumah selama 36 jam,” tukas Asima yang bersuamikan warga negara Swedia.

Di Swedia, lanjutnya, warga patuh dengan imbauan pemerintah untuk tidak berada di keramaian. Alhasil, jalan raya sangat sepi. Sebab mereka yang tetap bekerja memilih menggunakan kendaraan pribadi.

“Jalanan seperti rumah hantu karena sepi. Taksi-taksi tidak ada penumpang karena orang-orang naik kendaraan sendiri,” sebut wanita yang tinggal di Lund ini.

Selama masa lockdown, Asima mengaku bisa lebih dekat dengan keluarga. Selama ini, katanya, setelah pulang dari bekerja, biasanya ia sudah lelah, dan hanya sempat beberapa saat bermain bersama anak. Di rumah, ia melakukan hal-hal yang menyenangkan yang selama ini sangat jarang dilakukan.

“Saya memasak, mencoba resep masakan baru, main Lego sama anak, dan juga menonton film,” terangnya.

Hal lainnya, berkomunikasi dengan keluarga melalui video call.

“Dengan keluarga di Indonesia dan juga yang ada di Swedia. Termasuk kakek dan nenek anak-anak di Swedia,” ujar Asima, dan menambahkan, mereka tidak mengunjungi mertuanya karena dikhawatirkan membawa virus dari luar.

“Mereka sudah lanjut usia dan dianggap sangat rentan dan beresiko. Di Swedia, justru murid TK, SD, dan SMP tetap bersekolah,” tandasnya.

Meski lockdown, sambungnya, mereka masih bisa keluar rumah. Misalnya ke kebun dan ke taman-taman yang tidak ramai.

“Kita ke kebun menikmati sinar matahari. Kebetulan saat ini mulai musim semi, meskipun masih terasa dingin. Kemarin kita bakar-bakar ikan di kebun,” jelas Asima yang mengaku sebelum masa lockdown ia telah menyediakan stok sembako di rumahnya.

Lebih lanjut Asima menjelaskan, di Swedia, masker dan hand sanitizer juga terbatas. Memang masih ada dijual dan harganya tidak boleh dinaikkan.

“Di Eropa terbatas. Setiap keluarga dibatasi pembeliannya. Kalau Alat Perlindungan Diri (APD) untuk tenaga kesehatan, di rumah sakit masih banyak persediaan. Hanya saja untuk ke depan, mungkin saja kekurangan. Makanya banyak warga yang membantu membuat sendiri,” tuturnya. (awa)