Lifestyle

Apni Olivia Naibaho: Petani Milenial Fokus ke Pertanian Organik

Menjadi petani awalnya tak pernah ada di benak Apni Olivia Naibaho. Apalagi ia bukan berasal dari keluarga petani. Kedua orangtuanya justru dari kalangan birokrat.

Bahkan, saat kuliah Apni mengambil jurusan Manajemen Sumber Daya Manusia (SDM) Fakultas Ekonomi Universitas Bung Karno Jakarta. Dan setelah lulus kuliah, Apni bekerja di salah satu Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), yang senantiasa mendampingi kaum marjinal, termasuk petani.

“Saat bekerja di LSM itulah, saya melihat ternyata banyak petani di Jawa tidak miskin. Mereka hidup sejahtera. Setelah saya perhatikan, rupanya mereka tidak lagi bertani konvensional. Mereka sudah beralih ke pertanian organik,” terang sulung dari tiga bersaudara ini.

Hingga suatu hari, Apni terpikir untuk pulang kampung ke tempat kelahirannya, Kota Pematangsiantar. Alasannya, kedua orangtua yang sudah memasuki masa pensiun, dan tidak ada yang menemani. Sebab kedua adiknya, laki-laki kembar, bekerja di luar kota.

Sebelum pulang, Apni bertekad harus ada sesuatu yang bermanfaat yang bisa dibawanya. Paling tidak, bisa memberikan perubahan positif bagi hidup orang lain.

Apni pun berpikir, “Sangat bagus jika petani-petani di Siantar beralih ke pertanian organik.”

Sebagai bekal, Apni belajar tentang pertanian organik di kawasan Sentul. Ilmu dari Sentul-lah yang dibawanya sebagai buah tangan untuk Pematangsiantar.

“Saya pulang ke Siantar dengan membawa mimpi, yakni mengajak petani tradisional beralih ke pertanian organik. Bukan hanya di Pematangsiantar, namun di Sumatera Utara secara keseluruhan,” tegas Apni.

Tahun 2013, Apni memulai misinya. Bersama seorang rekannya, ia mengontrak lahan di salah satu kawasan di Pematangsiantar dan mulai bertani organik. Ia menanam tanaman yang sudah bisa panen dalam satu bulan hingga tiga bulan. Seperti kangkung, bayam, terung, kacang panjang, dan buncis.

Untuk pupuk, karena konsepnya memang pertanian organik, tentunya tanpa bahan kimia sama sekali. Pupuk yang digunakan, selain kompos adalah pupuk kandang, cacahan batang pisang, campuran ampas ikan dan gula merah, sabut kelapa plus air, dan juga campuran cangkang telur dengan air kelapa.

Pupuk tersebut, kata Apni, biasanya sekali pembuatan untuk stok selama empat bulan.

“Jadi hasil tanaman organik itu harganya lebih mahal, selain karena lebih sehat juga karena prosesnya lebih rumit. Kalau untuk modal, relatif lebih kecil,” tukas alumni SMA Negeri 4 Pematangsiantar itu.

Bayangkan, lanjut Apni, untuk memeroleh cangkang telur, ia harus bekerja sama dengan pembuat kue dan juga pedagang mie goreng.

“Kita kasih wadahnya, dan bilang ke mereka agar cangkang telurnya dikumpulkan. Begitu juga untuk ampas ikan dan serabut kelapa,” terangnya.

Diterangkan Apni, saat ini ia memiliki petani binaan di Blok Songo, Marihat, dan Laras Dua. Para petani binaannya, diajak menanami lahan masing-masing dengan beberapa jenis tanaman.

“Kalau pertanian konvensional, biasanya di atas satu lahan hanya ada satu jenis tanaman. Sedangkan pertanian organik, bisa sampai 15 jenis tanaman,” jelas Apni yang berobsesi petani bisa lepas dari lingkaran setan tengkulak ataupun rentenir setelah beralih ke pertanian organik.

Apni mengaku, meski sudah sekitar enam tahun berkecimpung di pertanian organik, namun hasilnya belum maksimal. Kendalanya, selain mindset para petani sendiri, juga belum adanya dukungan dari pemerintah sepenuhnya.

“Pemerintah setempat belum bisa bekerja sama untuk mengajak warganya beralih ke pertanian organik. Begitu juga instansi terkait,” keluhnya.

Sejauh ini, kata Apni, baru Badan Lingkungan Hidup Pematangsiantar yang sudah mulai memiliki lahan pertanian organik.

“Ada di kawasan TPA Tanjungpinggir. Mereka punya mesin untuk mengolah sampah menjadi kompos. Bahkan komposnya sudah dijual. Ini sudah berlangsung sekitar enam bulan,” terang gadis yang tinggal di Perumahan Tozai Lama, Kecamatan Siantar Sitalasari ini.

Menurut Apni, tidak mudah mengajak para petani meninggalkan sistem konvensional dan beralih ke organik. Parahnya, sudah ada yang memulai, malah terputus di tengah jalan.

“Ada juga yang curang. Mereka ternyata masih tetap menggunakan pupuk kimia. Kalau sudah ada yang begitu, ya langsung saya putuskan,” sebut Apni yang lantas menjelaskan perbedaan sayuran organik dengan sayuran dari pertanian konvensional. Sayuran organik, katanya, biasanya warnanya tidak terlalu hijau, batang lebih lunak, dan jika dimasak lebih cepat matang.

Alhasil, Apni pun hanya bersedia memberikan pengajaran kepada petani yang sudah benar-benar siap beralih ke pertanian organik.

“Saya bersedia mendampingi dan memberikan pengajaran kepada semua petani, namun yang sudah benar-benar siap beralih ke pertanian organik,” jelas Apni yang sempat merasa hopeless atau putus asa saat ayah tercinta meninggal dunia di tahun 2015. Padahal, selama ini, ayah dan ibunya yang sangat mendukung kegiatannya.

“Tapi kemudian, ada petani yang menghubungi saya, dan minta diajari pertanian organik. Dari situ, saya semangat lagi,” sebut Apni.

Namun rupanya, kegiatan Apni tersebut tetap membuahkan hasil. Sejumlah pihak memberikan reward kepadanya.

Tahun 2016 ia terpilih mengikuti Duta Petani Muda Indonesia. Lalu, Januari 2019, mewakili Indonesia ke ASEAN-Japan Woman Entrepreneurs’ Linkage Program (AJWELP) di Kuala Lumpur, Malaysia.

“Itu program negara Jepang untuk mengembangkan woman entrepreneur di 10 negara di Asia,” papar Apni, yang Juli lalu juga memeroleh penghargaan dari salah satu stasiun televisi swasta untuk kategori Lingkungan.

//Stick Sayur Sise

Apni juga memanfaatkan produksi sayuran organik menjadi olahan penganan (cemilan) sehat. Sayur-sayuran itu diolah menjadi cemilan berbentuk stick. Apni menyebutnya, Stick Sayur Sise. Sise, katanya, dari singkatan Siantar Sehat. Untuk memroduksi Stick Sayur Sise, Apni memekerjakan pekerja di rumahnya.

Untuk pemasaran, lanjut Apni, sejauh ini sama dengan sayuran organik, ia sendiri yang menjadi marketingnya. Ya, Apni memang mengantar langsung pesanan sayuran organik ke pelanggan. Seorang diri ia mengendarai sepedamotor mendatangi pelanggan-pelanggannya, yang kebanyakan di kantor-kantor.

“Kalau hasil panen banyak, dan banyak yang pesan, barulah saya dibantu oleh pekerja,” ujar Apni. (awa)

iklan usi



Back to top button