Lifestyle

Amy Gultom: Pengalaman 9 Tahun Manajer Resto Fast Food

FaseBerita.ID – Sebagai manajer kafe, Amy Gultom bukan ‘kaleng-kaleng’. Dia memang memiliki kemampuan yang mumpuni. Pengalamannya selama sembilan tahun sebagai manajer di restoran fast food (cepat saji) telah menempanya menjadi pengelola kafe yang bisa diandalkan.

Di Pematangsiantar, sudah ada empat resto/kafe yang pernah dikelolanya. Kini, ia dipercaya mengelola Lolitta Cafe yang berada di Jalan Gereja Pematangsiantar.

Amy mengaku, selain pengalaman, saat bekerja di restoran cepat saji dengan menu khas ayam goreng itu, ia juga sempat mengenyam pendidikan yang diadakan oleh perusahaan, yakni acting SPV, selama dua tahun.

“Saya ikut pendidikan hingga ke pusat. Yang dipelajari, bagaimana seorang manajer mengelola perusahaan, khususnya resto,” kata pemilik nama lengkap Suheimy Lasma Rohana Gultom ini.

Diceritakan Amy, setelah ia lulus dari SMA, ia bekerja di restoran cepat saji yang berada di kota asalnya, Padangsidimpuan. Dia merintis karirnya benar-benar dari bawah. Termasuk saat itu ia bertugas membersihkan meja.

Nasib baik berpihak padanya. Baru sekitar tiga bulan bekerja, karirnya melesat. Ia dipercaya sebagai kasir, dan kemudian diangkat menjadi kepala kasir.

“Lalu jadi koki dan kepala koki. Padahal sebelumnya, tidak ada perempuan yang menjadi koki di restoran tersebut. Tapi saya bisa, bahkan menjadi kepala koki,” tukas alumni SMA Kesuma Indah Padangsidimpuan ini.

Amy berusaha serius dan maksimal dalam bekerja. Alhasil, atasannya pun menghargainya dan ia pun mendapatkan promosi kenaikan jabatan sebagai supervisor dan selanjutnya menjadi manajer.

Nah, setelah menjadi manajer, Amy tidak bisa hanya bertugas di Padangsidimpuan. Ia harus siap ditugaskan ke mana saja. Meski ia sudah menikah dan punya anak.

Alhasil, Amy dan suaminya, Freddy Christianto Hutabarat, harus tinggal berjauhan.

“Suami saya asalnya dari Siantar. Dia bekerja di perusahaan rokok yang ada di Siantar, tapi ditugaskan di Sidimpuan,” terang anak kedua dari empat bersaudara itu.

Amy berpindah-pindah wilayah tugas. Sibolga, Rantauprapat, hingga ke Pekanbaru. Semua dijalaninya sesuai penugasan dari perusahaan.

Hingga kemudian, Amy merasa lelah terus berjauhan dengan suami. Apalagi, anaknya sudah bersekolah, sehingga terpaksa pindah sekolah sesuai wilayah tugas Amy. Ia pun memilih mengundurkan diri dari pekerjaannya, dan berkumpul dengan suami di Padangsidimpuan.

Tak lama-lama menganggur. Amy diterima bekerja di resto dan kafe yang baru dibuka di Padangsidimpuan. Namun tak lama kemudian, suaminya pindah tugas ke Pematangsiantar. Amy dan anak-anaknya ikut serta.

Di Pematangsiantar, Amy yang nyaris tidak memiliki teman, hanya berdiam diri di rumah, mengurus rumah tangga. Ia mulai jenuh.

Untunglah, di media sosial, kerap ada pengusaha resto dan kafe yang membuat lowongan pekerjaan, termasuk untuk posisi manajer. Merasa memiliki kemampuan dan pengalaman, dengan izin suami, Amy melamar di salah satu resto dan kafe di seputaran Jalan Sangnaualuh Damanik Pematangsiantar.

Mulailah Amy kembali beraktivitas di luar rumah. Tak lama, pemilik resto membuka kafe baru di Jalan Gereja. Amy pindah tugas ke kafe baru tersebut.

Namun kemudian, karena sesuatu hal, ia memilih resign. Kembali, Amy menganggur. Saat itu, waktunya dihabiskannya untuk mengurus keluarga, yakni rumah, suami, dan anak-anak.

Sekitar sebulan kemudian, Amy mendapat tawaran sebagai pengelola salah satu kafe yang berlokasi di Jalan Sisingamangaraja. Amy senang. Melihat konsep kafe tersebut, ide-ide pun bermunculan di kepalanya.

Ia melobi sejumlah perusahaan untuk menggelar event di kafe tersebut.

“Sering ada event. Mulai lomba mewarnai dan fashion show untuk anak-anak, hingga festival lagu,” tukas ibu dari Steven Johannes Hutabarat (14) dan Ziew Arsenio Hutabarat (6).

Hanya sekitar setahun Amy mengelola kafe tersebut. Sebab ia mendapat tantangan untuk membuka dan mengelola kafe baru. Pemilik modal, menyerahkan sepenuhnya konsep dan pengelolaan kafe kepadanya.

“Jadi sekarang saya mengelola Lolitta Cafe yang baru grand launching tanggal 19 Oktober lalu,” tandas wanita berambut panjang ini.

Masih kata Amy, ke depan ia mulai mengembangkan potensi dirinya untuk menjadi cafe consultant. Dalam waktu dekat, sudah ada dua calon kliennya. Namun, tetap akan fokus mengelola Lolitta Cafe.

“Ada dua kafe lagi yang akan buka di Siantar. Dua pemiliknya sudah menghubungi dan meminta saya menjadi konsultan,” sebut Amy yang berharap ada komunitas untuk para pemilik kafe di Pematangsiantar agar sama-sama maju dan berkembang.

Dalam mengelola kafe, Amy berusaha dekat dengan dengan karyawan. Karyawan, sambungnya, sangat berperan dalam perkembangan dan kemajuan kafe. Karenanya, Amy senantiasa berupaya menjiwai karakter masing-masinh karyawannya.

“Ibarat tubuh manusia, ok lah saya sebagai kepala. Tapi tubuh manusia akan sempurna dengan adanya bagian-bagian lainnya. Jangan sampai ada konflik antar karyawan, sebab bisa mengganggu sistem kerja yang sudah dibangun,” terang Amy, dan menambahkan jika urusan internal di kafe berjalan lancar, ia bisa berkreativitas, termasuk menjalin kerja sama dengan pihak lain yang bertujuan untuk kemajuan usaha.

Meski selalu sibuk, apalagi kafe yang dikelolanya baru saja beroperasi, Amy tidak mau keluarganya terbengkalai. Setiap minggu, selaku diupayakan ya sehari untuk bersama keluarga.

“Kalau off, ya saya sama keluarga, family time. Bisa jalan-jalan, atau makan-makan. Jangan sampai kita perempuan, sukses di karir tapi keluarga hancur. Harus tetap seimbang,” jelas Amy yang sebelum kembali berkarir telah membuat kesepakatan dengan suami tercinta.

Amy, juga senang bernyanyi. Bahkan saat masih di bangku SMA, dia mahir memetik gitar dan memiliki grup band.

“Kalau sekarang, masih suka nyanyi. Tapi sudah kaku memetik gitar,” ujar Amy yang saat menjadi personel band mendapat julukan The Cranberries, grup band asal Irlandia. Sebab Amy memang hapal hampir seluruh lagu The Cranberries, seperti Zombie, Odd to My Family, Salvation, Longer, Dream, dan lainnya.

Ke depan, Amy yang sempat bercita-cita menjadi Polisi Wanita (Polwan) ini ingin terus belajar dan mengembangkan potensi dirinya, khususnya dalam mengelola dan menjadi konsultan kafe.

“Cita-cita jadi Polwan tinggal kenangan. Soalnya saya nggak pintar lari dan berenang. Jika sekarang saya menjadi seperti ini, ya sudah saya akan fokus dan maksimal,” tutur perempuan yang juga berkeinginan memiliki usaha sendiri ini. (awa)



Unefa

Pascasarjana
Tags
Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker