Lifestyle

Ahmad Zainardo Hasibuan Lanjutkan Bisnis Almarhumah Kakak

SIANTAR, FaseBerita.ID – Dari awalnya hanya membantu sang kakak yang berbisnis Tupperware, akhirnya Ahmad Zainardo Hasibuan justru bisa membuat usaha tersebut jauh lebih maju. Jika sang kakak berbisnis dengan teman-teman di sekitarnya, Nardo, demikian ia biasa disapa, malah bisa merambah hingga ke instansi-instansi pemerintah dan swasta.

Menurut bungsu dari empat bersaudara itu, ia mulai membantu bisnis kakak sulungnya itu, Zahara Hasibuan, sekitar tahun 2016. Saat itu, kakaknya yang merupakan pegawai di salah satu Dirjen Kementerian di Pematangsiantar mulai sakit.

“Kalau kakak saya itu mulai bisnis Tupperware sejak tahun 2008. Ketika dia mulai sakit, saya dimintanya membantu. Awalnya hanya untuk mengambil dan mengantar barang pesanan,” terang putra satu-satunya dari pasangan Almarhum Zainal Abidin Hasibuan dan Sabariah Siregar ini.

Nardo mengaku, saat itu ia hanya sebatas membantu. Sebab ia sendiri memiliki pekerjaan di salah satu sekolah swasta yang kebetulan milik kakaknya yang nomor tiga.

Hingga kemudian, April 2016 kakaknya yang memiliki seorang putri itu meninggal dunia. Atas kesepakatan dengan dua kakaknya yang lain, Nardo diminta melanjutkan bisnis Tupperware. Apalagi, selain pelanggan sudah banyak, saat itu stok barang juga menumpuk.

Di tengah kesedihan karena si kakak meninggal, Nardo setuju saja melanjutkan bisnis sang kakak. Nardo menganggap, bisnis tersebut bisa dijadikannya sampingan.

Namun ternyata, sambung alumni Sastra Inggris Universitas Sumatera Utara (USU) ini, tidak bisa fokus. Sebab di saat sedang bekerja di sekolah dulu, ada imbauan para pengajar dan staf pegawai tidak menggunakan alat komunikasi selama proses belajar mengajar. Padahal, banyak pengorder yang menghubunginya via handphone.

“Kan banyak pengorder yang ingin cepat direspon. Kalau kita lama menjawab telepon atau pesannya, tentu dianggap main-main. Saat itu, saya baru bisa pegang handphone mulai sore hingga malam,” terang pria yang membuka usaha di rumah kontrakan mereka di Jalan Jawa Pematangsiantar.

Hingga kemudian, di saat liburan sekolah semester ganjil, Nardo memutuskan untuk fokus dengan bisnis Tupperware. Konsekuensinya, dia berhenti sebagai pegawai di sekolah milik kakaknya.

Ternyata keputusan Nardo itu sempat ditentang ibunya. Saat itu ibunya belum tahu prospek bisnis yang akan digeluti Nardo hingga sampai meninggalkan pekerjaan tetapnya.

“Ibu menyayangkan karena saya keluar dari sekolah. Katanya, apa bisa dari bisnis itu menghasilkan sebesar yang saya peroleh tiap bulan dari sekolah. Saya berusaha meyakinkan ibu saya,” terang Nardo yang mendapat support dari kakak keduanya yang kemudian menjalankan bisnis yang sama di Medan.

Nardo pun mulai fokus. Selain mempelajari istilah penyebutan barang dalam bisnis Tupperware, ia juga mengingat-ingat apa saja yang pernah dilakukan dengan almarhumah kakaknya. Salah satunya, membuka bazar Tupperware di pinggir Jalan Jawa.

Itu, sambung Nardo, mereka lakukan di bulan Ramadan tahun 2014. Tupperware dikemas dalam bentuk parcel dan dipajang di atas meja.

“Awalnya, nggak ada pembeli. Hanya saja, kami yakin orang yang melintas melihat dan di dalam benaknya pasti mengingat di Jalan Jawa ada yang jualan Tupperware. Dan benar, besok-besoknya ada yang datang membeli,” tukas Nardo.

Merasa asyik dengan cara itu, tahun depannya, juga di bulan Ramadan, mereka kembali membuka bazar. Masih di pinggir jalan, tapi sudah dilengkapi tenda, dan juga jumlah meja untuk memajang Tupperware sudah menjadi dua.

Kali ini, respon pembeli luar biasa. Akhirnya, si kakak memutuskan bazar terus dilakukan di setiap hari Sabtu dan Minggu. Tapi tidak lagi di pinggir jalan, melainkan di halaman rumah yang mereka kontrak yang berada di pinggir Jalan Jawa, tepatnya di depan Masjid Ash Sholeh.

Nah, saat Nardo fokus ke bisnis, setiap hari ia memajang Tupperware di pekarangan rumah. Ia juga lebih mengaktifkan promosi melalui media sosial. Hanya saja, ia tetap menggunakan akun media sosial milik kakaknya yang sudah meninggal dunia. Alasannya, sudah banyak yang tahu dengan akun tersebut.

“Makanya kadang ada saja yang memanggil saya dengan ibu atau kakak. Ternyata yang jualan laki-laki,” ujar Nardo yang kini masih tetap sharing tentang Tupperware dengan kakaknya yang di Medan. Sedangkan untuk sistem penjualan, ia banyak berdiskusi dengan kakak nomor tiga.

Nardo mengaku bisa menjual Tupperware dengan harga lebih murah. Ia, tidak mau mengikuti sistem Multi Level Marketing (MLM) seperti yang kebanyakan dilakukan penjual lainnya.

“Saya belanja dari distributor. Kalau saya jual sesuai harga yang ada di buku katalog, keuntungan saya sangat luar biasa. Tapi saya nggak mau. Saya ingat pesan mendiang kakak saya, yakni jangan rakus sama keuntungan,” kata Nardo yang sempat membuka bimbingan belajar Bahasa Inggris saat masih menjadi pegawai sekolah.

Selain itu, Nardo berprinsip, dengan menjual barang lebih murah, maka akan cepat laku dan uang segera berputar.

Kini, di rumah orangtuanya, ada banyak stok barang. Sehingga jika ada pembeli datang, bisa langsung melihat dan membeli. Tidak perlu pre order (PO).

“Kalaupun ada barang yang tidak ready, biasanya tidak menunggu terlalu lama,” tambah pria yang juga menjual Tupperware dengan sistem arisan ini.

Bisnis Nardo berkembang. Kekhawatiran sang ibu tentang pendapatan Nardo tidak terbukti. Malah, katanya, yang ia peroleh dari bisnis Tupperware, jauh lebih banyak dari gajinya dahulu. Selain itu, ia tidak terikat jam kerja.

Pelanggan Nardo pun bukan hanya kaum ibu, tapi instansi pemerintah dan swasta. Instansi-instansi tersebut kerap menggelar acara dan selalu memesan parcel Tupperware. Jumlahnya bervariasi, bahkan hingga 300 unit.

“Kalau dapat order dari instansi, pasti menyenangkan. Sekali order, ratusan unit,” tukas pria yang tidak mengenakan biaya untuk kemasan parcel karena menganggapnya sebagai servis dan bonus kepada pelanggan. (awa)



Unefa

Pascasarjana
Tags
Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker