Lifestyle

Agnes Aisyah Parhusip: ‘Kami Tuli, tapi Beri Kami Kesempatan’

Sekilas, tidak ada yang berbeda saat kami pertama bertemu perempuan yang satu ini, Agnes Aisyah Parhusip. Namun saat mulai berkomunikasi, barulah tahu ia merupakan orang dengan gangguan tunarungu.

Agnes, begitu ia biasa disapa, merupakan Ketua Gerakan untuk Kesejahteraan Tunarungu Indonesia (Gerkatin) Cabang Siantar-Simalungun. Komunitas ini memiliki 60 anggota yang berasal dari berbagai kalangan.

Agnes saat wawancara didampingi psikolog Christina Oktavia Hasibuan SPsi MPsi, Ketua Yayasan Kita Serupa yang peduli dengan anak-anak berkebutuhan khusus.

Dengan bantuan Christina, Agnes yang menggunakan bahasa isyarat menerangkan, ia lahir 14 Mei 1975 di Nainggolan, Kabupaten Samosir. Dari enam bersaudara, Agnes merupakan anak tertua.

“Kami ada empat orang yang tunarungu. Sedangkan dua orang lagi, normal. Kami tunarungu sejak lahir,” terangnya.

Ayahnya yang seorang guru, tetap mewajibkan anak-anaknya, termasuk Agnes untuk mengenyam pendidikan. Tidak ada yang boleh tidak bersekolah.

Oleh orangtuanya, Agnes disekolahkan di SLB/B Karya Murni Medan. Ia lulus hingga tingkat SMP.  Selanjutnya, Agnes diarahkan mengikuti kursus menjahit.

“Sudah lupa bikin pola baju. Sekarang, hanya menjahit untuk membesarkan atau mengecilkan pakaian,” tukas wanita berhijab ini.

Di masa gadis, Agnes aktif mengikuti kegiatan dengan teman-temannya sesama orang dengan gangguan tunarungu. Bahkan, hingga mendaki Gunung Sibayak.

Saat mendaki gunung itulah, ia bertemu Suryono, pria yang juga tunarungu, yang kini menjadi suaminya.

“Saat berjalan, saya jatuh. Kaki saya sakit. Lalu ditolong suami saya itu,” tukas Agnes, seraya menambahkan, Suryono berasal dari Solo, Jawa Tengah, dan merantau ke Pematangsiantar.

Keduanya pun berkenalan dan menjalin kasih. Namun hubungan mereka mendapat penolakan dari keluarga Agnes. Kisah kasih keduanya putus nyambung, hingga kemudian Suryono nekat membawa Agnes ke kampung halamannya dan keduanya menikah di sana.

Setelah menikah, mereka kembali ke Pematangsiantar. Mengetahui putri kesayangannya sudah di Pematangsiantar, orangtua memanggil mereka untuk datang ke Samosir. Meski takut, Agnes dan suaminya tetap datang. Setelah bertemu, keduanya diulosi pihak keluarga sebagai tanda restu untuk mereka.

Kini, pasangan suami istri tersebut menetap di Jalan HOK Salamuddin, Siantar Estate, Kecamatan Siantar, Kabupaten Simalungun, dengan dua anak mereka, yaitu Al Fian Budi dan Muhammad Aris Suwardi.

“Yang besar sudah kerja. Yang nomor dua masih kelas 2 SMP,” ujar Agnes, seraya menambahkan kedua putranya tidak mengalami gangguan pendengaran.

Selama ini, kata Agnes, ia dan suaminya sering berkumpul dengan teman-teman sesama tunarungu. Untuk sesama tunarungu, mereka menyebutnya Teman Tuli. Sedangkan untuk yang bisa mendengar, disebut Teman Dengar.

Nah, beberapa waktu lalu, mereka ikut dalam kegiatan yang digelar Yayasan Kita Serupa. Saat itu, karena belum ada nama komunitasnya, mereka para tunarungu menyebut diri mereka dengan Teman Tuli.

Hingga kemudian, beberapa pihak menyarankan agar dibentuk komunitas yang resmi.

“Kalau diberi nama Teman Tuli, tentunya butuh visi misi, Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga. Supaya tidak repot, maka bergabung saja di Gerkatin, yang sudah ada di Jakarta dan Sumut. Jadilah Gerkatin Siantar-Simalungun, dengan ketua Agnes Aisyah Parhusip,” terang Christina yang selama ini banyak membantu Agnes jika mengikuti kegiatan-kegiatan.

Kegiatan yang sudah dilaksanakan Agnes dan teman-temannya, salah satunya jalan santai dan membagikan brosur bahasa isyarat. Rencananya, Minggu (19/1) besok, mereka memeriahkan kegiatan Car Free Day (CFD) di Jalan H Adam Malik Pematangsiantar.

Dalam kegiatan itu, mereka akan menyanyikan lagu Indonesia Raya menggunakan bahasa isyarat, games tebak kata dan lagu, serta lainnya.

Agnes berharap, mereka para tunarungu bisa diberi kesempatan untuk berkarya dan memeroleh pekerjaan.

“Kami mampu bekerja. Orang tuli tidak ada yang jadi penjahat. Kami ingin tunjukkan bahwa kami bisa,” tukas perempuan yang mengaku hobi menonton drama Korea ini.

Kini, setiap harinya, selain mengerjakan pekerjaan rumah tangga, Agnes menerima orderan menjahit untuk membesarkan atau mengecilkan pakaian, juga membantu suaminya untuk mempersiapkan dagangan.

“Suami saya jualan bakso goreng keliling naik sepedamotor. Hasilnya lumayan. Modal Rp150 ribu, bisa dapat Rp300 ribu-350 ribu,” katanya. (awa)

Unefa

Pascasarjana

Tags

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker
Close