Lifestyle

Bunga Terompet Ungu Bisa Deteksi Boraks dan Formalin pada Jajanan

Banyak penjaja makanan yang menambahkan Bahan Tambahan Pangan (BTP) berbahaya seperti boraks dan formalin. Padahal, kedua bahan ini masuk ke kategori bahan yang berbahaya buat tubuh.

Boraks sejatinya digunakan untuk membuar campuran detergen, glasi enamel gigi buatan, plastik, antiseptik, pembasmi serangga, dan pengawet kayu. Demikian pula dengan formalin, bahan ini biasanya digunakan sebagai pengawet pada mayat, bahan tambahan kosmetik, perabot kayu, dan desinfektan kuat.

Bila tertelan dalam jumlah tinggi, keduanya dapat meracuni sel-sel tubuh dan menyebabkan kerusakan usus, hati, ginjal dan otak. Jika dikonsumsi dalam jangka waktu lama, maka dapat menyebabkan kerusakan hati dan kanker.

Efek buruk boraks bekerja pada jangka waktu lama karena tertimbun dan terakumulasi terlebih dahulu dalam tubuh. Efek samping pertama yang muncul biasanya pusing, mual, muntah, diare, kejang bahkan koma. Pada anak kecil dan bayi, boraks bisa langsung menyebabkan kematian.

Makanan yang mengandung boraks dan formalin sekilas tidak berbeda dengan makanan biasa secara kasat mata.

Tapi, makanan yang mengandung boraks dan formalin biasanya tidak mudah hancur, kenyal, sangat renyah. Usia makanan dengan boraks juga lebih lama, biasanya lebih dari 3 hari, serta tidak dikerubungi oleh lalat dan semut.

Namun terkadang hal ini luput dari perhatian kita, karena anak-anak yang jajan tentu tidak memperhatikan hal semacam ini ketika mereka membeli jajanan. Asalkan ramai, rasanya enak, warnanya menarik, maka anak-anak sudah lahap menyantapnya.

Dalam penelitian Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), menemukan cara alami untuk mendeteksi adanya kandungan dua jenis bahan berbahaya itu pada jajanan.

Staf dan peneliti di Departemen Kimia Kedokteran FKUI menemukan cara deteksi mudah boraks dan formalin menggunakan indikator ekstrak herbal, yaitu bunga terompet ungu.

Disebut juga dengan bunga ruellia (Ruellia tuberosa), bunga ini banyak ditemukan di pinggir jalan dan juga sangat mudah tumbuh dimana-mana.

Tanaman bunga yang berasal dari Meksiko, Karibia dan Amerika Selatan ini memiliki kandungan pigmen antosianin. Zat antosianin ini yang memberikan warna ungu pada bunga ruellia. Penelitian memanfaatkan zat antosianin yang sensitif terhadap derajat keasaman (pH) lingkungan yang ditandai dengan perubahan warna.

Pada dasarnya antosianin yang terdapat pada bunga ruellia memiliki penanda warna: merah untuk pH 1-3, coklat-kemerahan untuk pH 5-6, coklat-kehijauan untuk pH 7-8, hijau untuk pH 9-11 dan kuning untuk pH 13-14.

Ketua Peneliti Departemen Kimia Kedokteran FKUI Ade Arsianti menjelaskan bahwa penggunaan boraks dan formalin masih marak di masyarakat terutama digunakan oleh para pedagang jajanan anak-anak.

“Dampak boraks dan formalin itu sangat berbahaya bagi kesehatan dan perkembangan otak anak-anak kita. Meskipun penyalahgunaan boraks dan formalin sudah menurun, namun kita sebagai orang tua harus tetap waspada,” jelasnya, Senin (9/9/2019).

Untuk mendeteksi kandungan boraks dan formalin dengan bunga ruellia, caranya ternyata cukup mudah dan bisa dilakukan dengan menggunakan peralatan sederhana di rumah. Cukup siapkan ulekan, pipet tetes, wadah berongga kecil seperti tempat cat air (palet), sampel makanan, air putih dan beberapa helai bunga Ruellia.

Sampel makanan dihancurkan sampai halus dan ditambahkan sedikit air. Setiap sampel makanan ditaruh di rongga palet yang berbeda-beda. Bisa diberikan label nama untuk menandai makanan apa saja yang diujikan untuk memudahkan identifikasi makanan. Lakukan hal yang sama pada bunga ruellia.

Setelah semua siap, ambil beberapa tetes cairan ekstrak bunga ruellia dan kemudian teteskan pada masing-masing sampel makanan. Amati perubahan warna pada sampel makanan.

Makanan yang positif mengandung boraks akan berubah warna menjadi hijau dan makanan yang mengandung formalin akan berubah menjadi coklat-kemerahan. (jp)

Tags

Berita lainnya

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker
Close