Kolom

Vaksin Covid-19 bagi Lansia

Oleh DOMINICUS HUSADA

Program vaksinasi masal Covid-19 di Indonesia telah dimulai dengan menjadikan tenaga kesehatan sebagai target pertama. Ada 1,5 juta sasaran yang akan menerima vaksin jika rencana berjalan lancar. Penerima vaksin, sesuai dengan izin edar darurat vaksin CoronaVac dari BPOM, adalah mereka yang berusia 18–59 tahun.

Muncul berbagai pertanyaan dan harapan dari seluruh negeri mengenai nasib kelompok usia 60 tahun ke atas yang juga ingin menerima vaksin, tetapi belum bisa mendapatkan. Minggu lalu bahkan beredar petisi untuk mendesak pemerintah segera menyediakan jalan imunisasi bagi kelompok lanjut usia (lansia).

Kelompok usia 60 tahun ke atas memang sangat layak mendapat vaksinasi Covid-19. Kelompok inilah korban terbesar penyakit berbahaya tersebut. Di seluruh dunia, angka kesakitan dan kematian penderita meningkat sejalan dengan usianya. Alasan tersebut membuat hampir semua negara di dunia menjadikan lansia dan tenaga kesehatan sebagai superprioritas yang memperoleh vaksin sebelum kelompok lain.

Pemerintah Amerika Serikat bahkan menuntut semua uji klinis vaksin di negara adidaya itu memasukkan berbagai kelompok secara proporsional, termasuk lansia dalam jumlah yang memadai sebagai partisipan.

Kebijakan itu bahkan membuat Moderna terlambat menyelesaikan uji klinis sekalipun mereka memulai fase III paling awal. Kebijakan serupa berlaku di Inggris.

Ketika mengakhiri fase III, semua vaksin AS dan Inggris mendapat izin untuk diberikan kepada para lansia karena izin edar itu mengikuti hasil fase III. Vaksin Covid-19 di dunia kali pertama bahkan diterima oleh Margaret Keenan, seorang nenek dari Inggris yang sudah berusia 90 tahun.

Kondisi berbeda menimpa vaksin Tiongkok, termasuk CoronaVac (Sinovac). Uji klinis fase I–II vaksin itu yang sudah dipublikasi di jurnal Lancet hanya mengikutsertakan orang berusia 18–59 tahun. Ketika fase III dilakukan di Brasil, Turki, Cile, dan Indonesia, proporsi kelompok lansia tidak dituntut seketat keinginan AS. Karena itu, di Brasil bisa direkrut lansia dalam jumlah yang lumayan besar, tetapi tidak sebanyak itu di Turki. Bahkan, di Indonesia, kelompok lansia tidak masuk sebagai partisipan. BPOM pun memberikan izin edar darurat sesuai dengan data tersebut. Vaksin diloloskan hanya untuk kelompok 18–59 tahun.

Lantas, bagaimana dengan keinginan para lansia untuk memperoleh vaksin? Ada beberapa jalan. Pertama, menunggu perubahan usia pada izin BPOM. Hal itu bisa terjadi jika pemegang hak di Indonesia mengajukan perubahan yang tentu harus disertai data pendukung. Data pendukung bisa berasal dari hasil fase III di Brasil dan Turki maupun data asli Indonesia.

Untuk data Indonesia, diperlukan studi penghubung tambahan yang tidak serumit studi fase III aslinya. Brasil dan Turki sendiri belum memublikasikan hasil fase III sehingga data hanya bisa diambil dari dokumen yang diserahkan kepada otoritas setempat.

Secara sains, vaksin mati seperti CoronaVac tidak terlalu berisiko dan relatif aman bagi lansia. Namun, pembuktian akan hal itu senantiasa harus tersedia. Kita tahu bahwa Brasil dan Turki memberikan CoronaVac untuk kelompok lansia, tetapi tentu saja pertimbangan badan otoritas di setiap negara itu tidak sama.

Kedua, menunggu vaksin lain yang sudah dibeli pemerintah Indonesia masuk ke tanah air. Tentu vaksin itu harus juga melalui tahapan yang mirip dengan CoronaVac untuk memperoleh izin edar darurat BPOM, kemudian digunakan dalam program imunisasi masal Covid-19. Hal itu pasti membutuhkan waktu. Yang jelas, vaksin AstraZeneca, Novavax, dan Pfizer yang masuk daftar Kemenkes telah mempunyai data pada lansia yang cukup solid.

Ketiga, ikut dalam program yang sekarang dilakukan seperti yang dilakukan seorang tenaga kesehatan di Jakarta dan viral di media sosial. Sebenarnya, hal ketiga ini tidak disarankan. Selain melanggar izin dari BPOM maupun Kemenkes, tindakan tersebut bisa mengajari orang untuk tidak patuh dan mengambil risiko. Padahal, prinsip dasar pertama di kedokteran itu menghindari sesuatu yang berbahaya bagi manusia.

Tindakan ketiga ini juga membuat pencatatan sasaran yang berdasar NIK mengacaukan sistem. Jika data yang dimasukkan benar, semestinya sertifikat juga tidak bisa keluar. Padahal, sertifikat vaksin Covid-19 penting.

Perbedaan apa yang sesungguhnya terjadi pada lansia? Secara umum, sistem imun mereka sudah menurun.

Respons kekebalan yang diperoleh setelah vaksinasi biasanya tidak sebaik kelompok usia di bawahnya. Daya tahan kekebalan ini pun lebih singkat dan menurun lebih cepat. Beberapa vaksin bahkan tidak berhasil membangkitkan kekebalan pada usia lanjut.

Pemberian vaksin yang tidak memberikan daya tahan yang cukup adalah kesia-siaan. Menghabiskan dana dan sarana, memberikan harapan palsu, dan bisa jadi menghalangi vaksin lain yang lebih kuat untuk bekerja. Pendeknya, merugikan.

Kelompok lansia juga mempunyai lebih banyak penyakit penyerta. Penyakit itu bisa memengaruhi efek vaksin dan pada sebagian kecil kasus malah dapat membahayakan. Jumlah dan jenis obat yang dikonsumsi secara rutin oleh para lansia seperti obat kolesterol, obat jantung, atau obat yang dapat memengaruhi sistem imun biasanya juga lebih banyak dan berpotensi berinteraksi dengan vaksin yang diberikan.

Dengan mempertimbangkan semua untung dan rugi di atas, yang disarankan adalah bersabar menunggu sebentar lagi. Kita berharap perubahan izin edar BPOM untuk CoronaVac atau masuknya vaksin lain yang sudah dibeli pemerintah akan terwujud. Ini hal paling aman dan rasional yang bisa dilakukan. Sembari menunggu, pastilah semua protokol kesehatan wajib tetap dijalankan. Setelah menerima vaksin pun protokol ini tidak dapat ditinggalkan. Belum ada vaksin yang dibuat manusia di dunia yang mampu melindungi secara sempurna. Semoga harapan para lansia segera terwujud. (*)

Dominicus Husada, Staf pengajar FK Unair/RSUD dr Soetomo, anggota Tim Vaksin Merah Putih Universitas Airlangga