Kolom

Sulastri Magdaria Pasaribu, Pendiri Sanggar Musik Grace Pematangsiantar

Single Parent, 4 dari 5 Anaknya Lulus dari PTN

Menjadi single parent atau orangtua tunggal bukan hal mudah. Apalagi, di tengah kondisi ekonomi keluarga yang sedang terpuruk.

EVA WAHYUNI, Siantar

Hal itulah yang dialami Sulastri Magdaria Pasaribu. Suami tercinta, Mansur Situmorang meninggalkannya untuk selama-lamanya setelah sekitar 4 tahun terbaring sakit dan menghabiskan banyak uang untuk pengobatan.

Mei 2008 saat suami meninggal dunia, lima anaknya-3 perempuan dan 2 laki-laki-masih kecil-kecil. Putri sulungnya, Grace Ernaz Juliana Situmorang masih duduk di kelas 3 SMP. Sedangkan yang bungsu, Gelvani Benedikta Situmorang masih berusia 4 tahun.

Meski Sulastri berstatus sebagai guru Pegawai Negeri Sipil (PNS), namun di masa itu kondisi ekonomi keluarga sangat terpuruk.

Bahkan Surat Keputusan (SK) pengangkatannya sebagai PNS sudah tergadai di bank. Sehingga tentu saja gajinya dipotong tiap bulan untuk mencicil pengembalian pinjaman ke bank.

“Dari dua rumah yang kami miliki, saat itu satu unit sudah terjual. Begitu juga mobil, sudah ada yang terjual. Belum lagi kaplingan tanah. Semua untuk biaya pengobatan suami saya,” terang alumni Institut Filsafat Jogjakarta angkatan 1982.

Lebih lanjut dikatakan Sulastri yang juga dosen filsafat di salah satu perguruan tinggi di Pematangsiantar ini, sepeninggalan suami, dia bertekad berjuang keras. Semua itu demi kelima buah hatinya.

Berbagai pekerjaan sampingan pernah dilakoninya. Mulai berjualan es, barang eks impor (rojer), dan lainnya. Namun tetap saja ia belum menemukan sesuatu yang pas dengan hatinya.

“Yang pasti, orang-orang di sekitar saya banyak yang meremehkan. Mereka tau keuangan saya sudah minus,” sebut Sulastri yang kini juga aktif mengajar di salah satu SMP swasta favorit Pematangsiantar.

Hingga kemudian, Sulastri terpikir lebih baik ia mengajar les musik. Kebetulan ia memiliki pengetahuan di bidang musik. September 2008, Sulastri membuka les musik. Sebagai tahap awal, ia mengajar di rumahnya, di Jalan Asahan, Kecamatan Siantar.

Rezeki berpihak kepadanya. Hanya dalam waktu enam bulan, muridnya terus bertambah. Sehingga rumahnya tidak muat lagi menampung murid-muridnya.

Sulastri pun memutuskan pindah lokasi ke salah satu rumah toko (ruko) di Jalan Sutomo Pematangsiantar. Di tempat itu, les musik yang diberi nama Sanggar Musik Grace terus berkembang.

“Awalnya buka les di rumah. Saat itu hanya ada satu unit keyboard. Itu pun saya minta dari abang saya. Setelah enam bulan, ada 17 murid. Rumah pun sudah tak muat lagi. Ada juga permintaan orangtua murid agar lokasi les di pusat kota,” jelas wanita asal Siborongborong, Tapanuli Utara (Taput) itu.

Kini, Sanggar Musik Grace telah berlokasi di tempat yang lebih nyaman, yaitu di Komplek Siantar Bisnis Center (SBC) Jalan Kapten Pierre Tendean Pematangsiantar.

Diakui Sulastri, perkembangan Sanggar Musik Grace mampu mengubah kondisi ekonomi keluarganya. Tak bisa dipungkiri, kata Sulastri, keuntungan ekonomi yang diperolehnya dari sanggar musik sangat berperan besar dalam membiayai pendidikan kelima putra-putrinya.

“Sejak SD hingga SMP, mereka berlima sekolah di swasta. Saya ingin memberikan pendidikan yang terbaik bagi mereka. Setelah kuliah, barulah mereka di PTN,” tukas perempuan yang hobi menari dan menyanyi ini.

Empat anaknya yang sudah lulus PTN, yaitu Grace lulus dari Universitas Negeri Medan (UNIMED) jurusan Akuntansi.

Kini, ia membantu ibunya mengelola Sanggar Musik Grace dan mengajar di salah satu SMA swasta. Anak kedua, Gordon Pius Marihot Situmorang lulus dari Universitas Padjajaran (Unpad) Bandung jurusan Agroteknologi. Putri ketiga, Gebby Charitas Ignatia Situmorang, alumni Universitas Diponegoro (Undip) Semarang jurusan Psikologi.

Dan yang keempat, Goddard Pande Gregorius Situmorang, lulus dari Institut Seni Indonesia (ISI) Jogjakarta (Penciptaan Musik). Sementara si bungsu, Gelvani, masih duduk di kelas XII SMA.

Kelima anaknya, kata Sulastri, menguasai alat musik. Ada yang mahir bermain piano, biola, gitar, dan menyanyi.

 

Saat ini, Sanggar Musik Grace telah memiliki puluhan alat musik dan sejumlah tenaga pengajar profesional. Sanggar ini menerima murid untuk semua usia dan latar belakang.

“Kita mengajarkan teknik bermain musik dengan mudah dan cepat. Membimbing peserta kursus mampu terampil memainkan alat musik dan siap pakai,” tandas Sulastri, dan menambahkan di Sanggar Musik Grace, bisa belajar organ, keyboard, piano, gitar, biola, drum, dan olah vokal.

Dikatakan Sulastri, kepada anak didiknya, ia menerapkan disiplin yang tinggi. Juga kepada para pengajar.

“Bagi saya, disiplin itu kunci utama. Saya disiplin dan tegas. Sehingga tiap tahun ada saja guru yang saya berhentikan karena tidak disiplin,” sebut Sulastri yang mengaku masih ikut mengajar langsung demi mengetahui perkembangan murid-muridnya satu per satu.

Sulastri pun berprinsip, penderitaan akan membuahkan hal yang manis. Syaratnya, tetap sabar dan berusaha, serta berdoa.

“Tidak ada manusia yang tidak lepas dari penderitaan,” ujarnya, dan menambahkan selama 11 tahun sudah ada 1.700-an murid yang dididik di Sanggar Musik Grace.

Ditambahkan Sulastri, sejak tahun 2016 Sanggar Musik Grace dipercaya pemerintah untuk melaksanakan Pendidikan Kecakapan Kerja (PKK). Sekitar 70-80 persen peserta PKK, katanya, mampu mandiri. Beberapa menjadi pemain musik di gereja, mengajar private les, dan diajak Sulastri untuk menjadi pengajar di Sanggar Musik Grace.

“Saya senang mereka bisa diberdayakan dan mampu mandiri,” sebut Sulastri yang juga menerima siswa untuk Praktek Kerja Lapangan (PKL) dari Sekolah Menengah Musik Raya, Simalungun.

7 Siswa Menang di De Vier Piano Competition

Minggu (27/10) tujuh siswa pilihan Sanggar Music Grace mengikuti lomba piano di ajang De Vier Piano Competition, yang diselenggarakan lembaga asal Singapura, di Medan.

Ketujuh siswa tersebut semuanya memeroleh prestasi membanggakan, tidak hanya untuk Sanggar Musik Grace, tapi juga mengharumkan nama Kota Pematangsiantar. Ketujuhnya berkompetisi di kategori yang berbeda-beda.

Ketujuh siswa Sanggar Musik Grace itu yakni, Sarah Senorina Nadeak (12) meraih juara harapan 2, Clarisa Ruth Dian Simatupang(9) juara harapan 2, Elnisura Saragih (8) juara harapan 2, dan Brian Immanuel Ginting (11)  juara harapan 3.

Kemudian, Manuel Putra Pakpahan (9) juara harapan 3, Chelsea Renata Saragih (11) juara harapan 2, dan Christofanny Nathaniela Naibaho (15) juara harapan 1.

Kompetisi yang berlangsung di Hotel Adi Mulia Medan itu mengusung thema “The Sound of Classical Dance”.

Ando Sipayung dari Sanggar Musik Grace mengatakan, pihaknya bangga atas prestasi yang diraih anak didik.

Sebelum mengikuti kompetisi, sambungnya,  anak-anak tersebut menjalani latihan secara intensif. Dari 20-an siswa yang berniat ikut, setelah dilakukan seleksi, terpilih tujuh orang. (*)

Tags

Berita lainnya

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker
Close