Kolom

Sembilan Tahun OJK: Modal Pemulihan Ekonomi Nasional 2021

Oleh: PITER ABDULLAH REDJALAM

Sembilan tahun sudah Otoritas Jasa Keuangan (OJK) berkiprah menjaga stabilitas sistem keuangan. Meski jauh dari sempurna OJK sudah menunjukkan peran besarnya. Terutama pada tahun ini, ketika pandemi meluluh-lantakkan perekonomian nasional.

Tidak pernah terbayangkan bila tahun ini tantangan perekonomian ternyata jauh lebih sulit. Perlambatan pertumbuhan ekonomi sudah dirasakan mulai tahun lalu, dan tahun ini diharapkan bisa menjadi awal kebangkitan. Tapi yang terjadi justru sebaliknya. Perekonomian nasional lebih terpuruk dan mengalami pertumbuhan negatif.

Semuanya karena pandemi Covid-19. Terbatasnya aktivitas sosial ekonomi mengakibatkan kegiatan dunia usaha seperti terhenti. Pendapatan masyarakat terpangkas dan menyebabkan penurunan konsumsi. Pada gilirannya investasi juga menurun. Sementara ekspor dan impor juga terkontraksi karena pandemi menghancurkan permintaan global. Dengan demikian, pertumbuhan ekonomi yang negatif menjadi sebuah keniscayaan.

KETAHANAN EKONOMI

Meski terpuruk, tapi perekonomian nasional menunjukkan daya tahannya. Setelah tumbuh minus 5,32 persen pada triwulan 2, perekonomian nasional kembali terkontraksi 3,49 persen pada triwulan 3. Memang masih mengalami pertumbuhan negatif, tetapi arahnya menunjukkan perbaikan.

Pelonggaran PSBB dan berjalannya program PEN selama beberapa bulan terakhir sebagaimana ditunjukkan oleh peningkatan realisasi anggaran to some extent telah menggerakkan kembali perekonomian. Indikator makro ekonomi seperti indeks penjualan riil sudah bergerak naik diikuti oleh membaiknya angka konsumsi.

Hal ini diperkuat oleh mulai meningkatnya Indeks Keyakinan Konsumen. Sementara di sisi supply, geliat dunia usaha ditunjukkan oleh kenaikan Purchasing Manager Index (PMI). Pada Agustus 2020 indeks PMI bahkan sudah melewati angka 50 yang berarti sudah ada indikasi perusahaan mulai kembali melakukan ekspansi usaha.

Meskipun indikator makro ekonomi diatas masih sangat fragile tetapi setidaknya memberikan sinyal bahwa perekonomian kita masih bertahan di tengah tekanan pandemi Covid-19. Sudah adanya perbaikan di beberapa indikator ekonomi juga sekaligus mengindikasikan bahwa arah kebijakan pemulihan ekonomi nasional sudah pada jalur yang tepat.

OJK memegang peranan penting dalam menjaga ketahanan sekaligus mempersiapkan kebangkitan perekonomian nasional. Kecepatan OJK meresponse dampak pandemi Covid-19 dengan mengeluarkan kebijakan pelonggaran restrukturisasi kredit pada masa awal berjangkitnya pandemi sangat membantu ketahanan dunia usaha dan sektor keuangan.

Di tengah pandemi Covid-19 yang membatasi aktivitas sosial ekonomi banyak perusahaan yang mengalami tekanan cashflows yang luar biasa. Penerimaan menurun sangat drastis sementara pengeluaran tetap tinggi. Termasuk pengeluaran untuk membayar cicilan pokok dan bunga utang kepada perbankan.

Kebijakan OJK melonggarkan ketentuan restrukturisasi kredit memberikan peluang kepada perusahaan untuk melakukan negosiasi dengan bank, mengatur kembali besarnya pembayaran cicilan pokok dan bunga kepada bank yang sesuai kemampuan keuangan perusahaan sehingga cashflows tidak lagi negatif. Di satu sisi restrukturisasi kredit ini membantu menyelamatkan perusahaan dari tekanan cashflows, di sisi lain ia juga membantu perbankan menghindarkan terjadinya kredit macet.

Respons cepat OJK mengantisipasi pandemi dengan mengeluarkan POJK 11 tahun 2020 tentang Stimulus Perekonomian Nasional sebagai Kebijakan Countercyclical Dampak Penyebaran Covid-19, yang diantaranya memberikan pelonggaran restrukturisasi kredit, berdampak positif terhadap ketahanan dunia usaha sekaligus juga menjaga stabilitas sistem perbankan.

Sampai dengan September 2020 kualitas kredit perbankan terjaga cukup baik sebagaimana ditunjukkan oleh rasio nonperforming loan (NPL) yang tidak mengalami lonjakan drastis di kisaran 3,1 persen. Dengan NPL yang masih terkelola baik, permodalan perbankan dapat dijaga jauh di atas batas minimal yang diatur oleh ketentuan Basel.

Rasio permodalan perbankan nasional sampai dengan September 2020 masih berada di kisaran 23 persen.
Indikator lainnya yang menunjukkan ketahanan sIstem perbankan di tengah pandemi adalah likuiditas. Loan to deposit ratio (LDR) perbankan nasional pada September 2020 berada di kisaran 87 persen. Hal ini mengindikasikan bahwa likuiditas perbankan cukup longgar. Kondisi likuiditas perbankan ini tidak lepas dari pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) yang terus meningkat sementara pertumbuhan kredit sangat terbatas.

Ketahanan ekonomi dan masih sehatnya sistem perbankan merupakan modal besar untuk melakukan percepatan pemulihan ekonomi pada 2021.

OUTLOOK EKONOMI 2021

Center of Reform on Economics atau CORE Indonesia memproyeksikan perekonomian nasional akan berangsur pulih pada 2021. Dengan asumsi vaksin sudah bisa diproduksi dan didistribusikan secara cepat pada awal tahun, serta pemerintah bisa memanfaatkan momentum untuk membangkitkan kembali konsumsi kelompok menengah atas sekaligus melakukan transformasi reindustrialisasi. Perekonomian Indonesia akan mampu tumbuh hingga enam persen atau bahkan lebih.

OJK akan memiliki posisi yang sangat strategis dalam merealisasikan pertumbuhan ekonomi enam persen di atas. Harus diakui Pemerintah berperan penting menggerakan dan mengawali pemulihan ekonomi. Tetapi untuk mewujudkan pertumbuhan ekonomi enam persen tidak bisa hanya bersandar pada pemerintah. Dibutuhkan swasta untuk mendorong konsumsi, investasi dan juga ekspor.

Dalam hal ini kita perlu berterima-kasih kepada OJK yang telah menjaga sistem keuangan tetap stabil dan sehat selama masa pandemi sehingga memungkinkan swasta memainkan peran pentingnya tersebut. Kita berharap OJK bisa terus meningkatkan kinerjanya mengawal proses pemulihan ekonomi nasional di tahun depan. Dirgahayu OJK!

Piter Abdullah Redjalam, Direktur Riset CORE Indonesia dan Dosen Perbanas Institut