Kolom

Selamat Datang Nadiem Anwar Makarim

Oleh: Tantomi Simamora SSos I

“Selamat kepada Menteri Pendidikan Baru Indonesia Nadiem Makarim, tokoh muda generasi milenial yang akan melakukan gerakan pembaruan pendidikan di negeri tercinta ini. Kami menunggu terobosan-terobosan yang signifikan dalam pengembangan SDM, serta manajemen pendidikan yang lebih transparansi.”

Bicara tentang terobosan baru dalam dunia pendidikan sudah jelas mengarah kepada kurikulum. Dengan penggantian mentri akan mengganti kurikulum, kenapa tidak? Kalau memang kurikulum yang selama ini belum dapat meningkatkan kualitas pendidikan, tidak ada salahnya, bahkan sudah menjadi syarat mutlaq dalam melakukan pembaruan pendidikan.

Tentu dengan semua kegagalan dan buruknya kualitas pendidikan pasti ada yang salah dengan sistem atau dengan kurikulum yang ada. Harus kita akui, bahwa masalah dunia pendidikan saat ini sangat menguras pemikiran dari para pemimpin bangsa ini. Pendidikan yang belum merata, fasilitas yang tidak memadai, UN atau UNBK yang belum mampu mengukur kejujuran, sertifikasi guru yang belum bisa menjadi penjamin mutu pendidikan di negeri ini, Linieritas yang saat ini digadang-gadankan sebagai sebagai syarat dari guru yang profesional pun belum bisa membuktikan bahwa mereka lebih bisa, dan berbagai masalah pendidikan yang saat ini belum bisa meningkatkan kualitas pendidikan kepada yang lebih tinggi.

Justru dengan diangkatnya Nadiem Makarim sebagai Menteri Pendidikan yang tidak memiliki basic dalam dunia pendidikan, semakin membuka mata hati saya yang ingin mengutarakan bahwa sesungguhnya linieritas itu tidak terlalu penting dalam membuat anak berprestasi, yang dibutuhkan pasti sama juga yaitu guru-guru yang berprestasi.

Kenapa dalam perekrutan guru tidak seperti itu? Kalau memang gurunya berprestasi, kenapa tidak diberikan sertifikat pendidik? Jadi tidak perlu menunggu guru yang linier ketika sudah ada orang yang mampu di bidang itu.

Ini adalah salah satu cintoh masalah dunia pendidikan yang mungkin saja masih banyak lagi masalah lain yang belum ditemukan solusinya. Karena saya juga sebagai seorang guru, tentu sangat berharap kepada pak Mentri baru kami, agar terobosan baru dalam dunia pendidikan saat ini benar-benar diperhatikan serius. Jangan sampai terjadi overlap dalam dunia pendidikan karena terlalu lama semu dalam gerakan pembaruan pendidikan.

Termasuk untuk penggantian kurikulum, kenapa tidak? Sebab perjalanan sejarah kurikulum di Indonesia, mengalami banyak masalah yang berdampak buruk terhadap mutu pendidikan. Proses pembelajaran yang sebenarnya akan lebih dipahami oleh Gurunya sehari-hari.

Meskipun beberapa kurikulum diberlakukan di Negeri tercinta ini, namun tetap saja menjadi hal yang sangat membelenggu, baik dihadapan Guru maupun siswa. Sepertinya kurikulum yang sudah ada, masih kurang efektif dalam menjalankannya. Mungkin ada beberapa metode atau sistem yang dibuat oleh pemerintah, kurang berkenan di hati para peserta didik atau kurikulum itu sendiri yang tidak dipakai di Sekolah.

Berdasarkaan perkembangan ilmu pengetahuan saat ini, dengan adanya pro-kontra di kalangan pendidik. Penting sekali kta mencari ide-ide baru dalam proses belajar mengajar berjalan dengan baik. Guru sebagai garda terdepan, lazimnya mendapat dukungan dari Pemerintah. terlebih dengan keberadaan dualisme kurikulum saat ini yang menjadi pro-kontra para Guru yang tergabung dalam Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) cukup membelenggu di hati para Guru, karena pada saat kita mengajar dengan Sistem KTSP tidak sinkron dengan pembelajaran. Tuntutan dari pemerintah untuk memakai kurikulum 2013, tetapi tidak ada larangan untuk memakai kTSP, meski terkadang harus dipadukan antaran KTSP dan Kurtilas tetapi tetap saja linglung dalam kondisi yang tidak menentu.

Bukan untuk mengingkari kebenaran kurtilas, karena kita yakin bahwa kurtilas merupakan wujud dari keprofesionalan tokoh-tokoh intelektual Indonesia yang ingin meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. justru menyadarkan para guru untuk mencari metode-metode baru dalam proses belajar mengajar, agar dalam proses KBM berjalan dengan lancar yang berujung kepada pencapaian materi yang disuguhkan kepada peserta didik.

Menurut penulis, kurtilas tidaklah sesuatu hal yang baku, penting untuk memperluas cara pandang guru untuk menyelesaikan proses belajar mengajar, bukan berarti tidak mengikuti kurikulum pendidikan yang telah dibuat oleh Pemerintah, khususnya Kemendikbud Republik Indonesia, namun kurikulum adalah sebagai rujukan dalam dunia pendidikan. jika dalam proses belajar mengajar terpaku hanya pada kurikulum, maka bisa saja akan melemahkan daya kreatif guru. Seorang guru pastinya lebih paham dengan kondisi peserta didiknya dan metode apa yang harus diterapkan kepada keberagaman dan potensi siswa.

Sesungguhnya tidak ada guru yang tidak pandai mengajar, kesungguhanya yang tinggi akan menemukan kunci dalam semua permasalahan anak didiknya, karena rasa kesungguhan itu sendiri secara otomatis akan peduli dengan lingkungan sekitar yang menjadi penghambat jalannya proses belajar mengajar. Cara pandang terhadap kurikulum pendidikan di Negeri tercinta ini memerlukan cara pandang yang lebih mendalam, karena ditengah perkembangan prilaku anak didik sekarang sesuai dengan masalah pendidikan yang semakin membelenggu.

Terkahir semoga bapak Nadiem Anwar Makarim sebagai Mentri pendidikan baru bisa memberikan ide-ide dan gagagasan baru untuk melakukan terobosan-terobosan baru dalam dunia pendidikan. (***)

Penulis dan Guru di PDM Kabupaten Tapanuli Selatan

Tags

Berita lainnya

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker
Close