Sejarah

Sejarah Perjuangan Tuanku Tambusai, Pahlawan Nasional dari Riau

Tuanku Tambusai, Pahlawan Nasional berasal dari Riau. Dia lahir di Rokan Hulu pada 5 November 1784, dan berjuang di daerah Rokan Hulu dan sekitarnya selama 15 tahun untuk melawan Belanda. Seorang yang sulit dikalahkan, pantang menyerah dan tidak mau berdamai sedikitpun dengan Belanda.

Karena tidak mau berdamai, ia menolak ajakan damai Kolonel Elout. Hingga pada 28 Desember 1838 benteng Dalu-Dalu akhirnya jatuh ke tangan Belanda. Ia melarikan diri lewat pintu rahasia ke Saremban, Negeri Sembilan, Malaysia dan wafat disana.

Nama kecilnya, Muhammad Saleh. Dia anak dari pasangan perantau Minang, Tuanku Imam Maulana Kali, ada juga yang menulis Imam Maulana Kadhi, dan Munah.

Ayahnya berasal dari Nagari Rambah dan merupakan seorang guru agama Islam. Oleh Raja Tambusai, ayahnya diangkat menjadi imam dan kemudian menikah dengan perempuan setempat.

Ibunya berasal dari Nagari Tambusai yang bersuku Kandang Kopuh. Sesuai dengan tradisi Minang yang matrilineal, suku ini diturunkannya kepada Tuanku Tambusai.

Sewaktu kecil, Muhammad Saleh diajarkan ilmu bela diri, ketangkasan menunggang kuda, dan tata cara bernegara. Semua itu diajarkan ayahnya. Tuanku Tanbusai dididik dengan kasih sayang orang tuanya, namun kasih sayang itu tidak pernah diperlihatkan. Ayahnya mendidiknya dengan disiplin dan ketat.

Beliau diajarkan bersikap berani dan jujur. Umur 7 tahun beliau diajarkan membaca Al-Quran serta ilmu fiqih lainnya. Sejak terdengar dan populernya Haji Miskin, Haji Sumanik, Haji Piobang, yang baru pulang dari Mekah belajar agama. Maka Tuanku nan Receh di negeri Sumatera Barat maka Tuanku Tambusai diutus belajar kesana.

Perang mulai berkobar gerakan kaum Paderi semakin kuat dan meluas, namun reaksi yang harus dihadapinya pun semakin meningkat pula. Pertikaian antara kaum Paderi dengan kaum adat dan kaum bangsawan kian meruncing. Karena situasi semakin gawat dan runyam, seorang pemuka Paderi yang bergelar Tuanku Lintau alias Tuanku Pasaman mengundang Raja-raja Minangkabau agar datang ke Kota Tengah untuk melakukan musyawarah.

Undangan ini dipenuhi oleh raja-raja tersebut dengan segala senang hati. Mereka datang dengan keluarga dan pembesar-pembesar kerajaan. Kaum Paderi kembali mengajukan keinginannya, agar raja-raja Minangkabau sudi kiranya menghentikan perbuatan-perbuatan yang melanggar ketentuann agama Islam, menukar kebiasaan adat yang tidak cocok dengan ajaran agama, serta menyesuaikannya dengan firman dan sunnah Rasul.

Akan tetapi, raja-raja yang diundang itu menyatakan bahwa sebaiknya masing-masing bebas berbuat sekehendak hatinya, asal tidak merugikan orang lain, karena pertanggungjawaban kepada Tuhan adalah urusan masing-masing individu. Kedua pihak masing-masing keras dengan pendiriannya.

Permusuhan sudah sampai klimaknya. Pihak pengundang menyediakan jamuan sebagai penutup musyawarah itu. Ketika selesai perjamuan, yang diundang telah siap-siap untuk kembali. Sebagai kata penutup, pihak raja-raja itu menyatakan dengan tegas bahwa mereka tidak akan menuntut kehendak kaum Paderi. Mereka menyatakan bahwa adat Minangkabau adalah adat “nan tak lakang dek paneh, nan tak lapuak dek hujan”.

Dengan demikian, kaum Paderi berpendapat bahwa raja-raja Minangkabau yang mereka undang itu adalah pelanggar-pelanggar hukum Islam, dan mereka tidak mungkin dibebaskan. Kaum Paderi segera menyergap dan melakukan pembunuhan, hingga raja-raja dan keluarganya yang diundang itu musnah semuanya, kecuali seorang saja, yaitu Tuanku Raja Alam Muningsyah yang sempat melarikan diri besama seorang cucunya yang masih kecil.

Benteng Rao Perang antara Paderi dengan Belanda telah berkobar. Ketika pertikaian antara Paderi dengan Kaum Adat dan Raja-Raja, Pakih Saleh tidak ikut campur. Tiga tahun lamanya Sumatera Barat dan Tapanuli Selatan terlibat dalam perang yang tiada mengenal kompromi. Perjanjian damai yang diadakan tidak pernah bertahan lama.

Tuanku Rao meminta kepada Tuanku Tambusai untuk meyakinkan mertuanya tentang “niat-buruk” Belanda.

Permintaan itu segera dikabulkan oleh Tuanku Tambusai. Pada suatu sore dalam bulan Maret 1830, Tuanku Tambusai beserta beberapa orang pengirimnya datang menghadap Yang Dipertuan Rao.

Ketika Tuanku Tambusai selesai mengungkapkan “niat-jahat” Belanda dan mengajak Yang Dipertuan Rao untuk berjuang dipihak Paderi, beliau hanya menerima jawaban seperti yang diucapkan oleh Yang Dipertuan Rao; “Aku tidak punya alasan untuk memusuhi Belanda”. Pada bulan Juni 1832, pasukan tentara Belanda yang baru didatangkan dari Jawa tiba di Padang.

Pasukan ini langsung diberangkatkan ke Rao, dipimpin oleh seorang opsir muda, Mayor van Amerongen. Pertempuran di Benteng Rao Pasukan Belanda dibawah pimpinan van Amerongen tiba di Rao pada bulan Juli 1832.

Spion mengatakan bahwa kedatangan Belanda tidak untuk berdamai. Apa yang dilaporkan oleh para spion Paderi memang benar.

Van Amerongen tidak mengirimkan utusan, malah mulai mengatur pasukannya untuk mengadakan serangan. Serangan pertama dilancarkan pada subuh hari. Beberapa kali Belanda mencoba untuk menerobos Benteng Rao dari jurusan Timur, tetapi mereka mendapat pukulan yang cukup keras dari Pasukan Tuanku Rao.

Kemudian pasukan Belanda menyusup ke hutan, seolah-olah mundur kearah timur lalu dengan tiba-tiba muncul dari jurusan barat dan mencoba melakukan penyerangan.

Tetapi Tuanku Tambusai dan pasukannya yang mempertahankan jurusan itu memberikan perlawanan yang sengit, sehingga pasukan van Amerongen cerai-berai dan mengundurkan diri, lalu berkemah disuatu tempat beberapa km dari luar Rao.

Seringkali Belanda melakukan penyerangan kepada pasukan Paderi, namun sesering itu pula Belanda mengalami pukulan keras dari pihak Paderi. Bala bantuan terus didatangkan Belanda untuk melawan Paderi merebut Benteng Rao. Belanda segera melakukan penyerangan besar-besaran terhadap Benteng Rao.

Akhirnya setelah bertempur mati-matian selama enam belas hari secara terus-menerus, Benteng Rao terpaksa dikosongkan oleh pejuang-pejuang Paderi (Oktober 1832). Tuanku Rao beserta pasukannya mengundurkan diri ke Air Bengis untuk meneruskan perjuangan, sementara Tuanku Tambusai bersama pengikutnya mundur kearah barat memasuki daerah Mandailing, untuk menyusun kekuatan dan meneruskan perjuangan.

Tuanku Tambusai menjalankan “siasat menakut-nakuti”. Pemuda yang “berani mati” diseludupkan ke Rao dan menyamar sebagai penduduk disana. Mereka ditugaskan menculik prajurit Belanda, kemudian memenggal kepalanya, lalu meletakkan kepala prajurit Belanda tersebut dipinggir jalan. Kejadian yang mengerikan itu terjadi di sebagian barat dari Rao. Maka malam berikutnya, peristiwa itu tidak terjadi lagi. (sl/ws)

Topik

Berita lainnya

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker