Kolom

Saatnya Semua Kembali ke Rumah

Oleh: Lutfiyah Nurlela

Beberapa waktu yang lalu, di awal merebaknya Covid-19 dan saat work from home (WFH) diberlakukan, adik ipar saya mengirim pesan. Melalui WhatsApp. ”Mbak…..tolong dong Mbak, Mas Didut diberi tahu. Masak kondisi kayak gini dia masih kerja terus…. Aku lak yo khawatir, Mbak….” Didut adalah suaminya, yang notabene adalah adik saya.

Adik ipar saya itu seorang ibu rumah tangga. Dia memiliki dua anak. Satu laki-laki berusia sekitar 11 tahun.

Adiknya, perempuan, berusia sekitar 3 tahun. Si kakak adalah anak berkebutuhan khusus (ABK) dengan kelainan down syndrome (DS). Pada usianya yang seharusnya sudah mulai menginjak remaja, dia belum bisa bicara jelas, kosakatanya masih sangat terbatas. Motoriknya sangat bagus dan terkesan ”kuat”, tapi kadang kala tak terkendali. Kalau marah, dia sangat emosional. Suka memukul-mukul kepalanya sendiri.

Sebelum pandemi Covid, si kakak maupun si adik tentu saja bersekolah. Si kakak bersekolah di sebuah sekolah luar biasa. Setiap hari berangkat pukul 06.30 dan pulang pukul 12.00.

Saat sore kadang-kadang masih les bersama guru shadow-nya. Si adik bersekolah tiga kali seminggu, di sebuah playgroup. Yang mengantar sekolah adalah adik saya, papanya anak-anak itu. Pulangnya, ganti mamanya yang menjemput.

Begitu pandemi Covid merebak dan semua diimbau stay di rumah saja, adik saya masih terus ”ngantor”. Saya pun akhirnya harus turun tangan untuk memastikan dia sementara berhenti ngantor dan WFH saja.

Begitulah. Semua orang saat ini harus tinggal di rumah, kecuali yang memang tidak memungkinkan, dengan berbagai alasan. Tinggal di rumah, bagi para orang tua, konsekuensinya luar biasa. Anak tidak pergi ke sekolah. Suami dan atau istri tidak bekerja keluar rumah. Hanya di rumah. Setiap hari bertemu. Setiap hari berinteraksi, physically.

Bagi orang tua dengan anak-anak yang normal saja, artinya anak yang tidak berkebutuhan khusus, hal itu sering kali tidak mudah. Mulai bangun tidur hingga tidur lagi, orang tualah ”key person” untuk mengelola semuanya. Pembelajaran anak, aktivitas bermainnya, konsumsinya, kerewelannya, kenakalannya, kebawelannya, kebosanannya, semuanya, sepenuhnya bersama orang tua.

Selama 24 jam penuh. Masih lumayan kalau ada asisten rumah tangga (ART) yang memang tinggal di rumah dan harus tinggal di rumah (tidak boleh mudik karena pandemi ini). Maka, tugas mengurus anak bisa lebih fokus.

Setidaknya ada yang bertugas mencuci piring dan baju kotor, menyapu, atau mengepel. Namun, bila tidak ada ART, tugas orang tua menjadi makin berat. Maka, berbagai tugas antara suami dan istri menjadi sangat penting.

Mengasuh ABK tentulah membutuhkan perhatian lebih ekstra. Namanya saja berkebutuhan khusus, anak memiliki karakteristik khusus yang berbeda dengan anak pada umumnya tanpa selalu menunjukkan pada ketidakmampuan mental, emosi, atau fisik.

Memiliki anak berkebutuhan khusus bukan hal yang mudah bagi orang tua mana pun. Faktor utama bagi tumbuh kembang anak, terutama ABK, adalah orang tua. Orang tua harus belajar memahami dan mendampingi anak agar mereka memiliki kepercayaan diri dan kemampuan untuk menjalani aktivitas sehari-hari.

Saat ini, ketika semua orang harus berusaha untuk tinggal di rumah, inilah saatnya keluarga memberikan perhatian yang lebih intens kepada setiap anggotanya. ABK, yang sebelumnya harus berada di sekolah atau beraktivitas di luar dengan pengasuhnya, saat ini harus sepenuhnya ada dalam pengawasan orang tua. Ini adalah kesempatan emas. Tidak ada tuntutan dari tempat kerja untuk datang ke kantor. Kalaupun masih ada tugas-tugas kantor yang harus diselesaikan, itu pun bisa dikerjakan di rumah. Anak-anak juga tidak perlu pergi ke sekolah. Maka, mendampingi anak sepanjang waktu menjadi kesempatan emas bagi orang tua.

Kapan lagi sih kita dilarang pergi ke tempat kerja? Kapan lagi diminta tinggal di rumah saja seperti saat ini? Belum tentu kesempatan tersebut akan ada lagi. Inilah salah satu hikmah dari pandemi ini. Manfaatkan!!!

Jangan biarkan berlalu tanpa makna bagi tumbuh kembang anak-anak kita. Apalagi bagi ABK kita.

Buatlah beragam kegiatan di rumah untuk anak selama masa pandemi ini. Memasak bersama, membuat prakarya yang sederhana, melukis, mewarnai, membaca buku, bermain petak umpet, bahkan memasang tenda di halaman rumah atau di teras rumah akan menjadi pilihan aktivitas yang menyenangkan.

Sesekali lakukan video call dengan guru atau shadow-nya. Supaya anak tetap terhubung secara emosional dengan orang-orang penting itu. Bantu anak melakukan komunikasi dengan teman-teman sekolahnya sesekali.

Supaya mereka tetap bisa bersosialisasi meski secara online. Bahkan, bila memungkinkan, perlu dirancang sebuah kegiatan bersama sekolah dan para orang tua, bisa secara periodik atau insidental. Agar anak-anak bisa bertemu secara bersama-sama dengan memanfaatkan aplikasi tertentu, misalnya Google Meet.

Keluarga merupakan landasan dasar dari semua institusi. Keluarga memiliki fungsi biologis, psikologis, sosial, psikologis, ekonomi, dan pendidikan. Pada fungsi biologis, keluarga berfungsi meneruskan keturunan; memelihara dan membesarkan anak; memenuhi kebutuhan gizi keluarga, dan memelihara serta merawat anggota keluarga. Pada fungsi psikologis, keluarga berfungsi memberikan kasih sayang dan rasa aman, memberikan perhatian, membina pendewasaan kepribadian anggota keluarga, dan memberikan identitas keluarga.

Pada fungsi sosial, keluarga berfungsi membina sosialisasi pada anak, membentuk norma-norma tingkah laku sesuai dengan tingkat perkembangan anak, dan meneruskan nilai-nilai budaya keluarga. Sedangkan pada fungsi ekonomi, keluarga berfungsi mencari sumber-sumber penghasilan untuk memenuhi kebutuhan keluarga, mengatur penggunaan penghasilan keluarga untuk memenuhi kebutuhan keluarga, dan menabung.

Pandemi ini memberikan banyak hikmah bagi kita semua. Salah satunya adalah mengembalikan institusi keluarga pada fungsi yang seharusnya. Saatnya kembali pada keluarga. Saatnya berkontribusi secara nyata untuk mereka. (*)

Lutfiyah Nurlela, Guru Besar Bidang Ilmu Kesejahteraan Keluarga Unesa.