Kolom

Refleksi Pembelajaran Daring dalam Pandemi COVID-19

Oleh: Theresia Monika Siahaan

Dosen Pendidikan Matematika Universitas HKBP Nomensen Pematangsiantar (UHKBPNP) sudah lima pekan berjalan peserta didik tingkatan Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama(SMP), Sekolah Menengah Atas (SMA) bahkan mahasiswa di perguruan tinggi pun tidak lagi harus pergi ke sekolah atau kampus untuk mengikuti pembelajaran dan pendidikan seperti biasa.

Hal ini disebabkan oleh kebijakan menteri pendidikan dan kebudayaan dalam membelajarkan siswa/mahasiswa di rumah dan para pendidik memberi materi pembelajaran dari rumah. Kebijakan ini dibuat untuk memutus rantai penyebaran Covid-19.

Dengan adanya virus ini telah merusak tatanan pembelajaran langsung di sekolah dan di kampus, pemerintah dalam hal ini menteri pendidikan telah menawarkan satu solusi agar pembelajaran tetap berlanjut dan interaksi antara guru dan siswa tetap terlaksana dalam proses pendidikan.

Melalui pembelajaran daring dimana guru/dosen dan siswa/mahasiswa dapat berkomunikasi lewat media internet. Sehingga harapan tercapainya pembelajaran tetap terlaksana. Namun harapan baik ini tidak dapat berjalan seperti yang diharapkan.

“Banyak faktor yang harus kembali kita pikirkan bersama kita sebagai pendidik,kita sebagai siswa,  kita sebagai orangtua dan kita sebagai pemangku kebijakan dalam hal ini pemerintah,” sebutnya.

Sebagai pendidik masih jauh dari harapan bahwa pendidik masih banyak yang belum mampu menggunakan aplikasi yang ditawarkan melalui media internet. Dalam hal ini pendidik masih perlu banyak belajar dalam mengikuti perkembangan dan kemajuan teknologi.

“Kita tidak bisa menutup mata masih kita temukan di lapangan bahwa pendidik masih ada yang belum mampu menggunakan fasilitas internet secara maksimal. Jika kita melihat kembali media ini seharusnya sangat membantu seandainya semua pendidik mampu menggunakan fitur-fitur aplikasi yang mendukung pembelajaran,” ujarnya.

Sebagai siswa/mahasiswa masih kurang memahami fitur-fitur pembelajaran padahal banyak situs-situs resmi pembelajaran yang dapat membantu siswa/mahasiswa dalam memahami pembelajran di sekolah/kampus. Keterbukaan siswa dalam mengakses fitur pembelajaran di internet masih cukup kurang. Hal ini sering ditemukan ketika mereka mengambil referensi tugas yang diberikan guru/dosen hanya mencopy paste dari google tanpa terlebih dahulu memahami isi dari materinya.

“Keadaan ini lah yang menjadi penyebab putusnya komunikasi pembelajaran yang seharusnya siswa/mahsiswa tentunya mampu menemukan pembelajaran secara mandiri maupun dengan dampingan orangtua. Kebiasaan inilah yang menjadi salah satu faktor ketidaksiapan siswa untuk mengikuti pembelajaran daring. Selain faktor ketidaksiapan siswa ada faktor lain yang harus sangat diperhatikan semisalnya tidaksemua peserta didik memiliki jaringan internet lewat HP Android serta tidak semua siswa orangtua nya memiliki HP android. Hal ini sebagian besar disebabkan oleh faktor ekonomi orangtua. Keadaan yang seperti ini lah yang memang harus diperhatikan oleh pihak  sekolah dan pemerintah untuk mencari solusi yang tepat agar anak tetap mengikuti pembelajaran yang efektif dari pihak sekolah maupun kampus,” ujarnya.

Sebagai orangtua diharapakan sebisa mungkin memberikan dukungan dan tentu pendampingan untuk anak belajar secara daring demi terlaksana pembelajaran materi yang disampaikan oleh para pendidik. Harapannya dengan pendampingan ini siswa tetap berada pada koridor dan tidak salah menggunakan media internet sehingga media ini digunakan sungguh- sunguh sebagai pendukung pembelajaran.

Sebagai pemerintah sangat besar harapan masyarakat pemerintah membuat satu terobosan bagaimana adanya kesenjangan fasilitis pendidikan secara daring di kota dan di tingkat pedesaan.

“Kita bisa melihat secara umum pada tingkat perkotaan pembelajaran daring atau komunikasi daring masih berjalan dengan baik. Lalu bagaimana dengan tingkat pedesaan? Kita melihat pemerintah sudah mencoba memberikan sebuah solusi lewat pembelajaran TV Nasional pada tingkat Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama sudah cukup bagus tetapi pada Sekolah Menengah Atas dan Perguruan tinggi belum maksimal,” terangnya.

Dia menambahkan, hal itu juga belum semua daerah dapat diakses internet sehingga proses pembelajaran daring tidak berjalan sesuai dengan yang diharapkan. Ditambah ketidakmampuan siswa dan mahasiswa untuk membeli paket internet dikarenakan orangtua mengalami kekurangan penghasilan bahkan tak punya penghasilan akibat pandemi covid-19.

Dalam hal ini pemerintah perlu membuat satu terobosan dalam melindungi siswa dan mahasiswa yang sungguh- sunguh terkena imbas dari pandemi covid-19. Sehingga Siswa dan mahasiswa bisa mengikuti pembelajaran daring dengan baik.

Pandemi Covid-19 sungguh telah menggangu proses pendidikan yang baik dimana biasanya guru dan siswa hadir ke sekolah untuk proses pembelajaran namun saat ini hal tersebut belum dapat terlaksana.

“Kita semua berharap semoga pandemi ini cepat berlalu. Orang – orang yang terkena dampak pandemi ini mendapatkan uluran – uluran tangan dari orang yang berkecukupan. Kita semua berperan penting dalam memutus penyebaran rantai covid-19 dengan cara mendukung program pemerintah dengan physical distancing dan tetap melindungi dan menjaga kebersihan diri, keluarga dan lingkungan dengan cara rajin cuci tangan serta apabila keluar rumah segera mandi tanpa bersentuhan dengan orang-orang yang kita sayangi terlebih dahulu serta senantiasa mendekatkan diri kepada Tuhan sesuai dengan kepercayaan kita masing- masing,” tutupnya. (***)