Kolom

Refleksi Hari Jadi Ke-72: Polwan di Panggung Utama Pemolisian

Oleh BRIGJEN JUANSIH

Selasa (1/9) sangat spesial bagi polwan Republik Indonesia karena ada perayaan hari jadi ke-72. Usia yang tidak muda tentunya. Namun, dengan tidak melihat berapa usianya, tetapi sejauh mana polwan memberikan peran di panggung utama pemolisian.

Polwan lahir di Bukittinggi, Sumbar, yang kala itu diawali dengan merekrut enam perempuan untuk dididik sebagai siswa polwan. Mereka dibutuhkan untuk membantu penggeledahan kepada para pelaku kejahatan, khususnya perempuan. Sebelum ada polwan, penggeledahan terhadap perempuan pelaku kejahatan dilaksanakan para istri polisi. Karena itu, keenam perempuan tersebut dididik sebagai siswa polwan dan dilantik pada 1 September 1948. Mereka disebut sebagai perintis polwan.

Seiring dengan berjalannya waktu, polwan berupaya meningkatkan kualitas dan kuantitas sehingga pada tahun-tahun berikutnya rekrutmen polwan semakin banyak dan mencapai puncaknya pada 2014 dengan merekrut sekitar 7.000 orang. Ini memang ’’sesuatu” sekali karena tidak seperti biasanya rekrutmen polwan sebanyak itu. Paling tidak, hanya sekitar 400 perempuan yang direkrut setiap tahunnya.

Rasio polwan masih sangat sedikit dibanding polisi laki-laki. Yakni, sebanyak 24.508 orang atau hanya 3,5 persen dari jumlah polisi laki-laki. Selain itu, Polri menghendaki adanya polwan di tingkat polsek. Yakni, untuk menangani masalah-masalah perempuan dan anak-anak, baik sebagai pelaku maupun korban kejahatan.

Namun, polwan sebetulnya tidak saja mengejar kuantitas. Akan tetapi, polwan juga mengejar aspek kualitas.

Tujuannya, polwan lebih siap dan lebih punya bekal ketika menghadapi tantangan dunia penegakan hukum yang semakin keras dan berteknologi tinggi. Dengan demikian, kalaupun diberi kesempatan berkiprah dan menduduki jabatan-jabatan penting, baik di bidang pembinaan maupun operasional, hal itu bukan karena sekadar memenuhi kuota perempuan. Akan tetapi, memang karena memiliki kualitas keilmuan, leadership dan pengalaman yang mumpuni, serta memiliki peluang yang sama dengan polisi laki-laki dan berkompetisi sesuai kemampuan masing-masing.

Polwan adalah esthi bhakti warapsari.Yakni, putri-putri pilihan yang harus mampu bertugas dan mengamalkan ilmu pengetahuannya dengan penuh kesederhanaan, kegunaan, kebesaran jiwa, berwibawa, dan tanpa pamrih demi tercapainya masyarakat yang tenteram dan damai. Karena itu, pimpinan Polri terus menggali potensi, mengembangkan kapasitas, dan memberdayakan polwan melalui pendidikan dan pelatihan, baik di dalam maupun di luar Polri. Pimpinan Polri juga memberikan kesempatan yang sangat luas untuk menduduki jabatan-jabatan strategis di kepolisian sehingga tidak ada lagi bias gender di tubuh Polri.

Pendidikan dan pelatihan di internal kepolisian sudah bisa mengakomodasi polwan. Lemdiklat Polri sangat berperan dalam menyiapkan postur Polri yang unggul dan berintegritas sebagai calon pemimpin Polri di masa yang akan datang. Sedangkan program-program pelatihan polwan di luar negeri dilaksanakan melalui kerja sama dengan sejumlah negara yang memiliki program yang sama dalam pengembangan kapasitas polwan di tingkat internasional.

Seperti Amerika Serikat (AS) melalui ICITAP (International Criminal Investigative Training Assistance Program) yang pelatihannya melibatkan berbagai negara bagian di AS. Mereka punya program khusus untuk polwan, yakni WLDP (woman leadership development program). Selain itu, ada JICA di Jepang atau KOICA di Korea.

Dengan demikian, polwan sekarang lebih terbuka dan maju dalam berpikir dan bertindak untuk menjalankan tugas penegakan hukum, pemeliharaan kamtibmas, melindungi, mengayomi, dan melayani masyarakat sesuai UU No 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara RI.

Tidak heran, polwan saat ini memiliki semangat untuk lebih menunjukkan peran di panggung utama pemolisian.

Mereka tidak mengejar jabatan, tetapi lebih kepada perannya sesuai dengan bidang tugas masing-masing.

Sekecil apa pun tugas yang dikerjakan akan memberikan warna dalam pemolisian. Terlebih apabila mereka diberi tanggung jawab dan jabatan strategis dalam memegang satuan wilayah seperti Kapolsek, Kapolres, dan Wakapolres. Dulu pernah ada Kapolda polwan. Kini sudah ada yang menjadi kepala pusat sejarah Polri, Wadir lantas, Wadir binmas, kemudian jabatan lain di bidang pembinaan sebagai Kabiro SDM, Kabiro perencanaan, Kabid keuangan, Kabid propam, serta Kabid IT baik di mabes maupun jajaran polda.

Semua itu menunjukkan bahwa polwan, meski sedikit jumlahnya, sudah siap berkompetisi, baik secara internal maupun internasional. Banyak polwan yang berprestasi di tingkat internasional seperti di misi-misi PBB di Sudan dan beberapa negara lain di Afrika. Tidak mudah bagi polwan untuk bisa lolos seleksi sebagai tim FPU pada misi PBB sebagai force police unit, di mana situasi dan kondisi di negara yang menjadi tempat penugasan penuh dengan konflik dan ini tentu tidak mudah. Namun, polwan mampu menunjukkannya.

Butuh kesungguhan jiwa, kekuatan, dan kesehatan yang prima sehingga ketika polwan ingin berkiprah, mereka sudah siap fisik dan mental. Jadi, harus ada keseimbangan di dalam pembinaan karir polwan. Karena itu, kehadiran polwan tak hanya sebagai sosok pemanis saja. Tidak hanya di bidang pembinaan. Akan tetapi, di bidang operasional juga. Tujuannya, dalam mewujudkan integritasnya di samping memiliki kemampuan, juga adanya keseimbangan antara pengalaman dan intelektualitas.

Kapolri sangat intens atas eksistensi polwan untuk lebih berperan dalam panggung utama pemolisian. Di dunia internasional pun, atas dukungan penuh dari Kapolri dan semua pihak, polwan RI mampu mengalahkan pesaing-pesaing dari negara lain dalam bidding (lelang) yang dilaksanakan di Quito, Ekuador, untuk menjadi tuan rumah Konferensi Internasional Polwan yang akan dilaksanakan di Jogja pada 5–8 September 2021 atau disebut 58th International Association of Women Police Conference 2021 (IAWP Conference 2021). Konferensi polwan itu merupakan yang pertama di Asia dan Indonesia mendapatkan kesempatan menjadi penyelenggara sejak IAWP berdiri 114 tahun silam. Sebelum-sebelumnya, konferensi polwan internasional diselenggarakan di AS dan sekali di Inggris.

Akhir kata, kiprah polwan tetap memerlukan dukungan penuh dari masyarakat untuk lebih berperan di panggung utama pemolisian. Serta, mohon doa restunya, di hari jadi ke-72 ini, polwan siap mewujudkan Kamtibmas Kondusif Masyarakat Semakin Produktif, Polwan Unggul. Polri Unggul, Indonesia Maju. (*)

*) Brigjen Juansih, Analis kebijakan utama bidang Bindiklat Lemdiklat Polri



Pascasarjana

Unefa
Back to top button