Kolom

Pembatasan Harus Terukur, Antisipasi Efek Berantai

Dampak pembatasan perdagangan antara Indonesia dan Tiongkok karena wabah virus korona terasa saat ini. Khususnya di sektor pariwisata. Dengan jumlah wisatawan Tiongkok sebanyak 2 juta orang per tahun, surplus devisa kita lebih dari USD 100 juta per kuartal.

 OLEH SHINTA WIDJAJA KAMDANI

Jadi, kalau pembatasan terus berlangsung sepanjang kuartal ini, surplus tersebut bisa saja hilang.

Memang, di sisi lain, ada peralihan wisatawan yang tadinya ke Tiongkok atau negara lain yang terkena wabah menjadi ke Indonesia. Namun, peralihan itu tidak sebesar jumlah wisatawan Tiongkok yang tidak jadi datang ke Indonesia karena ada pembatasan wisatawan asal Tiongkok.

Soal pembatasan di sektor perdagangan, dampak yang sudah terasa adalah kesulitan supply chain Indonesia dari Tiongkok. Impor bahan baku dan bahan penolong yang kita butuhkan untuk diproduksi di Indonesia terpengaruh. Dengan tertekannya produksi, upaya mengekspor ke luar negeri, baik ke Tiongkok atau negara tujuan ekspor lain, juga bakal terganggu.

Hal itu khususnya memukul industri-industri manufaktur yang tidak memiliki suplai bahan baku yang cukup atau pas-pasan. Industri nasional yang perlu bahan baku seperti besi, baja, produk kimia, dan bahan baku tekstil sudah pasti terdampak karena stok perlu ditambah agar produksi tetap lancar.

Kami berharap pemerintah berhati-hati dalam melakukan pembatasan impor. Harus ada scientific evidence-nya ke Indonesia. Harap diperhatikan dampak pada konsumen kita. Hal tersebut tidak boleh sampai menciptakan kekacauan di pasar domestik dan meningkatkan inflasi secara tidak proporsional karena kekurangan suplai bahan makanan.

Ke depan, kami harap pemerintah bisa menjaga kondusivitas arus perdagangan, baik dengan Tiongkok maupun negara lain, meskipun ada risiko virus korona. Akan lebih baik jika pemerintah melakukan pengujian berkala mengenai ada tidaknya virus korona aktif pada produk-produk impor dari negara lain agar pasar domestik bisa tenang dan beraktivitas seperti biasa.

Ada peluang untuk substitusi impor? Tentu selalu ada dan kita bisa melakukan substitusi impor kapan saja selama produknya sesuai dengan kebutuhan pasar. Baik dari segi harga, kualitas, maupun kecepatan pengiriman. Masalahnya sekarang, apakah pasar menganggap produk substitusi dari produsen dalam negeri atau produsen negara lain masuk kriteria konsumsi mereka atau tidak?

Impor dari Tiongkok umumnya sulit disubstitusi karena masalah daya saing harga dan volume suplainya yang besar. Belum tentu di level nasional atau negara lain bisa memberikan suplai produk serupa dengan volume yang sama besar atau harga yang sama kompetitifnya dengan Tiongkok.

Tiongkok dalam hal ini diuntungkan produktivitas dan economic scale-nya yang sangat besar. Keunggulan itu sulit diimbangi negara lain, termasuk Indonesia. Produktivitas kita masih di bawah Tiongkok. Tetapi, chance-nya selalu ada untuk substitusi asal kita memperbaiki daya saing dan produktivitas produk-produk yang dihasilkan di dalam negeri.

Kondisi pasar di negara lain kurang lebih seperti Indonesia. Dampak ekonomi yang ikut mereka rasakan adalah gangguan akibat berhentinya sebagian pasokan dari Tiongkok.

Namun, seberapa besar dampaknya terhadap negara lain bergantung pada karakter hubungan ekonomi dan ketergantungan industri negara masing-masing terhadap Tiongkok. Khususnya terhadap produksi dari daerah-daerah yang masih dikarantina di Tiongkok. (agf/c20/fal)

Penulis adalah Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Hubungan Internasional dan Investasi.

Unefa

Pascasarjana


Tags
Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker
Close