Kolom

Pandemik Covid-19 Melahirkan Metode Pembelajaran Baru

Oleh: Wando Sampetua Pasaribu

Kasus positif Covid-19 di Indonesia pertama kali di deteksi pada tanggal 2 Maret 2020, ketika dua orang terkonfirmasi tertular dari seorang warga Negara Jepang. Jika terhitung sampai saat ini, sudah 8 bulan lebih Indonesia berjuang melawan pandemik ini.

Seketika, banyak hal yang berubah di masyarakat. Baik secara sosial maupun pola hidup masyarakat perlahan-lahan mulai berubah. Secara sosial masyarakat dilarang untuk berkumpul yang dapat menimbulkan kerumunan dan harus jaga jarak. Sedangkan dalam pola kehidupan, masyarakat didorong untuk memulai pola hidup sehat dengan mengonsumsi makanan sehat, Vitamin-C, dan tidak lupa untuk selalu memakai masker setiap keluar rumah serta rajin untuk cuci tangan.

“Selalu ada suka dibalik duka”. Mungkin ungkapan ini cocok sebagai penyemangat kita dalam menghadapi pandemik ini. Tidak sedikit nyawa yang terenggut akibat jangkitan Virus ini. Sudah terlalu banyak tenaga medis yang harus kehilangan nyawanya saat menjadi Garda terdepan. Dan tentu saja yang tidak mungkin diabaikan yaitu jerih payah pemerintah yang selalu berusaha untuk menstabilkan setiap aspek di masyarakat. Mungkin hal-hal tersebut yang pertama kali kita terima.

Coba kita lihat dari sisi kacamata yang lain dengan sudut pandang yang berbeda. Sebagai salah satu mahasiswa di STT HKBP Pematangsiantar, penulis akan memberikan tanggapan dari sisi seorang mahasiswa. Jika tidak ada pandemik ini seharusnya penulis mengikuti proses perkuliahan dengan kehidupan berasrama di kampus.

Tentu ini tantangan yang cukup sulit bagi penulis, terlebih lagi untuk para pelajar dan mahasiswa yang lain. Dimana mereka harus menerima pembelajaran secara Daring dari tempat masing-masing. Jaringan yang tidak stabil, atau fasilitas pribadi yang kurang memadai merupakan salah satu hal yang cukup memberatkan dalam keadaan ini.

Namun penulis melihat sisi lain dari pandemik ini, seperti judul tulisan ini “Pandemik Covid-19 melahirkan metode pembelajaran baru”. Kali ini penulis akan berfokus pada metode pembelajaran Bahasa Indonesia khususnya di STT HKBP Pematangsiantar yang diampu oleh bapak Junifer Siregar S.Pd, M.Pd. Selama pandemik Covid-19 pembelajaran Bahasa Indonesia berlangsung melalui grup whatsapp dan sebagai pelengkap untuk pemberian materi dosen menggunakan aplikasi zoom.

Tentu ini salah satu metode pembelajaran yang baru. Tidak sampai disitu saja, penulis juga di dorong untuk lebih kreatif lagi dalam menulis karya tulis dan harus di publish ke grup Facebook sebagai tugas harian. Dari sini kita dapat melihat bagaimana seorang dosen dituntut untuk kreatif dalam menemukan metode pembelajaran baru yang sesuai.

Contoh lainnya adalah, penerbitan karya tulis Bahasa Indonesia di Koran sebagai nilai tambahan untuk Ujian Akhir Semester. Tentu cara ini dapat melatih para peserta didik untuk berani menampilkan karya nya. Dan itulah poin yang ditanamkan oleh Bapak Junifer Siregar S.Pd, M.Pd selaku dosen pengampu mata kuliah Bahasa Indonesia di STT HKBP Pematangsiantar. Karena ini bukan hanya sekedar penambahan nilai saja.

Dari sekian banyak sisi positif yang dirasakan mahasiswa selama belajar Daring tentu tidak lekang dari sisi lainnya. Rasa jenuh, lelah dengan tugas yang menimbun, penerimaan materi kuliah dinilai tidak seefesien saat tatap muka adalah hal yang selalu dirasakan mahasiswa selama Daring. Pengeluaran ekstra untuk kuota internet, serta kurang memadainya fasilitas buku pembelajaran juga merupakan masalah yang dihadapi mahasiswa selama kuliah Daring.

Menteri pendidikan dan kebudayaan (Mendikbud), Nadiem Anwar Makarim mengumumkan bahwa sekolah dan instansi pendidikan lainnya akan dibuka kembali pada bulan Januari 2020. Bagaikan angin sejuk di tengah teriknya mentari. Tentu ini menjadi kabar gembira bagi seluruh pelajar dan mahasiswa. Ditambah lagi, vaksin corona telah diterima oleh Indonesia.

Sebagai salah satu mahasiswa, penulis berharap kabar baik dapat terealisasikan dengan baik. Agar pembelajaran tatap muka dapat berlangsung kembali. Dan kehidupan rakyat Indonesia dapat memulih secara perlahan. Tapi untuk pola hidup sehat harus tetap dipertahankan bahkan lebih baik jika di tingkatkan.

Akhir kata, penulis ingin mengatakan “ Semangat Indonesia ku, segeralah pulih. Teruntuk semua orang yang telah mendedikasikan dirinya dalam penanganan ini, khususnya pagi pemerintah yang tak berlelah dalam mencari solusi, serta para tim kesehatan yang menjadi Garda terdepan. Kami rakyat Indonesia mengucapkan terima kasih. Tetaplah bertahan, Kita lawan Covid-19 bersama-sama.” (*)

Penulis adalah Mahasiswa STT HKBP Pematangsiantar, Kelas 1 C, dengan NPM 20.3660

USI