Kolom

Pandemi dan Kurikulum Kedokteran

Oleh; Budi Santoso

Pandemi virus korona 2019 (Covid-19) telah mengganggu dan mengubah banyak kehidupan di seluruh dunia. Kegiatan akademik di institusi pendidikan juga terkena dampak pandemi ini. Begitu pun proses belajar-mengajar kedokteran di era Covid-19 yang dituntun untuk melakukan penyesuaian, sesuai kebutuhan dan tuntutan pendidikan bagi para mahasiswa didiknya.

Saat ini semakin banyak perguruan tinggi dan universitas di seluruh negeri, termasuk Universitas Airlangga, yang memilih meniadakan kelas tatap muka untuk menyikapi dampak situasi Covid-19. Lantas, pembahasan terkait program pendidikan saat ini beralih ke topik rencana kesinambungan akademis jangka panjang karena Indonesia masih terus berupaya menghadapi dampak Covid-19.

Ada hal penting yang perlu menjadi catatan bagi para pembuat kebijakan maupun pemangku kurikulum suatu instansi pendidikan (perguruan tinggi) bahwa memang benar sumber daya teknologi; alat untuk merekam kuliah, proses penyiaran secara daring, dan sistem pengawasan ujian; merupakan hal yang esensial saat ini.

Namun, hal tersebut tidak cukup untuk melanjutkan upaya belajar dan mengajar dalam situasi pandemi ini. Di luar keterkaitan antara pengajar dan mahasiswa didik melalui koneksi elektronik (virtually connected), penting dipertimbangkan bahwa mahasiswa didik perlu terhubung secara emosional, terutama saat pandemi yang penuh dengan kecemasan dan ketidakpastian.

Pada akhirnya, emosi atau perasaan adalah kunci untuk belajar. Pendidikan kedokteran tidak melatih untuk berpikir seperti mesin, namun juga untuk menumbuhkan rasa empati dan kemanusiaan. Maka, tantangan pengadaan kurikulum pendidikan saat dan pasca-pandemi ini menjadi suatu hal menantang yang harus segera dipecahkan.

Pertanyaannya, bagaimana pendidik ataupun pemangku kebijakan suatu perguruan tinggi dapat melaksanakan pengajaran di tengah situasi yang penuh ketidakpastian dan bagaimana kita dapat memastikan bahwa siswa kita terus belajar dengan paling efektif?

Learning Management System

Pembelajaran daring bagi mahasiswa kedokteran bukanlah hal baru dalam pendidikan kedokteran. Di Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Airlangga, telah diberlakukan learning management system (LMS) dengan menggunakan fasilitas aula FK yang telah berlangsung lebih dari lima tahun sebelum pandemi. Dengan demikian, dalam hal pelatihan klinis maupun teoritis, mahasiswa kedokteran sudah cukup akrab dengan platform pengajaran online dari berbagai anggota fakultas.

Namun, saat ini diperlukan metode baru yang lebih komprehensif terhadap uji kemampuan bagi mahasiswa kedokteran, mengingat selama pandemi para mahasiswa belajar dari rumah mereka sendiri. Sangat penting bagi mahasiswa kedokteran terus diuji karena hal ini menentukan pencapaian hasil pembelajaran kurikulum.

Sejatinya, LMS adalah aplikasi perangkat lunak yang digunakan untuk mengelola pembelajaran secara daring, pelaporan, dan pengujian proses pembelajaran.

LMS diciptakan pada akhir 1990-an dan telah diadopsi secara luas sejak saat itu. Pembaruan data LMS tahunan ke-4 pada 2016 terbaru mengonfirmasi bahwa lebih dari 90 persen perguruan tinggi di Amerika Serikat (AS), Australia, Kanada, dan Inggris secara aktif menggunakan LMS.

Penyediaan fasilitas e-learning melalui LMS adalah salah satu faktor kunci dari konsep pembelajaran pendidikan kedokteran secara digital. Bagi pendidik, tujuan utama penggunaan LMS adalah memperoleh dan menyediakan informasi tentang materi pembelajaran sesuai dengan kurikulum, diikuti dengan metode untuk ujian bagi mahasiswa didik. Bagi mahasiswa didik, LMS diharapkan dapat mendukung pembelajaran yang efisien, dengan konten yang jelas, berorientasi pada praktik klinis yang dibutuhkan selayaknya pada pengajaran tatap muka sebelumnya.

Pendidik dan pembuat kebijakan kurikulum perlu ingat bahwa saat ini informasi telah tersebar secara luas dan mudah. Wikipedia juga menyajikan informasi yang dibutuhkan bagi para mahasiswa didik. Lantas, interaksi dan pendidikan yang mengedepankan emosi dan empati perlu dipertimbangkan.

Pandemic Preparedness dan Covid-19 Generation

Restrukturisasi kurikulum pendidikan sangat dibutuhkan dalam mendukung upaya pencegahan Covid-19. Memang disadari bahwa perubahan sistem ini dapat mengganggu proses ajar belajar mahasiswa kedokteran.

Hal ini juga menampilkan dan mencerminkan bahwa saat ini dibutuhkan perubahan paradigma dalam tradisi pendidikan kedokteran. Kesiapsiagaan menghadapi pandemi (pandemic preparedness) yang dimasukkan dalam kurikulum pendidikan sehari-hari dapat digunakan sebagai upaya untuk mempersiapkan peserta didik selama masa krisis pandemi.

Mari sedikit melakukan refleksi, kerugian apa yang sesungguhnya dirasakan dan dihadapi oleh para mahasiswa didik di masa pandemi ini?

Menjawab pertanyaan tersebut, penting kita mengingat perihal situasi yang terjadi selama masa Covid-19. Penutupan institusi pendidikan saat ini membuat sebagian besar mahasiswa di rumah selama berbulan-bulan.

Mahasiswa dihadapkan pada kecemasan akan virus yang mematikan dan ketidakpastian tentang masa depan pendidikan mereka. Perlu juga dipertimbangkan terkait kemampuan akademik para peserta didik. Buletin The New York Times memperingatkan bahwa mahasiswa didik saat ini bisa menjadi ’’generasi Covid’’.

Generasi Covid-19 bila dikaitkan dengan mahasiswa kedokteran dapat berupa mahasiswa yang mungkin tertinggal jauh dari kemampuan akademik dan kemampuan klinis. Dengan demikian, pendidik perlu menemukan cara untuk menilai dan menguji mahasiswa, baik secara formal maupun informal, untuk memahami dengan tepat kemampuan peserta didik tersebut.

Potensi transformasi pendidikan dan ketidakpastian tentang masa depan mahasiswa didik adalah dua hal yang tidak dapat dihindari dari pandemi saat ini. Namun, penting juga dipertimbangkan terkait keadaan emosional dari para mahasiswa didik. Perkembangan internal dan eksternal mahasiswa, yaitu kecerdasan emosional (EQ), kesadaran situasional, dan perilaku profesional serta empati pribadi, semuanya dikatalisasi di institusi pendidikan melalui interaksi dengan teman sebaya, guru, teknisi, akademisi, dan pasien.

Jelas bahwa kurikulum pendidikan kedokteran mengajarkan siswa lebih dari sekadar anatomi. Oleh karena itu, dalam masa-masa yang menantang ini, sangat penting bagi siswa menyadari kondisi pendidikan mereka sehingga dapat beradaptasi dan tangguh dengan menghadapi keadaan pendidikan di era pandemi ini. (*)

Budi Santoso, Guru besar fakultas kedokteran (FK), wakil dekan II FK Universitas Airlangga Surabaya