Kolom

Mengukur Efektivitas Belajar Tatap Muka

Setelah hampir lima bulan sejak 16 Maret 2020 ada pandemi Covid-19, kini Pemprov Jawa Timur berencana memulai kegiatan pembelajaran tatap muka di sekolah pada 18 Agustus 2020. Itu sesuai dengan surat edaran bertanggal 9 Agustus lalu.

Meski demikian, kegiatan pembelajaran tatap muka dibatasi berdasar zonasi tingkat persentase persebaran kasus Covid-19. Misalnya, daerah kuning tidak lebih dari 50 persen dan oranye tidak lebih dari 25 persen. Aturan tersebut sesuai dengan instruksi Kemendikbud bahwa syarat awal pembelajaran tatap muka, satu kelas maksimal diisi separo siswa (Jawa Pos, 10/8).

Pertanyaan susulan pun muncul, efektifkah pembelajaran tatap muka di tengah pandemi Covid-19?

Tentunya, dunia pendidikan pada masa pandemi ini mengalami masa-masa sulit dan dilematis. Memaksakan siswa masuk sekolah saat masa pandemi belum berakhir merupakan langkah yang mustahil karena kasus Covid-19 masih menjadi problematika serius, khususnya dalam kesehatan.

Sementara itu, kalau tidak masuk sekolah, para guru dan siswa mengalami hambatan dalam mengomunikasikan materi pembelajaran dan orang tua terkait biaya kuota internet. Jangan sampai siswa yang menjalani pembelajaran terbebani karena harus pontang-panting mencari sinyal..

Mengingat kondisi demikian, berbagai langkah dilakukan agar siswa tetap mengikuti pembelajaran sambil menunggu diizinkannya pembelajaran tatap muka seperti sebelum pandemi Covid-19. Pertama, para guru dan siswa mengikuti pembelajaran secara daring dengan memanfaatkan teknologi aplikasi (media sosial). Artinya, para siswa mengikuti pembelajaran dari materi yang disampaikan guru secara daring.

Pada tataran itu, orang tua wajib menunggui anak untuk mengikuti pembelajaran daring. Tentunya suasana yang ingin dibangun adalah memperdalam keterikatan orang tua dengan anak saat siswa belum masuk sekolah karena pandemi. Hubungan antara orang tua dan anak harus erat, saling bekerja sama untuk bisa memecahkan persoalan yang dihadapi siswa. Baik dalam belajar maupun pergaulan di sekolah dan rumah.

Kedua, orang tua harus tetap menjadi penyelaras pendidikan karakter. Bagaimanapun, pembelajaran dalam konteks apa pun tidak akan terlepas dari pendidikan karakter. Hal itu merupakan pilihan dan solusi cerdas dalam meneguhkan kemartabatan sebuah bangsa. Sekolah sebagai tempat dalam menanamkan perilaku berbudi pekerti luhur benar-benar efektif dan positif bagi psikologis siswa di tengah pandemi. Mengapa langkah ini harus dilakukan orang tua? Karena guru mengalami keterbatasan waktu dan sarana. Maka, orang tua yang melakukan pendampingan pembelajaran bisa memberikan pendidikan karakter kepada para putra-putrinya.

Orang tua harus selalu melakukan penguatan kesadaran moral kepada anak-anak. Siswa membutuhkan rasa aman dari orang yang ada di sekelilingnya ketika belajar dari rumah (BDR). Langkah itu dilakukan sebagai upaya preventif bahwa sejatinya anak-anak perlu mendapatkan proteksi dari orang-orang dewasa atau teman sebaya. Dengan kata lain, lingkungan keluarga selama BDR adalah tempat kampanye dan sosialisasi yang efektif untuk memutus jaringan pandemi ini.

Lantas, apa dan bagaimana agar pembelajaran tatap muka efektif saat pandemi Covid-19? Paling tidak, pertama, orang tua harus memiliki komitmen yang sama dan tidak ada yang saling tuding atau menyalahkan. Para siswa yang menjalani BDR juga harus benar-benar didampingi, jangan sampai melakukan hal-hal yang melanggar tata kelola kesehatan terkait dengan Covid-19.

Pada intinya, senyampang BDR, orang tua harus selalu menjaga kesehatan, khususnya pergaulan, anak sehingga pada saatnya masuk sekolah tidak ada masalah. Dalam konteks ini, sekolah yang menjadi tempat pembelajaran akan merasa nyaman karena saat BDR para siswa benar-benar sehat. Bagaimanapun, ketika ada permasalahan Covid-19, sekolah tidak mau menjadi bahan tudingan. Karena itu, orang tua harus selalu memiliki komitmen dalam mendampingi para siswa.

Kedua, menyambut rencana uji coba, tentunya semua insan pendidikan, khususnya warga sekolah, juga mempersiapkan diri dengan matang, baik sarana maupun protokol kesehatan.

Hal itu merupakan langkah konkret agar sekolah tetap menjadi tempat yang nyaman secara psikologis dan kesehatan dalam menjalani pembelajaran. Memang, sejatinya melaksanakan pembelajaran saat pandemi seperti ini sungguh dilematis. Segalanya serba terbatas, tidak senyaman kegiatan tatap muka di kelas. Plus-minus dengan pembelajaran daring.

Pengalaman ketika melakukan pembelajaran, saya lebih senang memanfaatkan media sosial (WhatsApp atau Instagram). Media sosial yang sudah akrab dengan siswa akan memudahkan mereka dalam mengikuti pembelajaran. Langkah itu jadi jawaban bahwa pembelajaran selama pandemi harus menyenangkan secara psikologis bagi siswa.

Ketiga, belajar dari fenomena Covid-19, komunikasi guru dan siswa saat pandemi harus berkelanjutan. Pola komunikasi dan pembelajaran yang terbiasa dalam pemecahan masalah secara mandiri dan tidak menjadi beban psikologis. Efektivitas media, metode, dan strategi pembelajaran yang tepat secara tidak langsung dapat dirasakan dampaknya bagi siswa.

Pencarian problematika dan solusinya pada mata pelajaran yang diajarkan, meski interaksinya terbatas, harus selalu tergelorakan. Hanna Jumhana B. (dalam H. Soemarsono; 2008: 16) menyebutkan bahwa karakter merupakan nilai-nilai yang terpatri dalam diri melalui pendidikan, pengalaman, percobaan, pengorbanan, dan pengaruh lingkungan, dipadukan dengan nilai-nilai dari dalam diri manusia.

Nah, saat dilaksanakan uji coba pembelajaran tatap muka pada 18 Agustus 2020, harus terjalin sinergi antara orang tua, masyarakat, dan institusi pendidikan (sekolah). Langkah itu dilakukan sebagai bentuk komitmen untuk bersama-sama berkewajiban memutus mata rantai persebaran Covid-19 sesuai protokol kesehatan.

Dalam konteks ini, jangan sampai ada tudingan sekolah sebagai klaster. Karena itu, saat berangkat ke sekolah, para siswa harus benar-benar fresh dan tidak membawa masalah dari rumah. (*)

Susanto: Guru SMAN 3 Bojonegoro, finalis best practice guru jenjang SMA oleh Kemendikbud 2013



Pascasarjana

Unefa
Back to top button