Kolom

Menggugah Solidaritas Warga Siantar di Tengah Covid19 Melalui Beka Manise

Catatan: Rano Hutasoit

BANYAK orang tak yakin alias pesimis,na maol do i (sulit itu untuk dilakukan). Tak surut, Togu Simorangkir Initiative terus begerak menularkan berbagai virus kebaikan di tengah pendemi virus corona (Covid-19). Keraguan itu dijawab sederhana, “Untuk mengubah sesuatu yang tidak baik menjadi yang baik dibutuhkan komitmen dan konsistensi, titik”.

Kali ini virus kebaikan ditebarkan bagi masyarakat Siantar, khususnya pedagang Pasar Parluasan Kota Pematangsiantar. Beri Kami Makanan Hari Ini Secukupnya (Beka Manise) itu nama programnya. Slogannya ‘Siapa saja bisa memberi, siapa saja bisa mengambil secukupnya’

Cerita membangun optimisme ini diungkapkan sang insipirator Togu Simorangkir lewat akun medsosnya dan saat bertemu di peluncuran Beka Manise di Jalan Mufakat, Lorong 2 Parluasan, Kota Siantar, tepat di sebelah warung Bakmie Pajak (Pasar) Parluasan.

Ada yang berpendapat bahwa Beka Manise akan sia-sia karena masyarakat masih menganut ‘Dipalas’ (dipalastik/dibungkus). Stigma karakter Batak kalau sudah dikasih gratis akan berebut, mustahil untuk mengubah itu.

Bila dilakukan sekali maka tidak ada perubahan. Bila dilakukan terus menerus maka peluang untuk menghasilkan perubahan perilaku akan semakin besar. Konsistensi bisa mengubah sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin.

Gerakan Beka Manise, dikutip dari Doa Bapa Kami. Bila Doa Bapa Kami, biasanya hanya seminggu sekali diucapkan saat ibadah minggu, maka Beka Manise adalah implementasinya yang dilakukan setiap hari.

Ya, spontan. Ada ide langsung eksekusi. Tidak dirancang detail. Pokoknya belajar sambil dijalankan. Tidak menunggu harus ada dana. Yang penting ribaaaaak. Ketulusan akan menemukan orang baik.

Berbagi dan kata cukup itu akan menjadi gaya hidup orang-orang yang terlibat di gerakan Beka Manise, baik orang memberi ataupun yang mengambil. Kebaikan itu menular. Buktinya, tak sampai satu jam ide Beka Manise tayang di media sosial, sudah ada yang bersedia mendonasikan steling tempat makanan.

Selain banyak orang jugul (sebutan orang sulit diatur) di Siantar, orang baiknya juga sangat banyak. Akan banyak cerita kebaikan dari Parluasan melalui Beka Manise.

Peluncuran, 15 Mei 2020, Togu bersama beberapa relawan medesain sistematis pembagian Beka Manise. Awalnya, ada 50 bungkus nasi. Ada 300 butir telur bebek yang sudah di masak sumbangan dari Langit Simorangkir yang berusia 5 tahun.

Saat 50 bungkus nasi dan 300 butir telur sudah di stealing, aktivitas masih tampak lengang. Para pedagang sibuk dengan dagangannya, bahkan ada yang mengira akan ada buka rumah makan baru di pelataran parkir tersebut.

Begitu ada salah seorang pedagang mengambil nasi dan mengatakan gratis. Hitungan 10 sudah ada seratusan orang antri. Sempat tak terkendali. Apa karena lokasinya di pasar, pusatnya keramaian atau karena pas jam makan siang sekira pukul 12.30 WIB? Harus tak teratur kah?

Ya, Tak teratur. Betul masih banyak yang jogal. Semua berlomba, saling dorong, steling pun tergeser, tarik menarik bungkus nasi, ikan lele goreng pun keluar dari bungkus nasi. Agohhh, memang masih banyak yang jogal.

Satu orang ada yang ambil 2 bungkus nasi dan dua telur. Ada yang cuman dapat telur. Dan ada juga ibu-ibu yang sudah sempat berlari kencang namun melihat stealing sudah kosong.

Tak hanya itu, banyak pula tak pakai masker. Berkerumun dan tak peduli anjuran pemerintah begitu mengetahui ada nasi gratis. Iya itulah pengalaman pertamanya. Mungkin itu yang disebut jogal ya?

Begitu ada penjelasan bahwa Beta Manise, gerakan solidaritas. Kata ‘Jogal’ tadi seolah hilang terbawa angin. Inang Parpasar Pagi (ibu pedagang pasar pagi) tiba-tiba mendatangi relawan dan membagikan dagangannya, buncis 1 plastik. Tak berselang, ada goreng. Lanjut ada terong.

Tak lama berselang, ada seorang ibu mengambil buncis 1 genggaman, secukupnya. Terdiam, merinding. Berlinang air mata. Tuhan bekerja dengan misi Beka Manise ini.

Hari kedua, lebih banyak lagi yang berdonasi. Sayur, bawang, cabai, jagung, buah-buahan, mie dan beraneka makanan. Tak perlu lagi diatur-atur, para pekerja parkir menjadi relawan ikut merapikan sayuran di steling Beka Manise. Yang mengambil juga sudah mulai teratur.

Viral, komen di sosial media ramai. Jujurlah ya, Pak Nous (Panggilan Togu), tdnya kupikir kian, cmanalah nanti program ini bakal berjalan lancar ya? Krn sepengetahuanku, berdasarkan pengamatanku, biasanya ya di acara sukacita maupun dukacita, yg namanya makan gratis itu, yg ronyoknya segede uang limper pun, adanya yg ngambil dua-tiga porsi utk dipalastik. Tp yg kuliat ini, bisanya rupanya kita jd insan yg tertib dan beretika tnyata ya. Tmasuk cth penelitian sosial jg-lah programmu ini loh… Asli keren bah

Komentar yang lain, jika seseorang melakukan hal luar biasa dengan mengorbankan waktu, pikiran dll untuk tujuan baik, orang tersebut juga sudah memikirkan resiko positi dan negatif yang akan diterimanya….

Walaupun banyak resiko yang negatif tapi dengan kehadiran 1(satu) atau beberapa yang positif bisa jadi seperti pemberian segelas air di padang gurun…

Mengaplikasikan lebih baik memberi dari pada menerima di Kota Pematangsiantar dapat kita lihat pada usia Beka Manise ini..

Super super salut kuucapakan buat laeku Togu Simorangkir dan orang-orang baik lainnya yang ada dibelakang Beka Manise…

Banyak orang yang memiliki niat baik, tapi orang yang memiliki niat baik, menampung niat baik serta mengeksekusi niat baik di Siantar yang kutahu hanya lae Togu Simorangkir…

Semoga Togu Simorangkir – Togu Simorangkir yang baru boleh tumbuh subur di Kota Siantar dan kota-kota lainnya di Indonesia. Amin.

Tak hanya virus kabaikan Beka Manise, Togu Simorangkir Initiative juga sudah menolong para petani dengan gerakan Baperan (Bantu PEtani bertahan). Membantu para tenaga medis dengan meluncurkan gerakan Ratu Gadis Covid19 (Rakyat bantu Tenaga Medis Covid19).

Ya, mari bersama menularkan virus kebaikan. Teruslah menjadi ‘Provokator Kebaikan’ lae Togu Simorangkir. Kebaikan Itu sudah mulai menular. (**)



Unefa

Pascasarjana
Tags
Back to top button