Kolom

Memahami Karakter Generasi Y dan Z

Sebagaimana para peneliti yang sering kita dengar tentang defenisi dari generasi milenial adalah mereka yang terlahir antara rentang tahun 1980-an hingga 1995. Sedangkan Generasi Z adalah mereka yang terlahir antara rentang tahun 1995 sampai tahun 2000.

Artinya saat ini generasi Y atau yang disebut dengan generasi milenial kini sudah banyak yang dewasa dan sedang menikmati karir yang telah diusahakan mereka sejak kecil. Sedang generasi Z saat ini sedang beranjak dewasa dan sudah mulai menuju cita-cita yang telah direncanakan. Jadi, jika ditamsilkan kepada dunia pendidikan, maka generasi Y adalah gurunya dan generasi Z adalah muridnya. Cuma dua generasi ini adalah hidup dalam era yang sama yaitu sama-sama generasi milenial.

Kedua generasi ini adalah generasi yang akrab sekali dengan gadget. Media sosial bagi mereka adalah bagian dari kehidupan yang tidak bisa dipisahkan. Generasi minelial memang memiliki kecerdasan yang lebih tinggi dari generasi sebelumnya yaitu generasi X, namun di balik kecerdasan kedua generasi ini, terdapat kekuatan teknologi yang bisa saja membuat mereka terpengaruh dengan dunia baru yang sesungguhnya tidak sesuai dengan budaya mereka. Media sosial yang kini gencar digunakan oleh generasi milenial saat ini adalah suatu kekhawatiran, jika guru dan para orang tua selaku generasi Y tidak bisa mengarahkan generasi Z dengan baik.

Ketergantungan kedua generasi ini terhadap gadget sudah kita saksikan bersama. Hampir di setiap aktifitas penuh dengan kegiatan untuk membuka dan menutup media sosial. Notifikasi media sosial selalu menjadi yang paling penting, bahkan setiap kali postingan yang ada di media sosial kerap kali dibuka untuk melihat berapa banyak like dan komentar yang masuk.

Hal ini adalah kenyataan yang harus kita hadapi. Namun, bukan berarti kita tidak boleh untuk menggunakan gadget, tetapi dengan tingkat kecerdasan yang lebih tinggi dari generasi X, seharusnya kedua generasi ini sudah memiliki benteng yang kuat untuk bertahan dari segala pengaruh buruk dalam media sosial.

Jadi yang paling penting diperhatikan adalah generasi Y, karena merekalah yang akan melewati puncak kemajuan teknologi yang serba maju ini. Generasi zaman now harus benar-benar siap untuk menghadapi perubahan yang begitu cepat atau yang disebut dengan teknologi tanpa batas. Saat ini generasi Z sedang beranjak dewasa yang penuh dengan godaan dan cobaan. Jika para orang tua dan guru tidak bisa memahami mereka, maka mereka kelak akan mejadi generasi yang milenial yang tidak bisa menerima perubahan. Sedangkan perubahan dalam kemajuan zaman adalah syarat mutlaq yang harus kita lewati.

Generasi Z memiliki cakupan potensi tertinggi di berbagai gaya hidup yang semakin tak menentu, maka seorang guru harus mampu mengikuti segala perkembangan prilaku anak didiknya, karena terkait dengan seluruh lingkungan, tidak hanya lingkungan Sekolah, tetapi menyankut seluruh kehidupan anak didiknya. Pendidikan karakter penting merupakan kebutuhan yang sangat mendesak saat ini, mengingat masalah-masalah yang terjadi pada generasi millenial di Negeri ini semakin tak terbendung oleh nilai-nilai pendidikan.

Guru Sebagai Pendidik lazimnya aktif berkomunikasi dengan masyarakat, orang tua siswa dan peserta didik serta lingkungan sekitar tempat kita bertugas. Lebih dari itu, guru juga harus mampu merealisasikan kurikulum pendidikan dengan kebutuhan siswa, dengan banyak berkreasi, bergaul dan memiliki kreatif tinggi dalam merealisasikan kompetensi profesinya sebagai guru, baik bagi peserta didik maupun bagi lingkungannya.

Maka tidak heran kita melihat sering kali terjadi kurangnya keharmonisan hubungan antara guru dengan wali murid, bahkan dengan orang tua, sebab selaku orang tua, guru tidak pernah aktif untuk memerhatikan setiap tindakan anak didik generasi Z.

Bahkan ada sebagian guru, meskipun peserta didiknya tidak lagi di Sekolah atau sedang libur, guru masih aktif komunikasi dengan orang tua dan anak didiknya sendiri. Meskipun hanya sekedar menanya perkembangan karakter anak didiknya, tetapi bagi orang tua, itu adalah sesauatu yang terkesan indah, sehingga hubungan antara orang tua dengan Guru semakin erat dan menjadi motivasi bagi orang tua untuk turut mendidik dari jarak jauh.

Semua orang tua pasti menginginkan adanya kimunikasi aktif dengan guru, mungkin dari berbagai permasalahan anak didik di Rumah menjadi kaca perbandingan bagi guru untuk melakukan perbandingan sekaligus solusi untuk membentuk karakter anak berdasarkan latar belakang pendidikan keluarga.

Memang sudah menjadi sebuah ketetapan, bahwa keberagaman budaya dan teknologi akan terus mengalami peningkatan, siswa dengan segala macam prilakunya. Maka orang tua, guru, masyarakat dan sebagainya yang harus paham tentang hal itu. Terlebih kepadam profesi guru, tidak ada alasan lagi untuk tidak paham dengan gadget.

Termasuk dalam memahami dan memberikan penegasan positif terhadap media-media sosial yang cukup diminati oleh peserta didik zaman sekarang. Apalagi pengaruh perkembangan media sosial yang semakin deras semakin tak terbendung oleh siswa dan memerlukan tugas berat bagi guru untuk memahami perkembangan tekhnologi yang memiliki kekuatan yang tidak bisa dianggap remeh.

Maka dalam mengemban amanah profesi guru, perlu memiliki kompetensi sosial ekstra, agar komunikasi antara guru dengan siswa bisa berjalan dengan baik, bahkan akan menjadi power yang hebat bagi seorang guru ketika muncul dengan wujud yang bersosial tinggi dan memahami makna keberagaman.

Tantomi Simamora SSos.I
Penulis dan Guru di PDM Kabupaten Tapanuli Selatan



Pascasarjana

Unefa
Back to top button