Kolom

Mari Bersatu Saling Menguatkan dan Membantu

COVID-19, kita akui saja dengan rendah hati, adalah dewa-nya virus. Seumur-umur ya baru kali ini kita mendapat jenis serangan masal para ’’lelembut’’ berukuran 0,125 micron yang begitu hebat. Daya serangnya –karena fokus pada saluran pernapasan– sangat mematikan.

Oleh LEAK KUSTIYO

Bisa bikin ’’kelepek-kelepek thek-sek’’, kata orang Solo. Gerilyanya sudah tak perlu diperdebatkan, dampaknya pun menyeluruh. Kesehatan, ekonomi, sendi-sendi industri apa pun, ngilu. Dari dada sampai dompet kena semua.

Ini sudah masuk bulan keempat sejak kemunculan pertama korona di Wuhan.

Terasa sangat lama. Sampai kapan situasi ini akan berakhir? Jawaban dari pertanyaan warkop hingga rapat-rapat perusahaan ini tak ada yang pasti. Semua berharap cepat, situasi segera segar kembali, bebas dari pembatasan. Tapi, semua bisa meleset.

Soal ’’kapan akan berlalu’’ itu, coba kita rumuskan bersama. Dalam 14 hari ke depan, kita akan begini seperti ini atau melakukan pembatasan sosial yang lebih ketat dengan skala lebih besar? Empat belas hari ke depan kepala lebih suntuk, lebih bosan berdiam diri di rumah. Ingat, mengabaikan kesabaran untuk menahan interaksi secara fisik dengan banyak orang bisa menambah kekacauan.

 

Sebulan ke depan? Kita tidak yakin apakah peta Jawa Timur yang menyisakan Kabupaten Sumenep, Sampang, Mojokerto, dan Ngawi masih bisa bertahan untuk tidak masuk zona merah ataukah malah menjadi ’’abang bres’’. Tiga bulan ke depan, bisa jadi belum ada yang kompeten dan pede memberikan kesimpulan meyakinkan apakah tren-nya akan membaik dan bergerak ke warna hijau, atau jangan-jangan malah sebaliknya.

Akhir tahun? Kalau jawaban yang kita tunggu adalah sebentuk kalimat melegakan, semua akan dikembalikan lagi pada komitmen kita bersama. Kesanggupan kita. Tekad kita. Sanggupkah kita bergandeng hati bergotong royong untuk sebuah tindakan maraton. Melangkah bareng-bareng untuk jangka waktu yang kita asumsikan sendiri: tidak singkat. Juga tidak ringan.

Mulai hari ini, Jawa Pos bersama kalangan pengusaha, tokoh agama, akademisi, dan praktisi lain membuka dompet donasi lewat nomor rekening atas nama Yayasan Pelangi Hidup Bersama (YPHB) guna memperkuat daya tahan kita dari serangan wabah Covid-19.

Ini bukan hanya ujian ketahanan napas semata. Ini adalah tantangan menghadapi beratnya situasi secara menyeluruh. Mental, ketegaran, kepercayaan diri, juga kepekaan sosial…

Kita tidak hanya bertekad untuk lolos dari wabah maut ini. Kita juga harus menjadi masyarakat yang lulus menghadapi ujian hidup bersama! (*)

Penulis adalah Direktur Utama Jawa Pos.