Lipsus

Dari TBA ke Amfiteater Sopo Daganak

Tingkatkan Minat Baca, Gali Bakat Seni dan Kreatifitas Anak-anak

Ada 14 Taman Baca Anak (TBA) di Kecamatan Batangtoru dan Muara Batangtoru, Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel). Selain untuk mengenal aksara dan meningkatkan minat baca, fasilitas ini juga jadi wahana bermain anak-anak di kecamatan tersebut.

SAMMAN, Tapsel

Dibangun sebagai program pembangunan masyarakat oleh PT Agincourt Resources, pengelola Tambang Emas Martabe.

Rabu (4/9/2019) siang lalu. Kami berkesempatan tandang ke TBA Melati, di Desa Batuhula. Gedung di belakang masjid Ar-Rusda ini didirikan pada 2013 lalu, atas kerjasama masyarakat desa dan Tambang Emas Martabe.

Punya luas sekitar 4×3 meter. Di halamannya tersedia seluncuran dan ayunan, dipagar dengan sela tanaman bunga.
Memasuki TBA itu, kami menemui enam anak-anak yang asyik menggilir berbagai judul buku dongeng, membacanya. Dijaga dan dibimbing Ahsana Insani Nasution, pengelola taman baca ini.

Dalam sehari, sesungguhnya ada 15 sampai 30 anak-anak yang berkunjung. Bahkan dari desa tetangga, yang belum memiliki TBA seperti ini.

Di sini bila tidak tuntas membacanya, anak-anak juga bisa meminjam membawanya pulang, dibatasi tiga buku.
Ragam buku koleksi TBA Melati dibagi menjadi agama, sosial dan budaya, fiksi, dongeng, komik, bahasa dan sastra, bumi dan mahluk hidup, alam semesta, seni dan olahraga, sejarah dan geografi.

Serta genre umum untuk orang dewasa. Itu ditaruh pada posisi paling atas, agar tak terjangkau anak-anak.

Ada 20 piala yang terpajang di tempat ini. penghargaan dari perlombaan antar TBA. Di dindingnya dihiasi hasil kreasi anak-anak dengan bentuk bunga yang terbuat dari sampah botol dan sedotan, serta karton. Juga foto bersama anak-anak peserta TBA.

“Imbas yang terasa, anak-anak makin pede, di desa mereka lebih menonjol begitu juga di sekolah. Anak anak yang belum bisa membaca, sekolah juga mengarahkan bermain sambil belajar membaca di sini,” ujar Ahsana.

Dulu, awal TBA ini berdiri, hanya memiliki tiga rak buku. Namun seiring semakin sering mendapat penghargaan dari berbagai perlombaan yang dilaksanakan Martabe, urun menambah rak beserta koleksinya.

Hal itu pun semakin membuat anak-anak betah di sini. Apalagi kegiatan melibatkan anak-anak sering dilakukan di sini. Seperti latihan menari, mendongeng, puisi, mewarnai dan menggambar.

Pada tahun 2015 lalu, 14 TBA itu menjadi embrio yang kemudian membentuk Persada, Perkumpulan Sahabat Cerdas. Untuk melatih sekaligus menyalurkan dan pementasan bakat seni tari dan kreatifitas lainnya dari anak-anak yang diasuh masing-masing TBA.

Mendukung itu, Martabe kemudian mendirikan amfiteater Sopo Daganak yang luasnya 4.431 meter persegi di Desa Napa, pada 17 Juli 2017 lalu . Berbentuk gelanggang, menampung bahkan 500 penonton, dikelola Persada.
Pada perjalanannya, Sopo Daganak juga menjadi wadah berbagai kegiatan seni, budaya, sosial dan kegiatan edukatif lainnya bagi masyarakat.

“Awalnya terinspirasi dari adik-adik yang ada bakat menari di TBA Mawar. Namun semakin lama tidak menampung. Maka diambil inisiatif untuk meminjam sekolah MDA sekitar TBA, karena anak-anak berkumpul dari berbagai desa tidak hanya dari desa Napa saja bahkan dari Hutaraja (Muara Batangtoru). Dari ini kemudian muncul inspirasi antar TBA dalam membentuk Persada, dan membuat sanggar tari yang difasilitasi PT AR,” ujar Ketua Persada, Masrikah Hannum Siregar merunut proses awal berdirinya Persada dan Gedung Sopo Daganak.

Masrikah kami temui di ruang sekretariat Persada di Gedung Sopo Daganak ini, beserta Rusdayanti, Putri Pratiwi.

Serta Rangky Syaputra yang juga jadi pelatih tari. Gedung ini juga memiliki perpustakaan, tempat anak-anak untuk membaca tatkala menunggu waktu latihan seni tari. Juga ruang tata rias yang lebar, untuk mendukung penampilan anak-anak.

Rutin, hampir setiap tiga bulan sekali anak-anak asuhan Persada tampil dalam pementasan seni. Perform dalam berbagai kegiatan yang diselenggarakan tambang emas Martabe.

Bahkan saat ini dalam penampilannya mereka juga telah didukung musik etnik sejenis gondang dan tagading. Itu dimanfaatkan dalam mengiringi perpaduan tari modern dan tradisional.

“Ada yang masih baru dan kaku, tingkat menengah lihai namun masih kaku, dan tingkat mahir sudah lihai dan sudah tidak kaku,” terang Rangky Syaputra menjelaskan kondisi anak-anak di Persada.

Namun sampai saat ini, kata dia, anak-anak yang datang dari 14 TBA itu masih sangat antusias, dan rasa percaya diri yang semakin terlatih.

Saat ini, lebih dari 200 anak-anak dalam asuhan Persada. Dan pada Desember nanti, mereka juga akan tampil. Maka, Persada beberapa bulan ini memiliki tantangan bagaimana caranya melatih dan membagi anak-anak ini sesuai dengan tema kegiatan nantinya. (*)

Tags

Berita lainnya

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker
Close