Lipsus

Tur Sejarah, Peserta Asal Aceh Dukung Siantar jadi Kota Destinasi

Lawatan Sejarah Daerah 2019, Romantika di Jantung Sumatera (2/Habis)

Usai seharian mengikuti diskusi dan pemaparan tentang sejarah, keseluruhan peserta Lawatan Sejarah Daerah 2019, diajak menapaki jejak-jejak sejarah di Pematangsiantar. Lebih dari sepuluh tempat dikunjungi. Uniknya, dari satu destinasi ke destinasi lainnya, semua peserta naik becak BSA, alat transportasi umum yang telah menjadi ikon kota ini.

Nurjanah, Pematangsiantar

Rabu (19/6/2019) pagi, semua peserta dan panitia juga 37 abang becak BSA sudah berkumpul di pelataran parkir Siantar Hotel. Di sana, mereka terlihat begitu semringah. Para peserta tampak tak sabar ingin menaiki becak BSA.

Masing-masing peserta sudah menyiapkan gadget di tangan kanan. Mereka ingin segera mengabadikan perjalanan wisata sejarah di Pematangsiantar. Namun, sebelum perjalanan dimulai, panitia terlebih dahulu menikmati minuman soda khas Siantar, Badak.

“Sebelum menuju lokasi pertama, perlu saya sampaikan bahwa Siantar Hotel, tempat kalian menginap ini merupakan salahsatu bangunan bersejarah di Kota Pematangsiantar. Gedung ini dibangun tahun 1913. Awalnya sebagai rumah pribadi pengusaha swasta warga negara Swiss, juga pernah menjadi Kubu Jepang dan kubu Nica,” jelas Erizal Ginting, budayawan sekaligus penulis buku sejarah Siantar Berdarah, yang didapuk panitia menjadi pemandu wisata dalam Lawatan Sejarah Daerah (Laserda) 2019.

Dan, sekitar pukul sembilan lewat tiga puluh menit, tur wisata pun dimulai. Dengan menaiki becak BSA, rombongan bergerak menuju lapangan parkir pariwisata. Gelegar suara mesin puluhan Becak BSA langsung menyita perhatian publik. Bahkan, tak sedikit warga yang melambaikan tangan dan mengabadikan konvoi becak BSA yang dikomandoi Presiden BOMS Erizal Ginting, dengan kamera handphone mereka.

Begitu berhenti di pelataran parkir pariwisata, para peserta Laserda langsung terpesona dengan Tugu Becak BSA yang menjadi Ikon Kota Pematangsiantar. Di sini, Erizal Ginting menjelaskan bahwa tugu itu dibangun pada tahun 2016 atas inisiatif dan sumbangan warga Masyarakat Siantar. Hal itu merupakan peringatan pada benda bersejarah cagar budaya telah menjadi saksi bisu lima zaman perjalanan sejarah kota.

“Silahkan mengekspresikan diri. Mau berfoto, juga silahkan,” sebut Erizal Ginting. Sekitar sepuluh menit di lokasi Tugu Becak BSA yang berada di Jalan Merdeka, rombongan melompat dari situs sejarah yang satu ke situs sejarah lainnya, yang memang lokasinya berdekatan. Seperti Gedung Nasional atau lebih dikenal dengan Gedung Juang 45 yang awalnya disebut Simeloengoen Club, cafe/resto bangsa Belanda dan saat perang Kemerdekaan menjadi Markas TRI.

Selanjutnya, menyeberang ke Kantor Walikota Pematangsiantar. Menurut Erizal Ginting, balaikota itu dibangun tahun 1920. Awalnya sebagai kantor Gemeente (Administratif,red) Belanda dan pernah jadi kantor Gubernur Sumatera Timur.

Situs sejarah lainnya yang disinggahi adalah Gedung Bank BRI, yang berada tepat di samping komplek bangunan balaikota. Bank BRI dibangun tahun 1907. Awalnya Bank Belanda atau De Javasche Bank. Di sana, pernah tempat mencetak Oeang Repoeblik Indonesia Soematera (ORIS).

“Setelah dari sini, mari kita menyeberang kembali ke Lapangan Merdeka. Orang Siantar menyebutnya dengan Taman Bunga. Lapangan Merdeka atau disebut Esplanade Siantar ini, sudah ada sejak zaman Kerajaan Maropat. Biasa digunakan untuk upacara kerajaaan. Dan, masa Belanda ditata kembali. Lalu, pada perang kemerdekaan menjadi garis Demarkasi (batas-batas wilayah, red) antara Penjajah Belanda/NICA dan Pejuang Indonesia,” beber Erizal Ginting.

Kemudian Erizal Ginting mengajak para peserta Laserda melihat Monumen Perjuangan yang tegak berdiri di dalam area Lapangan Merdeka. Monumen itu dibangun tahun 1975 oleh Pemerintah Daerah dan dibantu swadaya tokoh masyarakat pada masa itu sebagai peringatan monumen Pejuang dan Pahlawan.

Situs sejarah selanjutnya adalah tempat Pengibaran Pertama Bendera Merah Putih di Kota Pematangsiantar pada tanggal 27 September 1945. “Di sini terjadi peristiwa pengibaran bendera merah putih pertama di Pematangsiantar dan Simalungun oleh pemuda dan kekuatan rakyat. Ditandai prasasti oleh Tim khusus Perencana/Pelaksana Pembangunan Tetengger Kodya Tk II P.Siantar 1996. Lokasinya tepat di samping Kantor Pariwisata,” jelas Erizal Ginting yang dijawab anggukan oleh peserta Laserda.

Tur sejarah pun dilanjutkan dengan berpindah lokasi yang jaraknya lumayan jauh bila harus ditempuh dengan berjalan kaki, maka para peserta kembali menumpangi becak BSA untuk melanjutkan rute. Yakni ke makom Raja Sang Naualuh Damanik atau Raja Siantar sekaligus pendiri Kota Pematangsiantar.

Makom Raja Sang Naualuh Damanik berada di Pamatang. Lokasinya menjadi sebuah pulau kecil di tengah Kota Siantar karena dipisah dan diapit oleh Sungai Bah Bolon.

Setelah dari sini, para peserta Laserda bergerak ke Vihara Avalokitesvara di Jalan Pusuk Buhit, Kelurahan Karo, Kecamatan Siantar Selatan. Berhubung lokasi makom dengan vihara berdekatakan, maka peserta Laserda berjalan kaki dengan melewati pintu belakang vihara yang memang terbuka untuk umum.

Di sini, mereka mendapat penjelasan singkat dari salahsatu pengurus vihara, Chandra Wijaya, tentang vihara dan proses pembuatan patung Dewi Kwan Im, yang tercatat sebagai patung tertinggi di Asia Tenggara ini.

Puas berfoto dengan latar belakang bak di negeri China, para peserta kembali diminta berkumpul oleh panitia untuk melanjutkan tur sejarah ke Museum Simalungun yang berada di Jalan Sudirman.

Untuk diketahui, Museum Simalungun dibangun pada tangga 10 April 1939 oleh Raja-Raja Simalungun dengan menggunakan biaya 1.650 Gulden. Kemudian diresmikan tanggal 30 April 1940. Di sini, tempat tersimpannya benda budaya dan artefak masyarakat suku Simalungun.

Usai melihat-lihat benda-benda peninggalan sejarah, para peserta Laserda diajak rehat dan bersantai sekaligus makan siang di Taman Hewan, Jalan MH Sitorus.

Menurut Erizal Ginting, awalnya lokasi ini didirikan atas kegemaran Dr.Coonrad, bangsa Belanda dengan flora dan fauna. Dan, pada 27 November 1936 diresmikanlah sebuah Taman Zoologi dan Botani ditanah seluas 4.5 Ha.

“Berdirinya Taman Zoologi dan Botani pertama di Kota Pematangsiantar ini, sebagai obyek bersejarah sekaligus tempat rekreasi yang merupakan salah satu Taman Hewan Tertua di Indonesia,” singkatnya.

Di Taman Hewan ini, para peserta Laserda terlihat begitu menikmati pemandangan alam. Sejauh mata memandang, tampak hijau pepohonan. Juga suara hewan-hewan terdengar bersahutan.

Di sela-sela waktu rehat, Cici Lestari dan Riska Syaza Amriani, peserta Laserda dari SMA Negeri 1 Sabang, Aceh, mengaku kagum dengan Kota Pematangsiantar. Menurut keduanya, Pematangsiantar itu di luar ekspektasi.

“Dalam benak kami, Siantar itu (maaf) Batak, identik dengan keras. Ternyata tidak. Justru masyarakatnya ramah. Makanan halalnya juga mudah didapat. Pokoknya keren. Kotanya berkesan. Isinya sejarah semua,” sebut Cici.

“Katanya kota transit? Kayaknya lebih cocok kota wisata, deh. Apalagi ada becak BSA-nya. Becak yang enggak biasa. Alat transportasi yang tempat duduknya nyaman. Suara mesinnya keren kayak suara helikopter. Kalau ke Siantar, wajib naik becak BSA,” tambah Riska dibalas anggukan oleh Cici.

Sementara itu, Kepala Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Aceh Irini Dewi Wanti, SS, M.SP didampingi ketua panitia Laserda Nasrul Hamdani, menerangkan, Laserda kali ini merupakan yang ke-18 kali diadakan.

Dan, Kota Pematangsiantar dipilih menjadi tuan rumah mengingat BPNB membawahi dua wilayah kerja, yakni Aceh dan Sumut. Untuk tahun depan, digelar di Aceh.

Irini menambahkan, para peserta Laserda merupakan anak SMA kelas satu yang bakal naik kelas dua. Mereka memang diarahkan menjadi duta untuk sekolah. Apa saja yang mereka dapat selama kegiatan Laserda itu, nantinya ditulis di mading sekolah.

“Mereka memang diarahkan untuk mengampanyekan bahwa belajar sejarah itu menyenangkan. Metode pembelajarannya bisa dikemas dengan gaya milenial. Caranya, aplikasi langsung di lapangan,” sebut Irini.

Baca juga: Lawatan Sejarah Daerah 2019, Romantika di Jantung Sumatera (1)

Pembelajaran gaya milenial yang dimaksud, sambung Irini, mereka yang terjun langsung ke lapangan sebagai tindaklanjut syarat-syarat menjadi peserta Laserda adalah membuat karya tulis berkaitan dengan hasil bedah ilmiah dan tur sejarah itu.

“Milenialnya di sini. Di kemasan kegiatannya. Karya tulis akan dipresentasikan. Ada juga pembuatan infografis. Ada juga memposting foto-foto terbaik selama kegiatan di medsos masing-masing peserta. Intinya, pengembangan potensi diri masing-masing peserta,” jelas Irini.

Irini menegaskan, pelaksanaan Laserda 2019 tidak terlepas dari peran Pemko Pematangsiantar dan keterlibatan komunitas. Dan, pihaknya sangat mengapresiasi hal itu. Mari sama-sama memperhatikan tugas dan fungsi untuk memajukan sejarah dan kebudayaan. “Mereka yang terbaik di Laserda akan melaju ke Lawatan Sejarah Nasional (Lasernas). Sampai jumpa di Lasernas 2019 di Medan, pada tanggal 19 Juli,” pungkas Irini. (*)

Tags

Berita lainnya

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker
Close Ads