Lipsus

Wardhani Indriati, Bukukan Perjalanan Prestasi Anaknya yang Autis

Sempat Ragu, Hanya Ingin Berbagi Inspirasi

BAGI Iin, sapaan Wardhani, meluncurkan buku berjudul Keajaiban Itu Bernama Ruth (KIBR) lebih seperti berbagi buku catatan harian. Iin ingin mengajak keluarga lain untuk melihat anugerah dalam musibah.

RETNO DYAH AGUSTINA, Surabaya

Stephany Ruth Anchilla didiagnosis mengidap autisme saat usianya masih 1,5 tahun. Putri kedua Iin dan Ludwig Arthur itu sudah menunjukkan beberapa gejala khas pengidap autism: menghindari kontak mata, emosi yang tidak stabil, asyik sendiri, dan tidak mau menoleh jika dipanggil.

Awalnya, Iin tidak paham dengan keadaan putri bungsunya. Terlebih, dia sempat sibuk bekerja di luar dan mengurus rehabilitasi suaminya dari jeratan narkoba. Setiap anak punya fase pertumbuhan yang berbeda, benaknya saat itu.

”Tapi, saat itu aku lihat ada 6 gejala autisme di televisi. Rasanya deg begitu, kok seperti anakku?” ucap Iin. Sebagai seorang ibu, Iin merasa langit runtuh Kondisi suami dan anak bungsunya membuatnya ingin menyerah. ”Sempat tebersit minum obat tidur yang banyak, tapi putri pertamaku yang menyadarkan untuk ingat Tuhan,” ucap Iin berkaca-kaca.

Iin mulai fokus mempelajari autisme. Padahal, saat itu autisme begitu asing di masyarakat Sulit mendapatkan informasi lengkap dan penanganan yang cepat. Namun, Iin berusaha mencari penanganan sedini-dininya.

Hingga perjalanan terapi Chilla dimulai saat Iin menemui Dr Kresno Muljadi SpKJ. ”Pada saat itu aku mulai merasa ada harapan, ada harapan!” tutur alumnus Universitas Airlangga tersebut.

Hasilnya luar biasa. Pada usianya yang ke-22, Chilla banyak meraih prestasi. Beberapa di antaranya adalah Ning Surabaya 2017, Puteri Indonesia Jawa Timur Persahabatan 2017, hingga mewakili Indonesia di kancah Miss Multinational 2018. Prestasi itu tidak lepas dari ketegaran dan keteguhan keluarga Iin.

Perjuangan itulah yang kemudian dituangkan ke buku KIBR. Tidak butuh waktu lama bagi Iin untuk menyelesaikan draf buku tersebut. Memulai pada September tahun lalu, Iin sudah menyelesaikannya pada Desember 2018. Ide membuat buku tersebut hadir saat sesi me time-nya ketika pagi.

”Sedang jalan kaki pagi gitu. Lalu, seperti ada suara besar kenapa nggak menuliskan kisah ini?” ungkapnya.

Tujuannya hanya satu, ingin mengajak keluarga-keluarga lainnya untuk bangkit. Tidak hanya terhenti saat anak didiagnosis menyandang autisme. ”Kalau berpegang teguh pada tujuan, rasanya nggak malu,” katanya mantap. Bagi dia, musibah dihadirkan Tuhan beserta dengan penawarnya.

Menulis kisah masa lalu tentu menuntut Iin untuk kembali membuka kotak kenangan. Rasanya campur aduk. Mengingat masa-masa berat juga membuat Iin berkali-kali menitikkan air mata.

”Apalagi aku tidak mau menutupi apa pun dari kisah pertumbuhan Chilla,” tegas perempuan 52 tahun tersebut. Karena itu, Iin pun berkali-kali meyakinkan dirinya bahwa prosesnya hingga kini adalah anugerah.

Beberapa tahun sebelumnya, Iin memang mulai menulis kisah keluarganya. Tetapi terhenti karena merasa terlalu kaku. ”Pas itu malah bikin kerangka sistematis sekali, malah merasa terpaksa,” jelas perempuan yang tinggal di kawasan CitraLand tersebut. Maka, kali ini Iin membuat sistem yang berbeda. Dia lebih dulu membuat topik bahasan tiap bab, kemudian menyelami kembali kenangan. ”Kalau menulis seperti buku harian dan pakai hati, selesainya cepat sekali ya,” tambahnya.

Penulisan buku itu tentu tidak bisa terwujud tanpa persetujuan Chilla. Model kelahiran Mei 1997 tersebut baru diberi tahu saat draf sudah diselesaikan sang ibu. ”Aku diminta menulis epilog saat itu,” ucapnya. Chilla tidak kuasa menahan tangis saat membaca masa-masa terberat yang dilalui ibunya.

”Tapi, apa yang kita capai bersama saat ini kan hasil masa lalu?” ungkap Chilla. Bagi dia, berbagi kisah tidak lagi soal membuka luka lama. Tetapi melihat buah manis yang sudah ditanam bertahun-tahun lalu.

Sejak SMP Chilla mengakui keadaan dirinya. Tidak ada lagi rasa malu hidup dengan autisme. ”Saat baca, justru aku waswas dengan papa. Apakah papa gak papa kisahnya sebagai pecandu narkoba saat itu disebut?” tutur perempuan yang hobi membuat kue itu.

Bagi dia, autisme bukan penyakit yang seharusnya membuat seseorang merasa malu. ”Kita kan tidak minta sama Tuhan dibuat begini, ya sudah,” paparnya. (*)

Berita lainnya

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker
Close