Kolom

Kemanusiaan di Tengah Wabah

Oleh: SARAS DEWI

Ini bukan fiksi ilmiah. Dunia sedang berada dalam status kegentingan.
Beberapa negara telah memberlakukan kedaruratan dengan mengunci negaranya dari segala aktivitas, dengan harapan dapat menghentikan ganasnya persebaran Covid-19.

Di Indonesia tercatat 450 orang yang dinyatakan positif Covid-19. Di kampus Universitas Indonesia, tempat saya bekerja, penghentian kegiatan pendidikan telah berlangsung semenjak awal minggu ini.

Melalui surat edaran yang diterbitkan rektor UI, disampaikan protokol kewaspadaan demi mencegah penularan Covid-19. Saat ini kami menyelenggarakan sistem pembelajaran jarak jauh secara daring.

Gagasan kontroversial Lovelock dikenal dengan Hipotesis Gaia. Dalam penelitiannya, Lovelock berargumentasi bahwa bumi adalah suatu kesatuan yang hidup serta memiliki kecenderungan untuk selalu menjaga keseimbangannya.

Lovelock menggunakan metafora Gaia untuk mempermudah penyampaian teorinya ke masyarakat luas. Gaia adalah nama dewi bumi yang dirujuk dari mitologi Yunani.

Ekuilibrium Gaia meliputi keseluruhan sistem fisiologis bumi, Lovelock menyebutkan bahwa kita harus membayangkan magma di dasar bumi hingga tudung atmosfer sebagai bagian dari tubuh bumi.

Hipotesis Lovelock juga menjelaskan bahwa kesatuan entitas hidup ini melingkupi semua hal yang menempati bumi. Dari paus hingga virus, dari pohon beringin hingga ganggang. Segala organisme yang rumit maupun sederhana sesungguhnya adalah bagian dari Gaia.

Gaia memiliki kesanggupan swa-kendali tubuh yang tampaknya mengarah pada kehidupan yang selaras di bumi. Saat buku tentang Hipotesis Gaia kali pertama diterbitkan pada 1979, banyak yang mengkritik bahkan menuding teori Gaia sebagai sains yang palsu.

Buku itu menimbulkan pro-kontra di kalangan ilmuwan. Namun, pada sisi lainnya, menjadi perspektif baru yang disambut oleh mereka yang berusaha memahami bumi tidak sekadar sebagai benda mati.

Lovelock menyadari bahwa hasil penelitiannya sulit sekali diterima komunitas ilmiah. Sebab, dia mengusulkan bahwa bumi yang kita hidupi memiliki kemampuan sibernetik untuk merawat keseimbangan. Kemampuan sibernetik ini mengoptimalkan kehidupan untuk terus berlanjut.

Daya sibernetik itu, menurut Lovelock, dapat dicermati melalui bagaimana stabilnya suhu di bumi, menyebabkan planet ini layak dan nyaman dihuni seluruh makhluk hidup. Ia analogikan proses itu seperti homeostasis, yakni respons tubuh untuk menyesuaikan dan beradaptasi dengan kondisi iklim tertentu.

Lalu, bagaimana dengan peran manusia? Lovelock mempersoalkan bahwa kegiatan-kegiatan manusia yang menghasilkan emisi karbon yang berlebih membahayakan keseluruhan sistem keseimbangan.

Semenjak Tiongkok berada dalam posisi terkunci, emisi karbon menurun hingga 100 juta ton dalam dua pekan.

South China Morning Post mewartakan langit biru cerah di Tiongkok disebabkan emisi karbon yang menurun.

Bahkan, dalam foto satelit yang dikirimkan NASA menunjukkan perubahan signifikan pada atmosfer di atas Tiongkok.

Lovelock menjelaskan bahwa sebagai spesies homo sapiens, yang usianya baru sekejap di alam raya ini, manusia harus bertahan hidup. Dan, alam proses itu harus bekerja sama menjaga ekuilibrium yang indah dan purba ini.

Wabah Covid-19 adalah ujian bagi kemanusiaan kita, namun pada sisi lainnya, ini pun adalah kesempatan untuk merenungkan perubahan-perubahan yang dapat dibuat manusia untuk keberlanjutan kehidupan ini.

Wabah Covid-19 merenggut ribuan nyawa di Italia. Federico Campagna, filsuf kelahiran Italia, bercerita mengenai periode Barok (abad ke-16–17) di Eropa. Kesenian Barok adalah karya-karya yang muncul di tengah impitan wabah, peperangan, dan kelaparan yang melanda Eropa.

Campagna mengambil contoh karya Nicola Porpora yang berjudul De Profundis: ”dari kedalaman hati, aku memanggilMu Tuhan, pada momen penuh teror ini.”

Baik Italia, Indonesia, Tiongkok, maupun negara-negara lainnya, kita semua bersama-sama dalam krisis ini. Negara wajib menjamin keselamatan masyarakatnya, khususnya mereka yang kurang mampu, sebagai kelompok masyarakat yang paling rentan.

Kemanusiaan harus diperjuangkan, saat melihat keberanian para tenaga medis yang berada di garda depan serta kedermawanan yang dilakukan relawan-relawan dan komunitas-komunitas di seluruh dunia. Itu semua membangkitkan harapan terhadap kemanusiaan.

Detik-detik inilah penentu bagi kemanusiaan kita. Betapa mungilnya ideologi kita, politik, juga makna kekuasaan manusia di hadapan wabah ini. (*)

Penulis adalah Dosen Filsafat Universitas Indonesia

Unefa

Pascasarjana

Tags

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker
Close