Kolom

Jalan Berliku untuk Bisa Tes

Saat ini saya sudah dirawat di Rumah Sakit (RS) Mitra Kemayoran, Jakarta. Masih lemas. Trombosit turun. Menurut diagnosis dokter, saya negatif Covid-19. Tapi, saya menderita demam berdarah.

Oleh BRIGITHA SESILYA

Kondisi DKI Jakarta terkait wabah Covid-19 memang membuat saya khawatir. Kamis (12/3) jadwal saya nge-gym di sebuah tempat kebugaran, kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara. Memang saya sudah merasa sesak napas. Batuk juga sejak 5 Maret.

Keesokan harinya, badan saya demam. Saya pilek, masih batuk, dan napas pendek. Sabtu dini hari saya cek suhu badan dengan termometer di rumah. Hasilnya, 38,8 derajat Celsius. Sampai subuh, demam belum juga turun dan masih tinggi. Saya jelas takut. Akhirnya dibawa ke IGD RS Puri Medika, Tanjung Priok. Dekat rumah.

Sampai di sana, dokter nggak berani ngasih hasil pasti.

Dokter tanya, pernah kontak dengan orang asing? Saya jawab tidak. Tapi, memang di tempat gym daerah Kelapa Gading itu juga banyak bule. Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan pernah bilang, di Kelapa Gading ada yang positif. Otomatis, saya jaga-jaga dong.

Saya minta tes demam berdarah atau tes tifus (karena opname akibat penyakit itu). Tapi, si dokter tidak berani bertindak apa pun. Hanya berani ngasih infus parasetamol. Nggak berani masukin saya untuk rawat inap. Takut salah prosedur. Katanya, kalau dalam dua hari belum membaik, langsung aja ke RS rujukan pemerintah. Oke, saya ikuti.

Minggu (15/3) demam saya masih naik turun. Saya coba hubungi ke hotline Covid-19 Kemenkes. Katanya sudah bukan di situ lagi layanan pengaduannya. Diarahin langsung ke hotline Dinas Kesehatan DKI Jakarta 112. Saya langsung telepon. Saya jelasin semua gejalanya.

Admin hotline itu mengatakan, Senin (16/3) datang saja ke RS rujukan pemerintah. Ke RSPI Prof Dr Sulianti Saroso bisa dan biayanya gratis. Mereka beralasan, saya seorang jurnalis dan pernah kontak dengan banyak orang. Baik, saya turuti.

Tidak lama berselang, saya berinisiatif mengontak salah seorang jurnalis Antara, rekan saya. Dia pernah mengantar suaminya untuk tes Covid-19 karena pernah mewawancarai Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi seusai rapat terbatas di Istana Negara.

Saya tanya, gratis atau bayar? Kagak ada gratis-gratisan, katanya. Bayar kurang lebih Rp 300 ribu. Dia juga bilang, kalau mau cek, mending pagi. Sebab, banyak juga wartawan yang ngepos di istana yang mau tes Covid-19.

Senin pagi saya screening ke RSPI Prof Dr Sulianti Saroso. Gejala-gejala yang saya alami pas semua dan confirmed mirip Covid-19.

Bahkan, demam saya masih 38 derajat Celsius. Tapi, berhubung tidak punya riwayat kontak langsung dengan warga negara asing, tidak bepergian ke luar negeri, dan tidak kontak langsung dengan pasien positif virus korona, saya tidak bisa ikut tes Covid-19.

Lah, terus saya tanya, bagaimana bisa tahu orang itu terinfeksi Covid-19, Dok? Sementara identitas pasien juga selama ini ditutupin. Tapi, dokter tersebut nggak ngasih ke IGD (instalasi gawat darurat). Dokternya bilang, sekarang IGD khusus buat orang yang benar-benar sudah postif Covid-19.

Per hari itu RSPI juga tidak menerima pasien selain Covid-19. Tapi, di sisi lain, saya kan nggak tahu sakit apa. Terus, saya tanya lagi, bagaimana biar tahu?

Menurut dokter, kalaupun pernah kontak langsung, untuk tes laboratorium di kelenjar hidung dan tenggorokan, jika sudah dinyatakan positif dan telah dirawat di rumah sakit. Makin bingung kan saya!

Dokter itu akhirnya menelepon petugas kesehatan IGD. Saya disuruh ke sana dengan diantar satpam. Sesampai saya di IGD, mereka malah tidak mau menerima. Alasannya, tidak pernah ada kontak. Di situ saya disuruh kembali lagi ke tempat pemeriksaan awal.

Kata dokter, periksa awal sudah dibolehin. Saya balik ke IGD lagi. Masih tidak diperbolehkan. Kata dokter petugas IGD: coba ke poli paru-paru. Langsung masuk saja tanpa daftar. Tapi, sampai sana, disuruh daftar dulu guys. Ampun dijeehh!

Di sana, saya dirontgen dan dicek darah. Dan dokter poli itu jam kerjanya cuma sampai pukul 12.00. Kalau hasil tes keluar lebih dari jam itu, ya harus datang lagi besoknya. Plus, bayar lagi. Ya, bayar dan saya habis Rp 1 juta untuk itu. Mau gejala kalian 95 persen atau 90 persen dan belum ada kontak, bakal dipatahin. RS cuma mau ngetes orang yang sudah dirawat di RS itu.

Oh iya, selama pindah-pindah itu, RS tidak memberikan surat rekomendasi atau rujukan apa pun. Itu yang saya khawatirkan. Oke, saat itu saya sudah dinyatakan demam berdarah (DB) dari hasil tes poli paru di RSPI. Kemudian, dokter menyuruh ke RS swasta mana saja untuk rawat inap.

Tapi, saat saya minta surat rujukan, RSPI tidak mau memberikan. Pihak RS bilang, cukup bilang positif DB dengan membawa hasil tes laboratoriun dan rontgen, semua RS swasta akan langsung mengerti. Di sisi lain, jika mereka memberikan rujukan, berarti RSPI yang harus mencarikan RS tujuan.

Capek debat panjang lebar, akhirnya saya ke RS Mitra Kemayoran. Setelah mendaftar dan menunjukkan hasil tes laboratorium dan rontgen, yang saya khawatirkan kejadian. Mereka belum bisa memasukkan saya ke ruang rawat inap. Soalnya, mereka takut hasil tes di RSPI salah. Lah, terus saya harus percaya siapa?

Hingga akhirnya pukul 21.15 saya diizinkan untuk rawat inap dan dipasangi infus. Menurut saya, susah banget buat cuma tes Covid-19. Untungnya, saya negatif. Bagaimana dengan yang memang positif? (*)

Brigitha Sesilya adalah wartawan Harian Nasional. Disarikan dari wawancara dengan wartawan Jawa Pos Agas Putra Hartanto.

Unefa

Pascasarjana

Tags
Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker
Close