Kolom

Inovasi Model Belajar di Tengah Pandemi Covid-19

Oleh: Minar T. Tobing

World Helth Organization (WHO) telah menetapkan virus Corona atau Covid-19 sebagai pandemi karena telah menyebar ke lebih dari 100 negara didunia salah satunya adalah Indonesia. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KKBI) pandemi adalah wabah yang berjangkit serempak di mana-mana atau meliputi geografi yang luas.

Pandemi Covid-19 yang terkini sudah menjangkit luas bahkan ribuan warga negara Indonesia mengharuskan seluruh masyarakatnya untuk mematuhi aturan-aturan dari pemerintah. Seperti rajin mencuci tangan dengan sabun dengan air mengalir, saat keluar rumah wajib menggunakan masker, jika keluar rumah harus dengan alasan sangat-sangat penting, menjaga jarak atau social distancing yang mengharuskan kita untuk mengatur jarak dengan orang lain antara 1-3 meter.

Seiring bertambahnya kasus positif Covid-19, pada akhirnya semua aktivitas yang menimbulkan keramaian diliburkan termasuk sekolah atau perkuliahan dan banyak juga perkantoran bekerja dari rumah. Hal ini dikarenakan pemerintah membuat aturan untuk tetap “di rumah saja” untuk memutus mata rantai virus ini.

Diberhentikannya kegiatan belajar mengajar di sekolah ini tentu juga sangat berdampak bagi aktivitas belajar peserta didik, bagaimana tidak? Jika selama “di rumah saja” peserta didik dibiarkan tanpa belajar, tentu tujuan pendidikan tidak tercapai. Bahkan ada rasa bosan dan jenuh karena beban tugas yang banyak dan yang disampaikan dalam jaringan internet.

Hal ini juga membuat problematika bagi orang tua karena setiap anak pada saat belajar dari rumah menggunakan Hp sebagai media belajar online, tentu pengawasan yang ekstra  kepada anak jika salah dan lalai  dalam menjaga anak bisa jadi anak tersebut membuka konten yang tidak seharusnya pada usianya, membuka permainan pada saat tidak dalam pengawasan orang tua, belum lagi kelelahan mata dan sakit kepala yang dialami anak jika terlalu lama menggunakan Hp.

Hal ini jelas menjadi bahan pikiran segenap aspek yang bersangkutan.

Kita bisa bersenang hati untuk sesaat karena hal ini ditanggapi dengan cepat oleh Mendikbud Nadiem Makarim yakni dengan melihat bahwa mengatasi keterbatasan akses jaringan internet dan juga bahan pembelajaran daring selama wabah Covid-19, Mendikbud Nadiem Makarim bersama TVRI menginisiasi program “Belajar dari Rumah”.

Hal ini sangat membantu peserta didik dan tidak perlu mengkhawatirkan orangtua karena materi yang diajarkan juga diinovasi sedemikian rupa dan semenarik mungkin agar sesuai dengan usia dan jenjang pendidikan mereka masing-masing dengan waktu atau masa penanyangan hampir 40-60 menit per jenjangnya. Hal ini mendapatkan perhatian dari masyarakat, karena merupakan inovasi dan inisiatif dari Mendikbud. Kegiatan ini dikatakan Mendikbud sejalan dengan semangat Merdeka Belajar.

Program Belajar dari rumah mulai tayang di TVRI Senin, 13 April 2020 kemarin dimulai pada pukul 08.00 pagi. Program ini direncanakan dapat terselenggara setidaknya selama 3 bulan. Mendikbud menerangkan bahwa nantinya selain diisi dengan program pembelajaran untuk semua jenjang, belajar dari rumah juga akan menyajikan program Bimbingan Orangtua dan Guru serta tayangan kebudayaan pada akhir pekan.

Adapun konten atau materi pembelajaran yang disajikan akan fokus pada peningkatan literasi, numerasi, serta penumbuhan karakter peserta didik. Kemendikbud juga akan melakukan monitoring dan evaluasi mengenai program ini bersama dengan lembaga nonpemerintah. Mendikbud juga menekankan bahwa yang perlu dicatat sesungguhnya dalam keadaan seperti ini, yang menjadi penting saat adalah pemberian pendidikan yang bermakna.

Selanjutnya, dalam situasi dimana kegiatan belajar mengajar (KBM) di sekolah terhenti, solidaritas dan gotong royong menjadi kunci penanganan Covid-19 di Indonesia. Oleh karena itu Kemendikbud terbuka untuk kerja sama dan kolaborasi pendukungan penyelenggaraan pendidikan di masa darurat ini. Inovasi Mendikbud ini tentu mendapat banyak masukan dari orang tua peserta didik sehingga Nadiem berpesan untuk orangtua, guru dan siswa.

“Kami berterima kasih atas semua bantuan, kerjasama dan kolaborasi dari berbagai pihak, dari Komisi X, mitra swasta, organisasi masyarakat, juga relawan yang bersama-sama mengambil peran dan kontribusi dalam menghadapi situasi pandemi Covid-19 ini,

Semangat gotongroyong yang kita miliki menunjukkan kesatuan dan kekuatan bangsa kita yang berideologi Pancasila, Mendikbud berharap agar para orang tua, pendidik, dan peserta didik menjaga kesehatan dan menjalankan protokol kesehatan yang telah disampaikan oleh Kementerian Kesehatan (Kemenkes),” ujarnya.

Nadiem berpesan agar baik orangtua, siswa, dan guru menjaga kesehatan masing-masing beserta keluarga sesuai protap dari Kemenkes terkait Covid-19, dan untuk mengikuti imbauan Presiden Jokowi agar belajar di rumah, bekerja di rumah, dan beribadah di rumah.

Disamping itu, inovasi ini tidak selamanya mendapat pegaruh atau tanggapan baik. Ada beberapa hal yamg menjadi permasalahan dari inovasi ini. Hal tersebut bersangkutan dengan pertanyaan “bagaimana dengan masyarakat pedalaman?”

Ya pertanyaan ini menjadi hal yang perlu diketahui oleh mendikbud Nadiem Makarim, bahwa di beberapa daerah di pedalaman NTT, Papua, Kalimantan, Maluku itu belum sepenuhnya  ada listrik bahkan di sumatera saja khususnya Pematangsiantar bagian pedalaman atau pelopsok juga belum memadai dalam mendapatkan listrik, sangat disayangkan memang pemerintah yang jor-joran bangun infrastruktur untuk rakyat katanya tapi istilah pemerataan itu belum benar-benar merata.

Nadiem jelas ingin menyampaikan konsep itu sebagai upaya pemerataan, namun sayang sekali itu bukanlah pemerataan, yang terjadi di kampung-kampung adalah hanya orang tertentu yang memiliki televisi dan itu akan membuat anak-anak yang lahir dari keluarga miskin akan tidak bias belajar dengan baik. Dalam hal ini, beberapa kendala yang dialami masyarakat pedalaman dalam sistem pembelajaran dalam jaringan maupun melalui televisi adalah.

“Kurangnya masyarakat yang memiliki media yang digunakan seperti laptop. Jarang mendapat signal yang bagus, menyebabkan lambatnya penyampaian pesan atau informasi Kurangnya anggaran daerah dalam membantu masyarakat,” yang menjadi pertanyaan.

Dan pada dasarnya, seluruh jajaran pemerintahan yang berkaitan dengan pendidikan di Indonesia tentu sudah berupaya yang terbaik untuk kelancaran pendidikan di Indonesia di tengah-tengah pandemi Covid-19 yang sedang melanda negara ini.

“Kalaupun tidak bisa belajar dalam jaringan atau televisi, kita dapat belajar bermakna secara mandiri dengan media yang ada seperti buku. Dan yang paling penting adalah kita harus tetap mengikuti arahan dari pemerintahan terkait dengan pemutusan rantai penyebaran Covid-19 ini, sehingga kita dapat segera melaksanakan aktivitas kita seperti biasanya termasuk melaksanakan tatap muka dalam pelaksanaan pembelajaran,” tutupnya.

Penulis adalah Dosen PGSD Nomensen Pematangsiantar.

USI