Kolom

Garis Start Baru 5.0

Ini musimnya bisnis kejang-kejang dan banyak unit usaha masuk kategori Unit Gawat Darurat. Pandemi belum disimpulkan peak, tapi grafik persebaran virus sudah menanjak hingga begini tingginya –dan sudah mulai capek. Di lain pihak, belum ada tanda-tanda akan segera ketemu puncaknya.

Kalau hingga akhir tahun –estimasi penuh kesabaran– situasi belum menunjukkan sinar terang, bisa-bisa aset yang tersisa tinggal napas Senin-Kamis. Akhir Mei ini, sudah banyak perusahaan yang menyambung hidup dengan napas buatan, yaitu subsidi. Bila dana habis, operasional perusahaan akan tidak tahu lagi.

Ketemu dengan teman-teman pengusaha Surabaya yang rata-rata gemar bercanda, katanya, direktur keuangan sekarang kesibukannya bukan menghitung uang. Tapi menyanyikan lagu Krisdayanti: Menghitung Hari… Kas perusahaan kian menipis, cukup untuk hidup sampai berapa lama lagi? Dihitung lagi, dihitung lagi.

Optimistis. Asal masih terlihat kembang-kempis, cukuplah untuk meyakinkan diri bahwa organ perusahaan pasti bisa digerakkan lagi. Jalan lagi, kembali kerja normal lagi. Kacamata klinis akuntansi perusahaan menyimpulkan: oh, hidup! Berarti perusahaan lolos seleksi masal tahap awal ujian Covid-19. Ujian lapis pertama yang setengah mati beratnya. Masuk semester kedua, beda lagi materi ujiannya.

Covid-19 mengubah peta ketangguhan perusahaan. Perusahaan skala apa pun. Brand besar, pabrik kecil, seperti dibawa pada garis start baru, yang kurang lebih sama posisinya. Apalagi kalau dilihat dari sisi neraca pertumbuhan selama lima bulan terakhir. Semua dalam posisi awal lagi. Nol. Di garis nol dengan pertumbuhan nol pula. Masing mending. Banyak yang minus bahkan. Tumbuh ke bawah. Hingga Mei, semua dijungkir-balikkan serangan virus hingga loyo-koplo.

Apa tidak sebaiknya segera curi start, lari duluan?

Ah, boro-boro lari. Barang numpuk nggak bisa keluar, piutang sulit ditagih, ngilu semua, Bro…

Barangkali masih ada tabungan. Bisa secepatnya tancap gas lagi?

Ada sih, tabungan. Tapi, tancap gas ke arah mana? Situasi nggak pasti. Pening, Bro…

Pening, pusing, kepala Barbie terasa cenut-cenut. Ya, itulah kira-kira tanda-tanda siuman. Awal lahirnya sebuah kesadaran bahwa beginilah memang kenyataan dunia usaha di era Normal Baru.

Titik nol untuk dimulainya rekonstruksi dan setting ulang. Nguping sana-sini, mengais-ngais info, corat-coret, membuat sketsa, cari inspirasi, berimajinasi!

Semua harus membuat imajinasi baru. Guna menyambung karya lama agar tetap langgeng dan diterima di era Normal Baru. Normal Baru memaksa meninggalkan kebanggaan lama. Menuntut gagasan orisinal baru.

Soedomo, bos Kopi Kapal Api, akan dipaksa oleh keadaan untuk ’’mbois’’ lagi. Mendaur ulang mimpi lamanya.

Persis seperti ketika bersama dua saudaranya berimajinasi membesarkan usaha keluarganya, yang sedang bulan madu dengan mesin kemasan kopi praktis yang baru dia datangkan dari Jerman. Di puncak keinginan mewujudkan mimpi bisnisnya, Domo remaja menjual kopi sambil mengenali perilaku warung dan toko-toko, di sekeliling Kota Surabaya, sambil gandolan angkot dari Terminal Joyoboyo ke Jembatan Merah. Sekarang, terpaksa mikir anyar maneh…

Siapa pebisnis yang imajinasinya kuat, dialah yang di era Normal Baru duluan merebut tempat. Wabah ini memaksa jabang bayi zaman baru lahir prematur. Era 5.0. (*)

LEAK KUSTIYO, direktur utama Jawa Pos Koran

Unefa

Pascasarjana


Tags
Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker