Kolom

Di Ambang Katastrofe

Bencana banjir yang terjadi pada awal 2020 mendorong masyarakat Indonesia untuk merenungkan kembali sikapnya terhadap ancaman krisis iklim. Sebelumnya, pada suatu riset yang disusun lembaga YouGov-Cambridge tahun lalu disampaikan fakta wawancara responden bahwa sebagian besar orang Indonesia menyangsikan kehadiran krisis tersebut.

Oleh: SARAS DEWI

Penyangkalan terhadap krisis iklim tecermin dalam sistem kehidupan masyarakat. Yang melingkupi kebijakan politik serta pembangunan yang mengabaikan problem lingkungan. Juga, pola ekonomi yang menyangkut sistem produksi dan konsumsi yang tidak berkelanjutan.

Penanggulangan kebencanaan iklim tidak dapat diatasi secara tambal sulam. Contohnya, tidak cukup mengatasi banjir dengan membangun jalur-jalur drainase.

Problem banjir merupakan permasalahan sistemis, terpaut dengan bagaimana ditelantarkannya penataan ruang yang seharusnya mengikuti alur lingkungan hidup. Khususnya soal sempadan sungai yang ditutupi dengan beton.

Selain masalah buruknya kebijakan pemerintah, bencana banjir adalah problem pola pikir publik yang masih meremehkan permasalahan sampah. Masyarakat harus memahami bahwa diperlukan penanggulangan limbah yang berangkat dari kesadaran individual untuk menekan penggunaan produk-produk yang berbahaya bagi lingkungan hidup, seperti halnya sampah plastik.

Alih-alih mencari solusi yang terbaik, politisi dan pejabat publik justru tenggelam dalam pertikaian politis dengan saling melempar tanggung jawab. Kedaruratan iklim membutuhkan kepemimpinan yang progresif, yang berani mengutamakan keadilan ekologis dibandingkan melanjutkan praktik penyelenggaraan ekonomi dan politik yang mengasingkan lingkungan hidup.

John Bellamy Foster menganalisis tajam kejanggalan ini: mengapa terdapat keragu-raguan terhadap kegentingan bencana iklim? Dia menuding sistem ekonomi yang kapitalistik mengakibatkan berbagai macam problem sosial-ekologis.

Dia meminjam kerangka teori yang pernah dikembangkan Karl Marx dalam memahami bagaimana proses manipulasi tersebut bekerja. Marx menggunakan teori metabolisme yang menyoroti hubungan antara alam dan masyarakat.

Foster menegaskan bahwa masyarakat dan alam tidak pernah terpisah. Bahkan, dia berargumentasi, hubungan itu membentuk suatu dialektika yang kompleks.

Meski kompleks, relasi tersebut dapat diuraikan melalui analisis metabolis. Analisis itu menyasar pada sistem kerja metabolisme alamiah yang terbentuk dari interaksi organisme-organisme yang ada pada lingkungan hidup. Metode empiris Marx tersebut, menurut Foster, berguna untuk melihat bagaimana aktivitas manusia menyobek metabolisme alamiah dengan mengakibatkan perubahan besar pada siklus karbon global.

Foster kemudian melanjutkan bahwa sejak akhir abad ke-15, geliat kapitalisme membentuk hegemoni ekonomi global. Foster mengutip ekonom William Stanley Jevons yang mengkritisi paradoks dari kapitalisme, yang membuat suatu ilusi bahwa semakin maju teknologi industri, akan terbentuk suatu keseimbangan efisiensi.

Namun, paradoks yang terjadi adalah efisiensi teknologis itu justru merangsang akumulasi seolah-olah ada pertumbuhan yang sifatnya tiada berbatas. Paradoks Jevons yang dahulu digunakan untuk meneropong industri batu bara sangat relevan dalam memahami industri minyak dan gas atau industri bahan bakar fosil yang tidak dapat diperbarui.

Pemanasan global yang sedang berlangsung akan semakin meningkat jika aktivitas ekonomi semacam itu diteruskan. Dekarbonisasi berarti revolusi energi ke arah energi terbarukan seperti energi surya dan bayu.

Bill McKibben menyampaikan opini penting mengkritik posisi pemerintah Amerika serikat yang berhasrat untuk terlibat dalam peperangan. Ketegangan dengan Iran, menurut dia, tidak terlepas dari sejarah konflik atas nama minyak.

Peperangan itu sejatinya dapat dihindari jika sistem ekonomi kapitalistik tersebut bisa dirombak. Kapitalisme bertumpu pada persaingan. Acap kali persaingan tersebut mengakibatkan konflik, dominasi, dan kekerasan. Revolusi energi terbarukan berarti keadilan sosial-ekologis, tidak ada lagi monopoli oleh segelintir golongan.

Malapetaka kebakaran hutan di Australia disebut para ilmuwan sebagai kedatangan Pyrocene atau Zaman Api. Kebakaran yang memusnahkan 1 miliar satwa tersebut merupakan bencana terburuk dalam sejarah Negeri Kanguru itu.

Pemanasan global mengakibatkan musim kebakaran hutan dengan skala lebih besar, yang sukar diprediksi juga dimitigasi. Kebakaran itu merupakan kilatan gambaran masa depan planet ini jika semakin panas.

Etienne Balibar mengatakan, dibutuhkan suatu gerakan kolektif untuk membentuk ruang politik yang baru. Perubahan topografi politik tersebut dimungkinkan jika terjadi insureksi-insureksi damai yang menyebar di seluruh dunia sebagai bentuk pembangkangan untuk memperjuangkan keadilan iklim.

Kemunculan gerakan-gerakan lokal di seluruh dunia (pawai iklim yang dilakukan anak-anak sekolah di Eropa, gerakan para ekofeminis di Asia, juga gerakan masyarakat adat di Amazon) diikat semangat solidaritas transnasional.

Solidaritas transnasional itu dipersatukan kecemasan terhadap katastrofe lingkungan hidup. Kebencanaan iklim sepatutnya mengubah pandangan kita mengenai ideologi dan kedaulatan.

Bahwa, krisis iklim mendorong kita untuk melihat panorama kehidupan di planet ini secara keseluruhan. Tidak ada jalan pintas atau solusi yang setengah hati demi bumi ini. Perubahan harus terjadi secara radikal.

Balibar mengkritik, ”Kita telah memasuki suatu era katastrofe, lebih mudah untuk membayangkan akhir zaman daripada akhir kapitalisme.” (*)

 Penulis adalah Dosen Filsafat Universitas Indonesia.



Unefa

Pascasarjana
Tags
Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker