Kolom

Algoritma dan Pertanyaan Bahasa di Surga

Oleh; EKO TRIONO

Ketika itu pengisap asap dapur di apartemen kami di Xi’an, Tiongkok, rusak. Saya menelepon, lalu esok pagi pukul sembilan petugas perempuan datang memencet bel. Kemudian, dia berkata panjang lebar seperti dialog tokoh dalam film kungfu Jet Lee dan saya tidak mengerti selain sapaan pertamanya: ni hao. Saya bicara bahasa Inggris kepadanya dan dia menggelengkan kepala.

Ketika Laksamana Cheng Ho dari era Dinasti Ming mampir ke Semarang, sepertinya dia juga mengalami munculnya dinding bahasa seperti itu. Tapi, pengalaman linguis John McWhorter tampaknya lebih sentimentil sekaligus ilmiah.

Pada usia empat tahun McWhorter jatuh cinta kali pertama di kelas piano kepada gadis yang bernama Shirley. Sebagaimana cita rasa cinta pertama, gadis itu terlihat sempurna segalanya, kecuali satu hal.

Selesai pelajaran dan saat bertemu dengan keluarga masing-masing, Shirley berbicara kepada keluarganya dalam bahasa yang aneh bagi McWhorter. Bahasa yang menciptakan luka di hatinya. Dia merasa cinta manisnya terbatas dinding dan tercerabut ke dunia lain yang tidak dia pahami, meski mereka hanya berjarak selangkah dua langkah kaki.

Dia bertanya dalam bahasa Inggris dan seorang dari keluarga Shirley menjawab baru saja bicara bahasa Ibrani. McWhorter bertanya kepada ibunya sendiri mengapa tidak pakai bahasa Ibrani. Ibunya menjawab karena bukan orang Yahudi. Apa harus menjadi Yahudi untuk bisa bicara bahasa Ibrani, tanyanya lagi, dan seterusnya takdirnya sebagai linguis terlihat di usia empat tahun. Dia mempelajari sejumlah bahasa setelah itu dan menegaskan bahwa pada mulanya bahasa adalah satu.

Haruskah saya mempelajari banyak bahasa seperti McWhorter agar perbaikan pengisap asap segera selesai? Atau membawa penerjemah seperti Cheng Ho? Membuat pengisi suara atau teks berjalan seperti di film Jet Lee? Mengingat, tidak semua warga dunia mau dan mampu berbahasa Inggris, yang ditempatkan sebagai salah satu bahasa internasional. Tidak perlu serumit itu ternyata.

Saya mengeluarkan telepon genggam untuk memecahkan batas bahasa. Sebagaimana manusia Neanderthal mengeluarkan kapak genggam untuk memecah tulang rusa. Dan anehnya, dua alat genggam itu sama-sama mengandung unsur silikon dan raksasa digital pun berada di Silicon Valley yang tidak ada tambang silikonnya sama sekali.

Tanpa perlu mengetik. Saya bicara pada aplikasi penerjemah dalam bahasa Indonesia, lalu aplikasi menerjemahkannya dalam bentuk suara dalam bahasa Mandarin seperti robot yang baku. Saya dan petugas perempuan itu sama-sama merasa seperti menyaksikan runtuhnya Tembok Berlin yang terbuat dari batu bata kosakata asing.

Kami serasa memiliki penerjemah pribadi dari kantong ajaib Doraemon. Ada ”dua orang” lain yang muncul dari algoritma aplikasi di iOS sana dan Android sini, mengirimkan isyarat lain tentang pertanyaan bahasa surga.

Pertanyaan kebahasaan itu hanya berada dalam konteks kuliah dulu, saat kami mempelajari linguistik historis komparatif, bukan konteks agama. Bukan soal surga yang ”belum lama manusia terusir darinya”, tetapi surga nanti ”yang akan didatangi” atau masa depan.

Bagaimana jika seseorang dari Kroya masuk surga, lalu mendapat bidadari atau bidadara yang ternyata berasal dari Korea? Soal kecantikan atau ketampanan berterima, tapi soal bahasa?

Kalau ada bahasa persatuan di sana, semacam bahasa Indonesia di sini yang telah menjembatani persatuan cinta seorang kekasih dari bahasa Kaili di Sulawesi dengan pujaan hati dari bahasa Osing di Banyuwangi, misalnya, maka bahasa persatuan itu harus dipelajari lebih dahulu bagi penutur asingnya. Belum lagi akan terjadi persaingan antarumat kini dan terdahulu soal bahasa siapa yang layak menjadi bahasa persatuan di dalam surga nanti.

Jawabannya, secara linguistik-biotek, bukan tidak mungkin sebuah algoritma di mana orang dari Kroya itu boleh bicara bahasa Jawa dialek peng-inyong-an, sementara bidadari atau bidadara dari Korea tersebut mendengarnya dalam bahasa Korea seakan lelaki itu berasal dari Seoul atau perbatasan Pyongyang. Orang boleh bicara bahasa apa pun karena ada keajaiban yang mengubahnya dalam bahasa penerimanya.

Selama ini kedudukan teknis itu dilakukan mandiri oleh individu di dalam peranti otak yang mempelajari bahasa lain atau menggunakan alat dan orang lain sebagai penerjemah secara terbatas. Pada abad itu dan yang akan datang, sebuah peranti canggih bukan mustahil tinggal ditanam di sisi telinga dan secara otomatis akan menerjemahkan bahasa apa yang didengar berdasar koleksi data bahasa di seluruh dunia.

Kita diberi tambahan cip mahir berbahasa tanpa perlu kursus atau menjadi poliglot. Bisa jadi termasuk ”bahasa” para semut, yang sinyalnya sudah banyak ditemukan oleh para ahli, agar manusia nanti bersyukur mencicipi sedikit keajaiban milik Nabi Sulaiman AS ketika suatu hari beliau berjalan melewati Lembah Naml bersama pasukannya.

Namun, kemajuan teknologi kebahasaan seperti itu bukannya tanpa risiko. Ketika menginstal aplikasi penerjemah, baik saya maupun petugas perempuan di gedung apartemen itu pastinya diminta untuk mengisi persetujuan semisal mengizinkan aplikasi menandai suara, mengumpulkan informasi pribadi; mengakses file; melacak lokasi; dan hal-hal lain yang hanya membuat aplikasi bekerja ketika kita menyetujuinya.

Si penerjemah digital itu terlihat ada yang gratisan, tapi sejatinya meminta bayaran yang berupa koleksi data untuk keperluan ”tuhan” di balik awan langit sana; ”awan” iCloud, awan Google, awan Microsoft, awan Alibaba, awan Samsung, awan Xiaomi, awan Huawei, dan awan-awan lain di langit bahasa big data.

Sesuatu yang tidak terjadi ketika Cheng Ho bertemu orang Semarang. Petugas perempuan itu pun selesai, lalu pergi dengan berkata, ”Zai jian,” dan saya mulai tahu bahwa artinya adalah sampai jumpa lagi. (*)

**Novelis, kini tinggal di kompleks Xi’an International Studies University



Pascasarjana

Unefa
Back to top button