Kolom

Menelisik Keberlanjutan Kelompok Usaha Binaan Pendamping Sosial di Pesisir Labuhanbatu

Meski jalan merangkak, namun mereka sudah mulai merasakan manfaat dari kelompok usaha binaan pendamping sosial PKH di Kecamatan Panai Hulu. Memang hasilnya belum banyak, tapi olahan pangan yang mereka produksi setidaknya sudah menambah pendapatan kaum ibu di kawasan pesisir pantai Labuhanbatu tersebut.

NIKO – FaseBerita.ID Asahan

Agustina Nasution (30), adalah salahseorang pendamping sosial Program Keluarga Harahap (PKH) di Kecamatan Panai Hulu.

Selain bertugas sebagai pendamping jalannya program pemerintah pusat tersebut, dia juga cukup gigih dalam menghidupkan kelompok usaha di tanah kelahirannya itu.
Salahsatu yang sudah terbentuk adalah kelompok usaha yang mereka beri nama Sejahtera Harapan Baru atau disingkat SHB.

‘’Kami yakin nama itu juga doa. Maka Sejahtera Harapan Baru adalah gambaran cita-cita kami, yang memiliki harapan baru untuk meraih kesejahteraan,’’ jelas Agustina.

Kelompok usaha yang terbentuk sejak tahun 2017 ini pun kini telah memproduksi berbagai macam olahan pangan atau jajanan khas di daerah itu. Seperti Gulame, Kripik Peyek, Kripik Pisang,

Kripik Ubi, Kue Bawang dan Sagon. Namun karena keterbatasan modal usaha, mereka belum mampu menyewa toko atau tempat usaha yang strategis sebagai sarana penjualan.

Saat ini, mereka hanya mampu membuat sebuah gerobak kecil sebagai tempat berjualan yang berada persis di pinggiran pelabuhan di Dusun Labuhan Desa Tanjung Sarang Elang.

Di gerobak kecil terbuat dari kayu itulah, Agustina dan kelompok usaha dampingannya memajang hasil olahan pangan produksi kelompok usaha mereka.

Agustina menceritakan, sejak terbentuk, kelompok usaha SHB hanya memiliki modal awal ratusan ribu rupiah yang dikumpul dari setiap anggota. Anggotanya pun tak begitu banyak. Dari sekitar 200-san orang Keluarga Penerima Manfaat (KPM) PKH yang ia damping di Desa Tanjung Sarang Elang dan Desa Meranti Paham, hanya sekitar 40 orang yang mau dan memiliki kesadaran untuk meningkatkan taraf hidup dengan membangun kelompok usaha bersama.

Tapi kondisi itu tak membuatnya mundur. Agustina tetap gigih demi tercapainya kesejahteraan masyarakat melalui usaha ekonomi produktif.

‘’Selain kendala modal, kesadaran dan pola pikir masyarakat juga menjadi tantangan terberat. Karena sebagian dari masyarakat ini sudah nyaman dengan kesusahannya. Pola pikir inilah yang pelan-pelan ingin kita rubah,’’ ungkap Agustina.

Lantas, langkah apa yang dilakukan untuk merubah pola pikir masyarakat itu?. Berbagai upaya pun dilakukan Agustina. Kegiatan pertemuan kelompok yang rutin dilakukan menjadi sarana untuk secara perlahan merubah pemikiran masyarakat yang lebih maju.

‘’Jadi selama ini, kami turun langsung mendampingi KPM, kami berikan wawasan layaknya sekolah, ada absen nya,’’ ujarnya.

Tak hanya itu, untuk menambah wawasan masyarakat, Agustina juga tak jarang membawa masyarakat dampingannya itu ke tempat-tempat usaha di daerah lain.

Agustina juga kerap melibatkan masyarakat dampingannya untuk ikut dalam setiap event kegiatan pemerintahan.

‘’Kadang sengaja saya bawa masyarakat itu belajar ke toko-toko roti di Rantauprapat. Mereka juga kita ikutkan jika ada event pameran, MTQ dan lainnya,’’ ungkapnya.

Upaya yang dilakukan Agustina itu sedikit demi sedikit membuahkan hasil. Sebab kini, sebahagian masyarakat dampingannya itu sudah mulai tersadarkan.

Sebagian dari mereka juga sudah mulai paham tentang konsep kelompok usaha bersama yang mereka bangun. Dimana setiap pengurus kelompok, sudah memiliki tanggungjawab masing-masing, baik itu produksi, pemasaran hingga laporan keuangan yang semua tercatat dengan baik.

Alhasil dalam perjalanannya kini, masing-masing anggota kelompok sudah mendapatkan hasil dari kelompok usaha bersama yang mereka perjuangkan.

‘’Memang hasilnya belum banyak, tapi setidaknya sudah sedikit menambah penghasilan mereka,’’ sebutnya.

Menurut Agustina, pencapaian yang mereka dapat saat ini tentu juga tidak terlepas dari dukungan Kepala Desa Tanjung Sarang Elang Ahmad Pauzi, yang kerap membimbing dan memberi masukan.

Namun itu saja tentu tidak cukup, dukungan dari pihak lain, seperti pemerintah daerah tentu sangat mereka harapkan. Sebab katanya, perjuangan peningkatan ekonomi masyarakat melalui kelompok usaha bersama ini masih panjang.

Saat ini, mereka sudah mulai berupaya mengembangkan pemasaran hasil olahan pangan yang mereka produksi, yakni dengan cara melengkapi segala perizinan baik itu dari Dinas Kesehatan dan lainnya.

Tujuannya, tak lain agar hasil olahan pangan produksi mereka dapat diterima dan dipasarkan di minimarket dan toko-toko penjual makanan disejumlah daerah di Kabupaten Labuhanbatu.
‘’Segala sesuatunya masih kita proses, mudah-mudahan semua lancar tanpa hambatan,’’ tandasnya.

Sementara Risdawani (40), salahseorang pengurus kelompok usaha SHB mengatakan kalau kegigihan Agustina dalam melakukan pendampingan terhadap mereka memang patut diapresiasi.
Sebab pendampingan yang dilakukan memberikan efek langsung kepada mereka masyarakat yang berpenghasilan rendah.

‘’Kami sangat terbantu dengan kehadiran beliau, kami terus diarahkan untuk terus menggali ide usaha dan pemasaran. Pokoknya salut untuk ibu Agustina,’’ ucapnya.

Senada dikatakan Nur Asiyah (42), pengurus SHB lainnya. Ibu rumah tangga ini mengakui bukan hanya penghasilan mereka saja yang kian bertambah. Bahkan wawasan mereka pun sudah mulai terbuka.

Nur Asiyah yang dulunya pasrah dengan keadaan, kini mengaku memiliki semangat yang kuat untuk terus berjuang membangun ekonomi produktif demi peningkatan taraf hidup dan terbebas dari belenggu kemiskinan.

Semoga saja, apa yang dicita-citakan Agustina dan kelompok usaha binaannya itu dapat terwujud hingga terciptanya masyarakat yang sejahtera, berdaya dan terampil. Semoga! (*)

Tags

Berita lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker
Close Ads