Historia

Operasi Pembebasan 7 Marinir Belanda

Selasa, 23 Juli 1949 adalah hari yang kelabu bagi Mariniers Brigade (Brigade Marinir Kerajaan Belanda). Satu unit pasukan mereka yang dikirim ke Desa Prambonwetan (masuk dalam wilayah Rengel, Tuban) hancur lebur di sebuah jalan antara Panggulrejo dan Banjararum.

Dalam penghadangan yang dilancarkan oleh para gerilyawan TNI dari Brigade I Ronggolawe dan masyarakat setempat tersebut, 5 orang tewas seketika (termasuk komandan unit Letnan Satu Marinir L.M. Teeken dan seorang informan lokal bernama Teng Tjing Teek).

“Sisanya yang masih hidup, kami tawan…” ungkap J.A. Soetjipto, salah seorang gerilyawan yang terlibat dalam penghadangan itu.

Ada 7 marinir yang berhasil ditawan TNI dalam penghadangan itu. Mereka antara lain: Kopral Marinir F.J. Cordes, Prajurit II Marinir A.W.A. van Revestein, Prajurit II Marinir van Dijk, Prajurit III Marinir Th. De Boer, Prajurit III Marinir J. Podt, Prajurit II Marinir J.G.J. Keetelaar dan Prajurit II Marinir Ben W. Reurling. Bersama mereka, ikut dirampas pula beberapa senjata yang terdiri dari 2 pucuk Browning Automatic Rifle, 4 pucuk Jungle Rifle, 5 pucuk Garrand, 1 pelontar granat, beberapa pistol dan beberapa bayonet.

Setelah semua dilucuti (termasuk seragam dan sepatu mereka), dengan hanya menggunakan sarung yang diberikan penduduk, ketujuh marinir itu lantas digiring ke Prambonwetan.  Di sana dilakukan interogasi seperlunya oleh Letnan Satu Teko Notosubroto (pimpinan sebuah kompi yang menginduk kepada Batalyon ke-16 dari Brigade I Ronggolawe) dan Camat Rengel, Soehardi.

“Demi kemanusiaan, Letnan Teko memberikan kesempatan kepada mereka untuk menulis surat kepada kesatuan dan keluarga mereka masing-masing perihal kondisi mereka terkini,” ujar Soetjipto.

Dalam buku Pengabdian Selama Perang Kemerdekaan Bersama Brigade Ronggolawe (ditulis oleh Panitia Penyusunan Sejarah Brigade Ronggolawe) disebutkan para tawanan itu membuat laporan singkat secara kolektif kepada Wakil Komandan Pos Brigade Marinir Belanda di Rengel yakni Sersan Mayor van Der Lubbe. Diberitakan bahwa mereka bertujuh telah ditawan oleh TNI sedangkan 5 lain-nya telah gugur dalam pertempuran.

“Karena salah seorang dari mereka yakni Kopral Cordes terluka agak parah di kepala akibat terkena serpihan granat, mereka pun meminta dikirimkan obat-obatan yang harus dititipkan lewat para petugas Palang Merah,” tutur Soetjipto.

Letnan Satu Teko sangat sadar bahwa penawanan itu akan menimbulkan kemarahan di kubu militer Belanda. Dia sudah memperkirakan bahwa pihak Brigade Marinir pasti tak akan diam saja dan akan meluncurkan satu tim pencari. Karena itu, ketika akan pergi dari Prambonwetan, diam-diam dia menyebarkan “informasi penyesatan” ke kalangan penduduk desa tersebut bahwa ketujuh tawanan itu akan dibawanya ke Parengan.

Tak lupa Letnan Satu Teko dan Camat Soehardi juga memerintahkan agar penduduk Prambonwetan mengungsi malam itu juga ke wilayah-wilayah aman di seberang Sungai Bengawan Solo. Dia memperkirakan bahwa paling lambat besok hari  militer Belanda akan melancarkan operasi pembersihan besar-besaran terhadap Prambonwetan dan desa sekitarnya.

“Apa yang diperkirakan Letnan Teko memang terjadi, besoknya Prambonwetan dibombardir dengan tembakan-tembakan artileri dan pengerahan pasukan darat  yang menyebabkan puluhan rakyat meninggal dan luka-luka serta puluhan rumah hancur,” kenang Soetjipto, yang dilahirkan di Prambonwetan 84 tahun lalu.

Rumor sesat yang disebarkan Letnan Satu Teko ternyata dimakan oleh mata-mata militer Belanda di Prambonwetan. Terbukti pada Kamis, 25 Juli 1949, Brigade Marinir mengirimkan satu unit pemburu ke Desa Parengan. Unit khusus itu dipimpin oleh seorang perwira marinir berpengalaman. Namanya Letnan Satu H.H.W. Huhnholz.

Mereka tentu saja kecele karena alih-alih bergerak menuju Parengan, Teko justru menyebarkan para tawanan ke dua tempat yang berlawanan dengan Parengan: Jatirogo dan Temayang. Jadi ketika Huhnholz dan pasukannya mengobrak-abrik Parengan, mereka sama sekali tak menemukan Teko dan para tawanan tersebut di desa itu.

“Belakangan saat bertemu muka dengan saya, Huhnholz menyatakan sangat marah dan kesal saat sadar dirinya kena tipu,” ungkap Kolonel (purn) Teko Notosubroto kepada Tim Penyusun Sejarah Brigade Ronggolawe.

Setelah tertipu oleh desas-desus palsu dari Teko, pasukan yang dipimpin oleh Huhnholz melakukan gerakan ke arah utara Bojonegoro. Sabtu pagi 27 Juli 1949, mereka sudah berada di Desa Ponco. Begitu melewati Jembatan Ngragas yang rusak akibat sabotase, Huhnholz mendahului pasukannya. Maksud hati ingin menyusul peleton bantuan dari Bojonegoro yang dipimpin oleh Sersan Mayor van Langen. Mereka tak sadar di atas Jembatan Ngragas, Regu Sersan Sidiq dan Regu Sersan Masram (bagian dari Kompi Teko) tengah mengincar.

Tepat di tengah jembatan, tetiba mereka dihujani tembakan dari atas tebing-tebing yang berada di sekitar jembatan tersebut. Panik melanda iring-iringan para prajurit marinir Belanda. Terlebih ketika bagian peleton van Langen yang diikuti Huhnholz terputus karena pergerakan yang terlalu cepat. Dua regu berupaya mendekati komandan mereka yang sudah bergerak jauh di depan. Sedangkan regu lainnya yang ikut menyusul melakukan gerakan meloncat ke samping.

Karena medan tidak sangat menguntungkan dan sangat riskan bila terus bertahan, maka akhirnya melalui Sungai Kening, mereka memutuskan balik kembali ke arah Ngragas. Pertempuran terus berlangsung dengan seru. Pasukan marinir ada dalam kondisi kritis karena terus dihantam dari ketinggian.

“Saat itulah saya sadar peluru Jungle Rifle saya tinggal beberapa butir lagi,” cerita Huhnholz kepada Teko.

Dalam kondisi kritis seperti itu, mata Huhnholz tetiba menangkap  sepucuk pelontar granat tergeletak begitu saja di rerumputan. Rupanya itu adalah milik seorang anak buah van Langen yang kena tembak dan terkapar tak jauh dari senjata tersebut. Huhnholz lantas mengambilalih pelontar granat itu lalu mengarahkannya ke kubu musuh di atas sana.

Mendapatkan tembakan dasyat dari bawah, Sidiq mengira itu tembakan mortir dari pasukan bantuan. Sadar jika tidak cepat bergerak mereka akan tertingkar, Sidiq lantas memerintahkan pasukannya mundur. Selamatlah pasukan marinir yang dipimpin oleh Huhnholz dan van Langen.

Ketujuh tawanan sendiri sudah tersimpan aman: 3 tawanan di Jatirogo dan 4 lainnya di Temayang. Mereka diperlakukan secara manusiawi.

“Atas perintah Komandan Brigade I Ronggolawe Letnan Kolonel Soedirman, para tawanan itu diberikan pelayanan kesehatan secara khusus oleh seorang dokter tentara,” ujar Letnan Jenderal (Purn) Rukmito Hendradiningrat, eks  Kepala Staf Brigade I Ronggolawe dalam Bunga Rampai Perjuangan dan Pengorbanan Jilid II.

Saat diwawancarai oleh peneliti sejarah dari Histori Bersama Marjolein van Pagee, Ben W.Reurling (salah seorang eks tawanan yang masih hidup hingga kini) menyatakan sangat menghormati sikap pasukan TNI yang menawannya. Mereka bukan saja memperhatikan kesehatan Reurling dan kawan-kawannya namun juga berupaya mencari roti, keju dan susu untuk makanan mereka, kendati kala itu cukup sulit untuk mendapatkan barang-barang tersebut di wilayah Republik.

“Kami diperlakukan secara baik sesuai kondisi kala itu. Sayang sekali, saat itu kita harus saling berhadapan karena mereka memiliki cita-cita sendiri yang harus kami cegah. Sedangkan cita-cita pihak Belanda sendiri saat itu tidak begitu baik,” ujar Reurling.

Meskipun diperlakukan secara manusiawi, tetapi karena minimnya obat-obatan dan alat-alat medis, Kopral Cordes harus meninggal karena luka-luka di kepalanya. Menurut dokter Abdul Murad Husin yang merawat Cordes, sang kopral terpaksa harus menghembuskan nafasnya yang terakhir di Jatirogo karena mengalami infeksi akut dan malaria yang sudah begitu parah.

Hingga terjadinya gencatan senjata pada 10 Agustus 1949, ketujuh marinir Belanda itu tak jua bisa dilacak keberadaannya oleh induk pasukan mereka. Mereka baru dikembalikan kepada pihak Belanda pada awal Oktober 1949.

Tiga bulan bersama gerilyawan Republik cukup membuat para marinir itu paham mengapa kaum Republik mengangkat senjata untuk melawan kembalinya Belanda ke Indonesia. Dalam sepucuk surat yang ditujukan kepada orangtua-nya, Reurling malah menyebut bahwa sudah seharusnya Belanda tidak mencegah orang-orang Indonesia untuk merdeka.

“Sayang surat-surat itu tak pernah sampai ke tangan orangtuanya di Belanda. Mungkin pihak Brigade Marinir di Surabaya melakukan sensor terhadap surat Reurling yang dinilai terlalu positif menggambarkan keinginan orang-orang Indonesia,” ungkap Marjolein.

Masih untung suatu hari Marjolein menemukan dokumen-dokumen surat itu di sebuah lembaga arsip militer Belanda dan memberikannya kepada Reurling. (historia)

Tags

Berita lainnya

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker
Close